Terlahir berbeda atau memiliki keterbatasan jelas jadi tantangan tersendiri. Tak hanya harus berjuang lebih keras dari orang biasa tapi juga harus kuat menerima berbagai macam cibiran atau ejekan dari orang lain. Bahkan yang lebih parah adalah ketika direndahkan oleh orang lain. Ah, rasanya ingin menyerah saja dalam hidup ini. Tapi tidak bagi Srikanth Bolla.
Srikanth terlahir sebagai tuna netra. Waktu kecil, sejumlah teman, tetangga, dan kerabat keluarganya sempat menyuruh orang tua Srikanth untuk menyerah saja. Srinkanth dianggap tak punya harapan hidup. Apalagi ia terlahir dari keluarga miskin dan tak berpendidikan. Pendapatan orang tuanya saja hanya 300 dolar atau sekitar 4 juta rupiah per tahun. Jelas kalau dipikir-pikir uang segitu tak cukup untuk membiayai semua kebutuhan hidup apalagi membesarkan Srinkath yang berbeda dari anak kebanyakan. Namun, orang tua Srikanth bersikukuh untuk tetap membesarkan putranya tersebut semampu mereka.
1. Orang Tua Srikanth Berusaha yang Terbaik untuk Membesarkan Putranya Tersebut
Meski mendapat cibiran dan bujukan untuk mengabaikan Srikanth, orang tua Srikanth tetap berusaha untuk membesarkan putranya sebaik mungkin. Bahkan mereka selalu berusaha untuk menciptakan lingkungan yang positif untuk Srikanth. Walaupun secara ekonomi mereka kekurangan tapi untuk urusan kasih sayang mereka sangat kaya.
2. Dulu Sering Dikucilkan Saat di Sekolah
Di sekolah, Srikanth sering dikucilkan. Ia sempat ditolak bersekolah di desanya. Sampai akhirnya dipindahkan ke sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus tempat ia akhirnya bersinar di bidang akademik juga memiliki hobi bermain catur dan kriket. Meski sekolahnya tak selalu berjalan mulus, ia beruntung memiliki seorang guru yang mengubah semua mata pelajaran dalam bentuk audio sehingga bisa dipelajari dengan mudah oleh Srikanth. Ia sering mendapat bangku terakhir dan tak diikutsertakan dalam kegiatan olahraga atau diajak bermain. Meski begitu, Srikanth membuktikan dirinya istimewa dengan selalu mendapat ranking di kelasnya.
Ujian tak berhenti di situ saja. Ketika ia berniat untuk masuk jurusan teknik di universitas terkemuka, Indian Institute of Technology, ia ditolak. Perlakuan tak adil yang diterima Srikanth itu jelas membuatnya marah, “Kalau IIT tak menginginkanku maka aku juga tak menginginkan IIT.”
3. Diterima di 4 Universitas Top di Amerika
Penolakan yang ia dapat dari Indian Institute of Technology tak dengan serta merta menghilangkan semangatnya. Srikanth akhirnya memutuskan untuk mendaftar di sejumlah univeristas di Amerika. Tak disangka ia diterima di empat universitas top, yaitu Massachusetts Institute of Technology (MIT), Stanford, Berkeley, dan Carnegie Mellon. Akhirnya ia memutuskan untuk kuliah di MIT dan menjadi mahasiswa internasional tuna netra pertama di sana. Srikanth lulus dari MIT tahun 2012. Tak lama kemudian, dia kembali ke India dan membangun perusahaan sendiri.
4. Mendirikan Perusahaan yang Mempekerjakan Orang-Orang Difabel
Salah satu tantangan yang dihadapi oleh orang-orang difabel atau berkebutuhan khusus adalah lapangan pekerjaan. Srikanth akhirnya mengambil langkah besar dalam hal ini. Tahun 2012 itu juga, Srikanth mendirikan Bollant Industries Pvt. Ltd., dengan tujuan untuk menyediakan lapangan pekerjaan bagi orang-orang dengan keterbatasan fisik. Perusahaan ini memproduksi produk-produk ramah lingkungan seperti piring dari daun pinang, cangkir, nampan, alat makan, dan sendok, cangkir, dan piring sekali pakai. Perusahaan ini juga memproduksi bahan perekat dan tinta untuk keperluan percetakan.
5. Perusahaannya Kini Bernilai Sekitar 98 Miliar Rupiah
Srikanth kini sudah menjadi CEO perusahaan yang bernilai 7,5 juta dolar atau sekitar 98 miliar rupiah. Perjuangannya akhirnya berbuah manis. Dan ada nilai-nilai yang selalu ia pegang hingga sampai mengantarnya mencapai puncak kesuksesan menjadi CEO di usia yang relatif muda, yaitu 23 tahun.