Setelah tragedi 1965 mengguncang Indonesia, sosok Soekarno seakan hilang ditelan bumi. Sang proklamator Indonesia seolah digambarkan tak berdaya melawan gerakan yang hendak menjatuhkannya. Di tengah pembantaian massal yang berlangsung di seluruh penjuru tanah air, pada 11 Maret 1966 dikeluarkan sebuah surat perintah yang biasa disingkat Supersemar atau Surat Perintah Sebelas Maret.
Dalam surat tersebut, yang hingga kini masih diteliti keasliannya, Soekarno menginstruksikan kepada Soeharto, selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib), untuk segera mengambil tindakan atas situasi keamanan yang buruk kala itu. Namun setelah proses pengalihan kekuasaan itu berlangsung, apa yang kemudian terjadi pada Soekarno? Nah, berikut adalah beberapa fakta mencengangkan tentang kondisi Soekarno di bawah kekuasaan Orde Baru, yang berhasil kami rangkum dari buku karangan Dr. Baskara T. Wardaya SJ., dengan judul Menguak Misteri Kekuasaan Soeharto.
Setelah menandatangani Supersemar, Soekarno mulai diasingkan dari bangsa dan keluarganya sendiri. Kabar tentang kondisi kesehatannya yang memburuk bahkan tak terekspos sama sekali. Saat itu, para wartawan tidak berani memberitakannya ke publik, sehingga tak banyak yang tahu mengenai keadaan Bung Karno. Pada suatu waktu, Soekarno yang mengalami sakit gigi, meminta bantuan drg Oei Hong Kian untuk datang ke Istana Negara dan mengobatinya.
Sayangnya, peralatan gigi yang ada di Istana Negara waktu itu sudah usang, sehingga akhirnya drg Oei menyarankan kepada Soekarno untuk datang ke tempat praktiknya. Tapi, saran tersebut urung dilakukan karena pengamanan terhadap mantan presiden RI. Karena kasihan melihat kondisi Soekarno, drg Oei pun akhirnya mengalah. Dia membawa semua peralatan giginya ke Istana, lalu dipasang di sana saat merawat Bung Karno. Setelah itu, peralatan itu dibawa kembali ke rumahnya. Hal itu terus-menerus dilakukannya karena kondisi Soekarno rupanya membutuhkan perawatan intensif.
Selama memberikan pengobatan gigi itu, rupanya drg Oei tidak pernah dibayar, baik itu oleh Soekarno (yang sudah tak punya uang sepeser pun) atau bahkan oleh pemerintah. Dia sepenuhnya ikhlas melakukan itu demi rasa kemanusiaannya. Kemudian pada Maret 1968, drg Oei yang memutuskan untuk menetap di Belanda sudah menyiapkan cor emas untuk gigi Bung Karno. Sayangnya, rencana baik itu kembali batal dilaksanakan karena pengamanan terhadap pasiennya telah ditingkatkan.
Terasing dari dunia luar dan dipisahkan dari orang-orang yang mencintainya, kondisi kesehatan Sang Putra Fajar terus menurun. Mengetahui hal itu, Rachmawati mengirim surat kepada Soeharto untuk memindahkan ayahnya kembali ke Jakarta. Setelah itu, Soekarno pun dipindahkan lagi ke Jakarta dan berdiam di Wisma Yaso (sekarang Museum Satria Mandala).
Fakta mencengangkan lainnya yang ditemukan oleh dr Kartono adalah Bung Karno rupanya hanya ditangani oleh seorang dokter umum bernama dr Sularjo. Soekarno tentunya membutuhkan penanganan khusus yang harus dilakukan oleh seorang dokter spesialis untuk mengobati penyakitnya. Ironisnya lagi, ketika kondisi presiden pertama RI itu sudah kritis, obat yang diresepkan dr Kartono untuk Soekarno ternyata hanya disimpan di dalam laci oleh seorang dokter yang merawatnya.
Tragedi 1965 tidak hanya menjatuhkan kekuasaan Orde Lama, namun juga memporak-morandakan kehidupan Soekarno. Betapa tidak, setelah Supersemar dikeluarkan, hidup sang penyambung lidah rakyat itu dibuat “mati segan hidup tak mau”. Soekarno yang telah diasingkan dari bangsa dan keluarganya sendiri harus hidup dalam kesepian yang menyiksa.
Dr Kartono Mohamad yang menerima catatan medis Soekarno dari hasil observasi perawat di Wisma Yaso, mendapati kalau presiden pertama RI itu hanya diberi vitamin saat sakit. Dalam catatan itu, dr Kartono juga tidak menemukan obat penurun tekanan darah, meski ketika itu tekanan darah Bung Karno relatif tinggi. Pun, dia tidak menemukan obat pelancar kencing yang biasanya diberikan ketika terjadi pembengkakan. Ya, Soekarno memang benar-benar telah ditelantarkan.
Setelah Soeharto diangkat sebagai Pejabat Presiden, Soekarno pun “dipaksa” keluar dari Istana Merdeka dan dipindahkan ke Bogor. Namun, Bung Karno tidak ditempatkan di Istana Bogor, melainkan di sebuah kediaman pribadi yang berada di Jalan Batu Tulis, Bogor, yang biasa disebut Hing Puri Bima Sakti. Di rumah itu, Soekarno tetap dijaga ketat dan tidak diizinkan untuk berinteraksi dengan dunia luar.
Karena terasing dari bangsa dan keluarga yang sangat dia cintai, kondisi kesehatan Soekarno kala itu terus menurun. Rasa kesepian rupanya telah membuat sang penyambung lidah rakyat merasa sangat terpukul. Ditambah lagi, Soekarno terus dicecar berbagai pertanyaan, yang terus diulang-ulang perihal hubungannya dengan PKI dan juga sepak terjang partai beraliran komunis itu.
Mendengar perkataan Bung Karno yang sangat menyayat hati itu, Soeharto akhirnya menurunkan perintah untuk tak lagi menginterogasi Sang Putra Fajar. Meski begitu, Soekarno tetap diasingkan di Wisma Yaso hingga akhir hayatnya.
Kondisi Soekarno yang sebelumnya memang sudah sakit, semakin memburuk ketika berada di bawah tekanan Orde Baru. Sebab, setelah Supersemar ditandatangani, Bung Karno tak lagi diizinkan untuk menyapa dunia luar. Pengamanan atas dirinya semakin diperketat dan Bung Karno juga dibatasi bertemu siapa pun, tak terkecuali keluarganya sendiri.
Dalam masa “pengasingan” itu, Soekarno merasa sangat kesepian. Oleh karenanya, ketika dia menjalani perawatan gigi di rumah drg Oei, Soekarno sempat meminta dokter itu untuk menjadikan rumahnya sebagai tempat pertemuannya dengan anak-anaknya. Meski perjumpaan itu hanya berlangsung singkat, Soekarno merasa cukup senang.
Ditemukan juga sebuah surat dari Pangdam Siliwangi Mayjen HR Dharsono yang melarang warga Jawa Barat untuk mengunjungi dan dikunjungi Soekarno. Di samping itu, ditemukan pula sebuah surat dari Pangdam Jaya Amir Machmud yang menetapkan bahwa seluruh dokter yang hendak mengunjungi Soekarno harus sepengetahuan dan didampingi oleh Dr Kapten Suroyo.
Inilah lima fakta mirisnya hidup Sang Putra Fajar di bawah kekuasaan Orde Baru. Perlu diingat bahwa tujuan dari menguak sejarah bukanlah untuk mengorek luka lama, melainkan belajar dari lembaran-lembaran (baik itu hitam atau pun putih) yang terjadi selama periode itu. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang tak takut pada sejarahnya sendiri?
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…