Jika dibandingkan dengan negara-negara berkembang dan maju lainnya, kualitas pendidikan di Indonesia sepertinya masih kalah dan tertinggal. Oleh karenanya, tidak heran banyak orang berduit yang lebih rela untuk menempuh pendidikan lanjutan di negara lain.
Baca Juga :5 Prestasi dan Kehebatan Indonesia yang Kini Semakin Memudar
Kurangnya kualitas pendidikan Indonesia bukan menjadi satu tanggung jawab satu pihak saja, yaitu badan pendidikan atau guru, melainkan berbagai pihak, mulai dari orang tua sampai dengan pemerintah. Untuk melihat perbedaan antara sistem, kualitas dan segala hal terkait pendidikan di Indonesia, maka tidak ada salahnya untuk membandingkan dengan di luar negeri, sebagai parameter.
Usia balita dan kanak-kanak adalah masa yang paling menyenangkan bagi seorang anak, karena di waktu itu mereka dapat belajar banyak hal sembari bermain. Namun di Indonesia, pengenalan pendidikan sejak dini sudah mulai diterapkan. Bahkan ada yang masih dalam masa balita, seperti memasukkannya ke playgroup dan Taman Kanak-kanak sampai dengan pemberian kursus privat.
Bagaimana dengan di luar negeri? Salah satu contohnya di Finlandia, seorang anak dapat mulai masuk ke jenjang pendidikan dasar ketika mereka sudah berusia 7 tahun. Sebelum itu, maka mereka dapat mengeksplorasi apa yang mereka inginkan, salah satunya adalah bermain.
Mungkin di seluruh negara di luar negeri tidak mengenal sistem pembagian kelas yang berisikan anak-anak pintar saja atau disebut kelas unggulan dan kelas yang berisikan siswa atau mahasiswa biasa dengan grade standar. Rata-rata semua orang akan dikumpulkan dalam satu kelas yang hanya dibedakan berdasarkan jumlahnya saja. Seperti kelas 1A, 1B dan seterusnya. Sedangkan di Indonesia ada pembagian kelas unggulan dan non-unggulan yang justru secara tidak langsung dapat menciptakan gap atau tembok pembatas antara siswa pintar dan yang biasa.
Di luar negeri, jam belajar untuk hal-hal yang berbau teori sangat terbatas dan selebihnya akan diisi dengan professional development dan praktik. Hal ini sejalan seperti yang pernah dikatakan oleh mantan Ketua PAN, Amin Raiz, yang menjelaskan bahwa Indonesia masih menganut sistem spoon feeding, sehingga guru akan menjadi sumber satu-satunya.
Tentunya hampir semua orang di Indonesia pernah mengalami MOS atau Masa Orientasi Sekolah atau OSPEK atau Orientasi Pengenalan Kampus. Walaupun sudah banyak kasus dan pernah diwacanakan untuk dilarang diberlakukan di semua sekolah atau universitas di Indonesia, namun kegiatan ini kerap saja dilakukan.
Akan tetapi ditilik dari sisi fungsinya yang benar-benar berguna, apakah ada manfaat dari MOS dan OSPEK tersebut? Bahkan para orang tua juga kerap khawatir ketika anak-anak mereka akan berangkat mengikuti kegiatan tersebut.
Jika di Indonesia orientasi pengenalannya seperti itu, di luar negeri, salah satu contohnya di Amerika Serikat justru dilakukan dengan cara yang lebih positif. Para siswa atau mahasiswa baru akan diajak berkeliling dan mengikuti beberapa seminar juga kajian agar mereka lebih mengenal sekolah dan kampusnya. Tidak hanya pengenalan kampus dan sekolah saja, ada pula pemberian informasi terkait segala hal yang diberikan.
Memang segala macam ujian akan dinilai dengan hasil akhir sebagai resultnya. Hal ini diterapkan di semua jenjang pendidikan di Indonesia. Bahkan sampai ada standarisasi khusus yang banyak membuat para siswa pada khususnya stres dan depresi karena harus mencapai nilai minimal setara standarisasi sesuai dengan yang ditentukan pemerintah.
Di kebanyakan jenjang pendidikan di luar negeri, contohnya saja di Australia, hasil akhir bukanlah segala-galanya. Semua pendidik akan lebih menitikberatkan pada sektor prosesnya daripada hasil akhir. Jika dalam prosesnya saja berantakan, maka dapat diketahui bahwa hasil akhirnya juga amburadul.
Baca Juga :Ini Alasan Mengapa Sistem Pendidikan Finlandia Menjadi yang Terbaik di Dunia
Walaupun ada beberapa poin yang menjadikan sistem dan kualitas pendidikan di Indonesia tertinggal dari banyak negara-negara di dunia, namun bukan berarti tidak ada yang dibanggakan dengan belajar di Tanah Air. Contohnya Anda tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk biaya belajar dan lain sebagainya. Tentunya semua akan menjadi satu pekerjaan rumah bagi siapa saja agar dapat mewujudkan sistem dan kualitas pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik lagi dan dapat bersaing dengan negara luar, serta dibutuhkan dukungan serta perhatian dari berbagai pihak untuk hal tersebut.
Belakangan ini, dunia perfilman Indonesia dihebohkan oleh pengangkatan Ifan Seventeen sebagai Direktur Utama PT Produksi…
Lagu ‘Garam dan Madu’ yang dibawakan oleh Tenxi, Jemsii, dan Naykilla menjadi fenomena musik yang…
“Ubur-ubur ikan lele. Kasus korupsi Pertamina nyembur, se-Indonesia heboh, le!” Heran melihat tiba-tiba banyak SPBU…
Kurma jadi salah satu makanan yang identik dengan bulan Ramadan. Setiap bulan suci ini datang,…
Komedian Nunung kembali menjadi sorotan setelah mengungkap perjuangannya melawan penyakit yang mengharuskannya menjalani pengobatan tanpa…
Band punk asal Purbalingga, Sukatani, menjadi sorotan setelah mengumumkan penarikan lagu mereka yang berjudul "Bayar…