Miris, pastinya menjadi kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan negara kita sekarang. Setelah ledakan beberapa hari lalu di Surabaya, banyak penduduk Indonesia terguncang jiwa dan pikirannya. Kondisi tersebut berdampak kepada munculnya prasangka-prasangka buruk terhadap sesama. Apalagi untuk mereka yang berdandan alan orang Asia Timur rasa curiga muncul begitu besar.
Dalam kasus ini pastinya sulit untuk menyebutkan siapa yang salah. Namun, yang pasti hal tersebut menunjukkan kepada kita apabila para teroris itu telah sukses melakukan aksinya yakni meneror. Meski tidak timbulkan korban jiwa dalam kasus tersebut, tapi beberapa kali salah tangkap menjadi suatu keadaan yang memilukan. Dan menggambarkan bahwa Indonesia dewasa bukan tempat yang aman untuk semua orang. Seperti inilah kisah pilu itu terekam oleh boombastis.
Arifin warga Malang yang harus ditangkap densus 88
Perempuan bercadar harus mendapatkan penolakan di Terminal
https://www.youtube.com/watch?v=7HEB2bf0YNM
Seperti kasus bapak Arifin tadi, seorang wanita bercadar di terminal Tulungagung juga alami dampak besar akan ledakan bom akhir-akhir ini. Dilansir laman, Republik dirinya harus rela diturunkan oleh petugas Dishub dari bus yang ditumpanginya. Usat punya usut, alasan penurun tersebut disebabkan oleh gerak-gerik wanita bercadar itu yang mencurigakan. Bahkan menurut, Kabag Humas Polres Tulungagung gadis 14 tahun juga membuat was-was penumpang bus. Kondisi seperti ini menjadi kewajaran yang amatlah memilukan, lantaran mereka yang mencoba untuk menjalankan syariat Islam harus dipandang sebelah mata. Besar harapan apabila ke depan stigma negatif itu bisa hilang.
Pria memakai peci sarung dan bawa kardus di ringkus di Semarang
https://www.youtube.com/watch?v=udIWwN8y9fM
Kasus nahas saat menaiki angkutan umum di tanah air juga menimpa santri di Simpang Lima Semarang. Saat itu hendak kembali ke tempat belajar agama, dirinya harus diberhentikan lantaran dicurigai membawa sebuah bom. Pemuda memakai sarung peci itu, sampai harus mengeluarkan semua isi barang di kardus yang dibawanya. Dilansir laman Kumparan, tindakan Polda Jateng tersebut merupakan bentuk peningkatan kewaspadaan terhadap aksi teror. Namun setelah mengeluarkan isi di dalam kardusnya tidak ada satupun barang yang bisa meledak atau mirip dengan bom. Malahan yang ada keperluan-keperluan penunjang kehidupannya di pesantren.
Kardus bekas di kantor Gubernur Bali sukses membuat heboh
Beberapa kisah ini menunjukkan kepada kita apabila selain jatuhnya korban, aksi teror juga bertujuan ciptakan suatu keadaan yang tidak kondusif. Apabila hal ini berlanjut efek lain serangan di Surabaya itu juga dapat memecah belah bangsa. Bahkan bisa juga merusak kerukunan amat beragam yang selama ini selalu kita jaga. Dan sikap waspada harus diimbangi dengan pikiran yang jernih.