in

Gagal ke Piala Asia, Inilah 4 Pelajaran Berharga Bisa Dipetik dari Kekalahan Timnas U-23

Baru-baru ini hal tidak mengenakan tengah menerjang para pecinta sepak bola nasional, terkhusus untuk mereka yang menyukai Timnas junior. Pasalnya, pada Minggu (24/03/19), Garuda Muda harus rela mengubur dalam-dalam tampil di Piala Asia 2020. Sekaligus, sedikit memperpanjang rekor buruk Indra Sjafri pasca mempersembahkan sebuah gelar juara. Indonesia sendiri sebetulnya tampil di ajang kualifikasi tersebut bukanlah dengan skuad biasa-biasa saja.

Tambahan Egy Maulana dan Saddil Ramdani bisa dikatakan membuat tim tersebut tambah hebat lagi. Namun, layaknya pepatah ‘untung tidak dapat diraih, malang tak dapat ditolak’, dua kekalahan beruntun, membuat anak asuh Indra Sjafri hanya akan berlomba dengan Brunei untuk terhindar dari posisi dasar klasemen. Meski pedih, tapi ada beberapa pelajaran lho bisa dipetik dari hasil nestapa tersebut. Apakah itu? Simak analisis crew Boombastis berikut ini untuk mengetahuinya.

Euforia berlebih bisa memakan sebuah kejayaan

Bukan sebuah rahasia lagi, kalau hal ini banyak menjadi dalil di balik kegagalan Timnas. Yaa, seperti kita ketahui pasca mereka meraih gelar juara AFF U-22, euforia besar langsung menyambut mereka. Mulai dari diarak sampai dibawa ke acara ini itu. Pokoknya layaknya seperti sudah memenangkan Piala Dunia. Kendati apresiasi itu adalah hal perlu, tapi kalau berlebihan jatuhnya bisa menjadi racin yang siap memakan sebuah kejayaan.

Timnas diundang ke acara Tivi [Sumber Gambar]
Pasalnya, secara psikologis membuat mereka merasa diatas atau jumawa. Tidak itu saja, euforia kala itu juga sangatlah memangkas waktu persiapan dan istirahat pemain. Dampaknya jelas berpengaruh dari segi permainan yang terlihat minim variasi. Meski ketika diwawancarai awak media Indra Sjafri,  no coment terkait hal itu, tapi bila dirasakan lagi kondisi itu sedikit ada pada di diri mereka.

Selain kemampuan bakat, taktik juga sangatlah peting

Tidak berhenti di hal pertama tadi saja. Bila kalian melihat dua laga yang mengubur mimpi Timnas, variasi taktik untuk merubah keadaan bisa dikatakan sangatlah minim. Di mana, anak asuh Indra Sjafri selalu kesulitan lepas dari sebuah taktik lawan. Meski pada laga ke dua kontra Vietnam pertahanan mereka bagus, tapi lagi-lagi gagal memasuki bola ke gawang lawan.

Egy Maulana Vikri berduel dengan lawan [Sumber Gambar]
Itu, kan sama halnya jika Garuda Muda lagi-lagi kurang adaptif dengan taktik lawan. Hal yang sebetulnya sangatlah diperlukan di sebuah kejuaraan punya sistem turnamen. Berangkat dari hal ini, tentunya kita bisa artikan bersama kalau selain bakat dan skill, taktik adalah hal peting di sepak bola. Ingat, Belanda tentu tidak bisa menjajah bangsa ini jika tidak menggunakan siasat.

Indonesia semakin tertinggal dari Asia Tenggara

Selain kedua hal tadi, pelajaran yang bisa petik dari hasil minor ini adalah sedikit gambaran kalau sepak bola Indonesia semakin tertinggal dari ‘penguasa’ Asia Tenggara macam Vietnam dan Thailand. Bahkan bila dilihat peringkat FIFA, Indonesia berada jauh dibelakang kedua negara ini.

Timnas Thailand [Sumber Gambar]
Kondisi sebetulnya terlihat aneh. Pasalnya , seperti kita ketahui berbicara masalah potensi kita jauh dari mereka. Euforia, kompetisinya pun juga ramai negara kita. Ada apakah ini? Tentu tidak perlu dikasih tahu kalian juga sudah mengetahui jawabnya. Tapi terlepas dari itu, hal ini adalah sebuah alarm bahaya untuk sepak bola kita agar jauh lebih berbenah. Kalau tidak, tak hanya kedua negara tadi saja meninggalkan kita. Tapi, Filipina, Malaysia, dan Myanmar bisa di atas kita.

Kegagalan jadi bukti, kebobrokan Federasi dampaknya luas

Memetik hikmah dari apa yang dirasakan Egy Maulan Vikri dan kawan-kawan, agaknya kurang lengkap bila tidak meneropong juga hal ini. Walaupun laman sosial media PSSI selalu peduli dan penuh semangat sebelum Tim Merah Putih berlaga, tapi dukungan itu jauh dari kata cukup. Maksudnya, sebuah prestasi butuh dari sekedar senyum-senyum manis federasi.

Kantor PSSI digeledah Satgas Antimafia Bola [Sumber Gambar]
Ada banyak hal-hal kompleks sangat perlu diperbaiki. Kita ambil contoh Vietnam, sebelum seperti sekarang federasi mereka juga sangat bobrok (pengaturan skor, dll), dampaknya tentu banyak kegagalan diterima. Tapi pasca reformasi besar-besar dan perubahan beberapa aspek, hasilnya banyak hal dulunya mustahil kini sangat dekat dengan mereka.

Lalu juga ada Jerman sebelum raih gelar Piala Dunia 2014, mereka merombak sistem sepak bola dari tingkat paling bawah. Dari kedua hal ini, pastinya bobroknya federasi punya dampak yang luas. Lantas bagaimana dong? Sekali lagi, tidak perlu dijelaskan seharusnya bisa mengetahui jawabannya.

BACA JUGA: Diguyur Uang Melimpah, Ini Lho 4 Hal Edan Bisa Didapatkan dengan Total Bonus Timnas U-22

Berkaca dari hasil ajang kualifikasi tersebut tentu sangatlah menyedihkan. Apalagi capaian tersebut diraih ketika Timnas sudah berada di jalur bagus usai meraih gelar juara AFF. Besar harapan kekalahan ini bisa jadikan pelajaran dan meningkatkan kesadaran, kalau sebuah prestasi tidak akan diraih secara instan. Ingat Thailand dan Vietnam memulainya dengan reformasi besar-besaran.

Written by Galih

Galih R Prasetyo,Lahir di Kediri, Anak pertama dari dua bersaudara. Bergabung dengan Boombastis.com pada tahun 2017,Merupakan salah satu Penulis Konten di sana. Lulusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri Malang. Awalnya ingin menjadi pemain Sepak Bola tapi waktu dan ruang justru mengantarkan Ke Profesinya sekarang. Mencintai sepak
bola dan semua isinya. Tukang analisis Receh dari pergolakan masyarakat Indonesia.

Leave a Reply

Lokal Rasa Internasional, Begini Potret Pelatihan Jaringan ala CISCO di STIMATA Malang

Heboh Tangga Lipat Berjalan Sendiri di Rumah Sakit, Kok Bisa Begitu Ya?