in

Miris, Pegawai KPI Jadi Korban Bully dan Pelecehan Selama 9 Tahun Baru Diusut Setelah Viral

Baru-baru ini, jagad maya kembali digegerkan dengan adanya kasus bullying dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh pegawai KPI. Korban diketahui sudah menemui jalan buntu hingga tak tau lagi harus melakukan apa untuk melindungi diri, hingga akhirnya hanya bisa menulis surat terbuka. Surat yang ditulis tersebut seketika viral, berkali-kali dibagikan, dibaca oleh netizen satu Indonesia, bahkan ditayangkan di berita televisi swasta.

Viralnya berita tersebut pun membuat Komisioner KPI langsung membentuk tim investigasi internal untuk menyelidiki kasus perundungan dan juga pelecehan yang dialami oleh korban. Komisioner KPI Nuning Rodiyah juga mendampingi korban dengan inisial MS untuk membuat laporan ke Polres Metro Jakarta Pusat pada hari Rabu (01/09/2021). Lebih lengkapnya tentang kasus MS adalah sebagai berikut.

Terjadi sudah sejak tahun 2012

Ilustrasi [sumber gambar]
Menulis surat terbuka yang bisa dibaca banyak orang, mungkin merupakan jalan terakhir yang bisa dilakukan oleh MS. Tak ada jalan keluar, karena beberapa kali melapor pun, polisi tak mengusutnya. Dalam suratnya, MS dengan putus asa bertanya, ‘apa harus jadi perempuan dulu supaya polisi serius memproses kasus pelecehan yang saya alami?’ Padahal MS telah menerima perundungan itu sejak tahun 2012, awal MS bekerja di KPI. Dan secara terus menerus, teman-teman MS selalu merundung dan mempermainkannya sesuka hati.

Pelecehan terparah yang pernah dialami

Dari banyaknya tindak perundungan, perbudakan, dan pelecehan, MS masih ingat jelas tindakan yang menurutnya paling mengerikan. Hal itu terjadi pada tahun 2015, saat itu dia sedang bekerja dan tiba-tiba saja dihampiri oleh kelima temannya. Mereka bersama-sama memegangi kepala, tangan, kaki, kemudian menelanjangi, memiting, melecehkannya dengan mencoret-coret buah zakarnya menggunakan spidol.

Terduga korban – Konferensi pers tentang kasus pelecehan [sumber gambar]

MS mengaku jika kejadian itu membuatnya sangat trauma dan kehilangan kestabilan emosi. Satu lagi kejadian yang tak kalah membuat MS sakit hati, adalah ketika berada di resort Prima Cipayung, Bogor. Di mana MS yang sedang tidur, tiba-tiba diangkat dan dilempar ke kolam renang, lantas mereka menertawai bersama-sama.

Sudah dua kali lapor polisi

Menjadi langganan perundungan, tanpa adanya seorang pun yang membela, bukan berarti MS menyerah dengan nasibnya. MS masih berusaha melindungi diri dengan melaporkan kejadian itu pada atasan, bahkan polisi. Namun sayangnya, laporan tersebut tidak ditanggapi serius. Pada tahun 2019, MS mendatangi Polsek Gambir.

Polsek Gambir [sumber gambar]
Namun polisi justru minta MS untuk lapor pada atasan terlebih dahulu, agar masalah bisa diselesaikan secara internal. MS mengikuti saran polisi, namun atasannya sama sekali tidak menindak pelaku, dan hanya memindahkan ruangan kerja MS saja. Setahun kemudian, MS pun kembali melapor. Namun sayangnya, polisi tidak menganggap jika laporan tersebut serius, bahkan hanya meminta nomor telepon pelaku dan mengatakan akan menelepon pelakunya.

Keterangan berbeda dari polisi

Banyak yang kecewa dengan kinerja polisi setelah membaca surat terbuka yang ditulis MS. Menanggapi soal itu, polisi segera menyanggah. Menurut kepolisian, mereka baru membuat laporan pelecehan yang dialaminya ke Polres Jakpus setelah kisahnya viral.

Polsek Gambir [sumber gambar]
Sebelumnya, MS tidak pernah membuat atau datang ke Polsek Gambir untuk membuat laporan. Namun, Muhammad Mualamin selaku pengacara MS menegaskan jika kliennya memang pernah datang ke Polsek Gambir, tapi tidak ditanggapi karena tidak memiliki cukup bukti.

BACA JUGA: Kasus Pelecehan Seksual Gofar Hilman, Ini Kronologi, Klarifikasi, dan Pernyataan Lawless Jakarta

Tindak bullying dan pelecehan seksual memang sangat menghancurkan mental seseorang. Jadi, jika lingkungan kalian ada kasus penindasan serupa, haruskah diam saja? Sudah matikah empati kita?

Written by Nikmatus Solikha

4 Fakta Coki Pardede yang Ditangkap karena Sabu, Diduga Masih Ada Efek Setelah Nyabu

Denisovan Manusia Purba Tertua di Sulawesi, Disebut Nenek Moyang Sebagian Asia-Australia