Menteri Kehakiman Afghanistan Abdul Baseer Haidari (kiri) didampingi Duta Besar Afghanistan untuk Indonesia Roya Rahmani (tengah) bersalaman dengan Wakil Ketua KPK Laode M Syarif (kanan) usai memberikan keterangan pers terkait kunjungan delegasi Afghanistan ke kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta, Rabu (8/3). Kunjungan delegasi Afghanistan tersebut untuk mempelajari model pemberantasan korupsi lembaga anti-rasuah tersebut yang nantinya dapat diterapkan di Afghanistan yang belum memiliki badan anti-korupsi. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/pd/17
Korupsi, bisa dibilang menjadi penyakit mematikan bagi setiap negara. Oleh sebab itu istilah “Negara hancur karena korupsi” mungkin memang ada benarnya juga. Bayangkan saja, sebanyak apapun sumber daya yang ada, sekaya apapun negara, bakal lenyap juga uangnya diambil para tikus yang berdasi. Sisanya hanya kerugian dan hutang yang harus ditanggung negara.
Masih soal korupsi, kita beruntung Indonesia memilik KPK sebagai lembaga resmi yang berwenang menanganinya. Jarang didengar, ternyata prestasinya sudah melambung tinggi bahkan sampai beberapa negara dunia mau belajar pada mereka. Tidak tanggung-tanggung, mulai dari yang dekat seperti Malaysia, hingga negara Afrika pun sempat berguru pada KPK. Tidak percaya? Simak ulasan berikut.
Tepatnya pada tahun 2008, ACA lembaga resmi yang menangani masalah korupsi di negeri jiran itu sempat datang untuk menyambangi Indonesia. Bukan untuk memburu para buron mereka yang kabur ke bumi pertiwi, melainkan untuk belajar tentang cara KPK dalam memberantas korupsi dari tanah Indonesia.
Seperti yang diketahui, tingkat korupsi di benua Afrika masuk dalam yang paling para di seluruh dunia. Hal ini lantaran kuatnya kekuasaan para pejabat korup dan lemahnya lembaga anti korupsi di sana. Itu bukan hal yang aneh sih pasalnya belum cukupnya pengalaman serta keberanian dalam memberantas korupsi kelas atas di sana.
Ternyata korupsi juga menjadi salah satu problem utama di tetangga kita Timor Leste. Diketahui kalau di sana tingkat korupsinya juga masuk lumayan para, semua berawal setelah kemerdekaan negara kecil. Masuknya bantuan dan dana dulu tidak tercatat dan diaudit dengan baik sehingga berimbas hingga ke depannya.
Sejak konflik yang berkecamuk di Afghanistan dulu, ternyata masih ada masalah lain yang timbul setelahnya. Ya, korupsi ugal-ugalan para pejabat yang membuat negara ini masuk dalam urutan ke dua negara terkorup. Hal ini terjadi lantaran banyak dana bantuan masuk ke negaranya, namun sayang tidak tercatat dengan baik, akhirnya malah dihabiskan oleh pihak tidak bertanggung jawab.
Tepatnya tahun 2016 lalu, beberapa delegasi lembaga anti korupsi Bangladesh dikirimkan ke Indonesia untuk berguru pada KPK. Negara itu mengaku meminta kerja sama dengan lembaga anti korupsi kita dalam memberantas korupsi yang ada di sana.
Tuh lihat sendiri kan bagaimana negara lain ternyata juga salut dengan KPK, bahkan sampai mau belajar darinya. Oleh sebab itu mari kita bantu juga lembaga anti korupsi Indonesia ini agar memberantas para koruptor yang ada. Bisa dimulai dari diri sendiri dengan bersikap adil dan jujur.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…