Bukan lagi rahasia kalau sinetron maupun tontonan yang ada di Indonesia ini kadang memakai editan yang masih terkesan kasar. Namun tentu bukan berarti itu adalah sebuah kekurangan mutlak melainkan ada alasan tersendiri. Mulai dari pemangkasan pengeluaran atau alasan-alasan yang lainnya. Apalagi mengingat teknologi di Indonesia juga lumayan tertinggal dengan barat.
Akan tetapi Indonesia tidak sendiri, pasalnya di beberapa negara di luar sana ternyata juga banyak yang serupa. Ya, mulai dari Malaysia bahkan negara di benua Afrika sana menggunakan editan yang sama kasarnya. Lalu benarkah itu terjadi? Simak ulasan berikut ini.
Tentu masih sangat ingat di ingatan kita mengenai postingan viral mengenai sinetron buatan Malaysia. Bagaimana tidak, berawal dari postingan FB kemudian menyebar hingga ke netizen Indonesia. Pasalnya dalam postingan tersebut menampilkan mengenai editan CGI untuk salah satu sinetron di Negeri Jiran sana. Namun hal itulah yang membuat banyak netizen jadi tak tahan untuk berkomentar.
Pasalnya alih-alih lebih bagus dari Indonesia yang ada kasarnya bukan main editannya. Dalam gambar dan video yang diunggah salah satu netizen itu menunjukkan dada yang belubang yang merupakan editan, namun terlihat sangat kasar seolah pembuatnya asal-asalan. Alhasil bukan hal yang aneh kalau baik netizen Indonesia maupun Malaysia sama-sama mengomennya.
Siapa sangka ada negara lain di Asia Tenggara yang juga mengalami hal yang serupa. Dilansir dari Suara, seorang netizen bernama akun FB Zacc Tyler Shawn mengunggah sebuah postingan mengenai sinetrion di sana. Dalam unggahan tersebut terlihat sosok animasi ular yang masih sangat kasar dan kaku.
Kalau masalah editan kasar namun tetap dijadikan film atau sinetron sih, mungkin di Uganda gudanganya. Tidak seperti kasus sebelumnya, kalau di negara ini hal itu bukannya dikomentari malah jadi hal yang biasa. Hal itu karena film yang diproduksi di sana memang minim pelaratan dan biaya akibatnya pakai yang seadanya saja.
Didirikan oleh Ramon Film Productions, sudah banyak DVD dan CD yang terjual di sana. Namun uniknya semua dilakukan secara manual alias menjual filmnya secara eceran dan dibagikan. Ya itu semua tidak terlepas dengan keadaan yang ada di sana dimana teknologi perfilman yang lumayan terbatas.
Umumnya dalam penggarapan sebuah film, tentu dikeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mengemas animasinya. Ya itu semua dilakukan karena diharap banyak yang menonton filmnya di bioskop sehingga mesti dilakukan dengan serius. Namun, dilansir dari Screen Anarchy, ternyata salah satu film yang berasal dari Kamboja diberikan animasi yang mirip dengan yang ada di Indonesia.
Terkesan digarap dengan budget murah dan tidak sekelas film untuk diputar di bioskop. Namun semua ternyatan ada alasan, karena tema filmnya sendiri humor serta digarap dengan budget minim seperti Wakaliwood. Ya kembali lagi suka atau tidak suka semua kembali pada penonton.
Siapa sangka diluar sana juga banyak sinetron atau film dengan editan CGI atau animasi yang tidak jauh beda dengan sinetron Indonesia. Ada berbagai alasan yang mempengaruhinya, mulai dari biaya yang sangat minim, sengaja dibuat begitu atau memang kru yang kurang berpengalaman.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…