in

Melihat Makam Gantung di Blitar, Benarkah Banyak Cerita Mistisnya?

Lazimnya sebuah makam yang kamu ketahui adalah di lapangan luas yang berupa tanah bukan? Akan sangat asing sekali saat mendengar istilah ‘makam gantung’ seperti yang ada di Blitar. Yap, tempat ini adalah destinasi selain makam Bung Karno yang sudah dikenal oleh orang seantero Indonesia.

Namanya Pesanggrahan Djojodigdan, sebuah wisata ziarah yang ramai dikunjungi oleh orang dari berbagai daerah. Mungkin kamu masih bertanya, apakah makam tersebut benar-benar digantung atau bagaimana? Mari simak ulasan lengkapnya berikut!

Sejarah makam gantung Blitar

Patih Djojodigdo [Sumber gambar]
Makam gantung atau Pesanggrahan Djojodigdan di Jalan Melati 43 Kota Blitar. Makam ini adalah milik seorang figur sufi yang familiar mempunyai ilmu Aji Pancasona, Patih Djojodigdo. Ia adalah kerabat dekat Pangeran Diponegoro dan merupakan keturunan darah biru Mataram. Pada zamannya, banyak orang yang percaya jika ajian pancasona yang dimiliki olehnya dapat membuatnya hidup kembali seandainya jasadnya menyentuh tanah. Oleh karenanya, ketika ia wafat pada 11 Maret 1905, makamnya  dibangun di atas lantai pondasi setinggi 50 cm sehingga tak menyentuh tanah langsung. Jasadnya dimasukkan ke dalam peti besi dan disangga empat tiang yang terbuat dari besi juga.

Rumah Djojodigdo dan makam gantung

Gapura masuk pesanggrahan [Sumber gambar]
Makam gantung ini berada di rumah Djojodigdo yang sekarang sudah tidak ditempati lagi. Rumah ini hanya dijaga oleh pemandu yang menjelaskan tentang makam kepada para pengunjung. Di dalam rumah ada barang-barang kuno dan juga silsilah dari Patih Djojodigdo, salah satu yang tak asing adalah R.A Kartini (menantu). Makam sendiri terletak di belakang rumah, area pagar yang selalu digembok. Apakah benar tergantung? Jawabannya tidak. Makam ini memang mencolok dari yang lain. Istilah ‘gantung’ di sini mengacu pada baju perang barang pribadi Patih Djojodigdo yang tersimpan di bagian atap makam yang terbuat dari marmer. Makam ini berada di dalam tanah, hanya jenazahnya memang tidak bersentuhan dengan tanah alias dalam peti besi.

Mitos tentang penjaga makam gantung

Makam gantung [Sumber gambar]
Karena Patih Djojodigdo adalah orang sakti pada zamannya, maka makamnya ini adalah salah satu tempat yang dikeramatkan. Konon, d I luar pagar sebelum masuk, ada dua ekor macan penjaga. Salah satu pengunjung juga pernah melihat ular besar yang menghalangi jalan, sehingga para peziarah tak bisa masuk. Cerita lain lagi, pernah ada orang yang berniat mencuri barang-barang Patih Djojodigdo tapi pada akhirnya menjadi gila. Makam ini juga disebut sebagai makam menangis karena sering terdengar suara tangisan.

Ilmu Aji Pancasona

Nisan dan atap makam gantung [Sumber gambar]
Terkait dengan ilmu Aji Pancasona yang dikuasai oleh Patih Djojodigdo, tidak sembarang orang yang bisa menguasainya. Menurut cerita juru kunci makam gantung, Patih Djojodigdo adalah satu-satunya orang yang menguasai ilmu tersebut pada masanya. Bisa hidup lagi saat menyentuh tanah, sang pemilik ilmu harus melakukan tirakat berupa tapa ngalong –bertapa selama 40 hari 40 malam tanpa santap dan minum dalam suasana bergantung di pohon dengan kepala di bawah. Tempat berguru juga bukan manusia saja, tetapi juga ada dari dunia lain. Patih Djojodigdo sendiri beberapa kali hidup kembali setelah dieksekusi oleh Belanda selama pertempuran tahun 1825-1830.

Jadi, istilah ‘gantung’ di sini bukan secara harfiah digantung beneran ya. Hal tersebut dinisbatkan kepada baju kebesaran dan senjatanya digantung di atas pusara beliau. Makam gantung ini adalah tempat keramat lain di samping Makam Bung Karno. Jika ingin tau lebih dalam, kamu boleh datang langsung ke Pesanggrahan Djojodigdo.

Written by Ayu

Ayu Lestari, bergabung di Boombastis.com sejak 2017. Seorang ambivert yang jatuh cinta pada tulisan, karena menurutnya dalam menulis tak akan ada puisi yang sumbang dan akan membuat seseorang abadi dalam ingatan. Selain menulis, perempuan kelahiran Palembang ini juga gemar menyanyi, walaupun suaranya tak bisa disetarakan dengan Siti Nurhalizah. Bermimpi bisa melihat setiap pelosok indah Indonesia. Penyuka hujan, senja, puisi dan ungu.

Leave a Reply

Bukan Setelah Makan! Inilah Waktu Minum Obat 3 x 1 yang Benar

Kisah Fatimah Deby, Remaja yang Selamatkan Auratnya Hingga Rela Meninggal karena Gempa Palu