kisah sahabat rasulullah
Di bulan Ramadan yang penuh dengan ampunan dan keberkahan dari Allah ini, jangan sampai kita sia-siakan untuk terus beramal shalih sekaligus meneladani kisah-kisah Rasulullah dan para sahabat di masa awal dakwah Islam dahulu. Kisah-kisah yang tak hanya akan membuat kita terharu, menangis, namun juga bisa membuat kita merasa begitu dekat dengan Allah dan RasulNya. Serta tentunya semoga membuat semangat kita untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari semakin besar.
Kisah ini adalah kisah yang terjadi ketika Rasulullah SAW sedang sakit keras dan beberapa hari sebelum beliau wafat. Kisah yang selalu bisa membuat air mata kita bercucuran karena terharu. Yaitu tentang seorang pemuda bernama Ukasyah yang ingin sekali memukul tubuh Rasulullah SAW yang telah sakit dan renta, dengan menggunakan cemeti atau cambuk.
Pada suatu hari, Rasulullah yang telah lama sakit keras meminta para sahabat memapah beliau menuju masjid untuk bertemu dengan semua sahabat-sahabat tercintanya. Para sahabat sangat bahagia dan dengan semangat menuju masjid, karena begitu rindunya mereka kepada Rasulullah. Setelah duduk di mimbar, Rasul kemudian bertanya, “Wahai para sahabatku, sudahkah aku menyampaikan pada kalian bahwa Allah adalah Tuhan yang layak disembah?”. Para sahabat mengamini pertanyaan Rasulullah. Rasul tersenyum lalu berujar, “Ya Allah saksikanlah, sesungguhnya aku telah menyampaikan apa yang Engkau perintahkan”.
Rasul mengulangi pertanyaan tentang hutang sebanyak tiga kali, namun tak ada satupun yang menjawab. Hingga kemudian, seorang pemuda dengan suara tegas menjawabnya. Dia bernama Ukasyah, dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya dahulu saat perang Uhud, engkau memukulkan cambuk ke bagian belakang kuda. Namun cambuk itu tak mengenai kuda, akan tetapi mengenaiku. Apakah menurut engkau itu adalah hutang?” Rasulullah mengangguk dan menjawab, “Iya, Ukasyah. Lalu apa yang kau minta? Dengan berani dan tanpa rasa bersalah Ukasyah menjawab, “Aku ingin melakukannya padamu.”.
Para sahabat sontak kaget dan memarahi Ukasyah yang dianggap lancang ingin mencambuk Rasulullah. Namun Rasulullah justru meminta Bilal mengambil cambuknya di Fatimah, puterinya. Dengan sedih Bilal mengambil cambuk ke Fatimah, dan Fatimah dengan heran bertanya untuk apa cambuk itu. Bilal menjawab tentang Ukasyah yang ingin mencambuk Rasulullah. Fatimah kaget dan menangis sedih, “Sungguh kenapa Ukasyah ingin memukul Ayahku yang sudah tua dan sedang sakit? Jika dia ingin, maka cambuk saja aku.” Namun Bilal melarang Fatimah ikut karena perintah Rasulullah.
Saat Ukasyah berjalan lagi, Umar bin Khattab maju menghalanginya seraya berkata, “Ukasyah, aku dulu sangat membenci nama Muhammad. Namun sekarang tak akan kubiarkan satu orang pun menyakiti seorang Muhammad. Jika kau ingin, maka pukul lah aku semaumu, jangan Rasulullah.” Namun lagi-lagi Rasul mencegahnya, “Umar, ini urusanku dengan Ukasyah.” Umar mundur dengan sedih.
Kemudian saat Ukasyah hampir dekat dengan mimbar Rasulullah, Ali bin Abi Thalib maju menghalanginya sambil berkata, “Ukasyah, aku menantu sekaligus sepupu Rasulullah. Darah yang sama mengalir padaku. Maka jika kau hendak menyakitinya, sakiti saja aku, jangan Rasulullah.” Lagi-lagi Rasul mencegahnya, “Ali, ini urusanku dengan Ukasyah.” Ali mundur dengan sedih.
Dan, saat Ukasyah telah berada di depan mimbar Rasulullah, Hasan dan Husein, kedua cucu kesayangan Rasulullah maju merajuk pada Ukasyah. “Paman, kasihanilah Kakek kami. Kakek sudah tua dan sedang sakit, jika Paman ingin memukulnya, pukul kami saja” Namun dengan lembut Rasul mencegahnya, “Cucu-cucu kesayanganku, minggirlah, ini urusan Kakek dengan Paman Ukasyah.” Hasan dan Husein minggir sambil menangis sedih.
Kini Ukasyah berhadapan dengan Rasulullah. Dengan tegas dia berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana bisa aku memukulmu? Sedangkan engkau di atas mimbar dan aku di bawah? Turunlah!” Lalu Rasul meminta beberapa sahabat membantunya turun mimbar. Ukasyah kembali berkata, “Dulu kau memukulku saat aku tak memakai pakaian (bagian atas). Aku ingin engkau melakukannya juga.”. Rasulullah lalu menuruti permintaan Ukasyah.
“Sungguh, siapa yang begitu tega dan ingin menyakiti manusia mulia seperti engkau, wahai Rasulullah? Aku melakukan ini karena aku tahu bahwa tubuhmu tak akan pernah tersentuh oleh api neraka. Sedangkan aku ingin tubuhku juga terselamatkan dari api neraka. Aku tak akan lagi bisa bertemu denganmu. Maka demi bisa memeluk tubuhmu aku melakukan ini. Maafkanlah aku, wahai Rasulullah”, Ukasyah memeluk erat tubuh Rasul sambil menangis sejadi-jadinya.
Melihat kejadian itu, semua sahabat langsung ikut menangis dan bergantian memeluk tubuh Rasulullah. Kemudian Rasul bersabda, “Wahai para sahabatku, jika engkau ingin melihat seorang Ahli Surga, maka lihatlah Ukasyah yang begitu mencintaiku ini.” Suasana haru kemudian menyelimuti masjid, di mana hari itu adalah hari terakhir Rasulullah berada di mimbar tersebut sebelum beliau SAW wafat.
Semoga kisah Ukasyah yang begitu mencintai Rasulullah SAW dan takut akan api neraka tersebut menjadi pemantik semangat kita untuk terus bersegera dalam meminta ampunan kepada Allah SWT. Karena sampai kapanpun syetan tak akan pernah menggoda manusia sampai mereka ikut dengannya masuk ke neraka. (sof)
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…