Saat ini rata-rata program yang memiliki rating tertinggi adalah acara lawak. Tak terhitung lagi sudah berapa banyak program TV yang mengusung tema lawak, bahkan saat waktu sahur ketika bulan puasa pun wajah televisi Indonesia dipenuhi dengan acara canda dan tawa itu.
Menurut beberapa pakar seperti Indro Warkop, memang dari sisi kuantitas, acara lawak mengalami peningkatan. Tapi sebaliknya, dalam hal kualitas justru mengalami penurunan. Jika dibandingkan dengan lawak-lawak semasa Srimulat dulu, lawakan zaman sekarang masih kalah jauh. Kenapa begitu berikut ini alasannya.
1. Tidak Punya Ciri Khas
Pelawak mana di zaman sekarang yang namanya bisa sementereng para legenda lawak Indonesia zaman dulu. Mulai dari kelompok Warkop DKI yang terdiri dari Dono, Kasino dan Indro, hingga kelompok Srimulat yang lawakannya sangat khas. Bahkan sampai sekarang nama-nama para pelawak zaman dulu masih lekat di hati para penggemarnya.
2. Seninya Kurang Menonjol
Lawak atau komedi adalah seni, tapi Anda akan melihat dengan jelas sisi seninya di beberapa acara komedi zaman dulu, saat acara-acara komedi yang dibawakan oleh pelawak-pelawak legendaris mengusung tema komedi yang berkualitas. Meskipun itu hanyalah banyolan tapi tetap memiliki pesan-pesan bagi para pemirsanya.
3. Terlalu Anarki
Tahukah Anda jika tidak sedikit juga netizen yang mengkritik acara-acara komedi masa kini yang nggak ada lucunya sama sekali dan isinya cuma jahil-jahilan dan goyang sana sini. Nyatanya, memang sebagian masyarakat mengaku prihatin dengan tampilan komedi yang penuh aksi anarki seperti itu.
4. Rasis
“Mulutmu adalah harimaumu”, sudah seharusnya semua orang memperhatikan apa yang akan mereka ucapkan walaupun niatnya untuk membuat orang lain tertawa. Saat ini beberapa acara komedi seakan melupakan hal itu. Bicara seenaknya, meskipun yang jadi bahan lawakan tersebut adalah orang atau kelompok-kelompok tertentu.
Itulah empat alasan yang menunjukkan bahwa lawak zaman sekarang itu tak sebaik komedi di era Srimulat dulu. Miris memang, karena kebanyakan komedian zaman sekarang seakan lebih mementingkan materi dan ‘yang penting digaji’, daripada menampilkan komedi yang cerdas dan jauh dari aksi kekerasan.