Semua muslim dan muslimah adalah saudara. Ibarat satu tubuh, perbedaan warna kulit, bahasa, negara, adat dan budaya, bukanlah menjadi penghalang bagi hal mulia tersebut. Pun dengan para tentara India yang ditugaskan oleh Inggris untuk memerangi pejuang republik di tanah air. Alih-alih melaksanakan tugas, mereka akhirnya memilih desersi dari unitnya dan balik memihak Indonesia.
Terlebih pada saat menjelang bulan Ramadan tiba, gelombang “pengkhianatan” yang dilakukan oleh serdadu asing di Indonesia semakin menjadi-jadi. Para pembelot tersebut, merupakan prajurit asal India yang didatangkan Inggris sebagai bagian dari pasukan mereka. Namun apa daya, atas “nama persaudaraan seiman”, kisah heroik pembelotan mereka akhirnya berhasil tercatat oleh tinta sejarah.
Saudara seiman menjadi pemicu untuk membantu perjuangan Indonesia
Sebagai pasukan Inggris yang ditugaskan di Indonesia, para serdadu India yang muslim ini ditugaskan untuk mengatasi ganasnya serangan pejuang republik. Namun, semuanya berubah ketika mereka sadar tengah memerangi prajurit Indonesia yang ternyata sesama muslim. Semua berawal dari kisah Ghulam Ali, yang merupakan anggota Brigade Infantri I Divisi India ke-23.
Bantu perjuangan Indonesia lewat fisik dan propaganda
Ada kejadian unik saat pertempuran Surabaya antara pasukan Inggris dan pejuang republik. Menurut Des Alwi dalam Pertempuran Surabaya November 1945, terdengar teriakan Allah Akbar dari tentara negeri Ratu Elizabeth itu. Sementara ia sendiri tidak mengetahui apakah mereka muslim atau bukan. Tak hanya itu, pekik takbir juga dikumandangkan oleh pejuang republik yang notabene muslim. Jadi, ada dua takbir yang terdengar dari dua kubu.
Jumlah “pengkhianatan” yang kian bertambah jelang bulan Ramadan
Menjelang bulan suci ramadan, jumlah para pembelot semakin menjadi-jadi. Menurut laporan Divisi India Ke-26 di Sumatra menunjukkan, aktivitas tersebut meningkat tajam selama bulan Ramadan pada Agustus 1946. Para serdadu India yang ada, kebanyakan melakukan desersi pada malam hari dengan cara meninggalkan barak. Namun, ada pula yang nekat melakukannya ketika tengah melakukan operasi militer.
Para tentara asing yang berjasa pada kemerdekaan Indonesia
Dalam kelompok International Volunteers Brigade, terdapat seorang komandan bernama Abdul Matin dengan wakilnya Ghulam Ali. Satuan ini dibentuk oleh Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin pada 30 Agustus 1947, di mana kesemua anggotanya merupakan sukarelawan asing yang berasal dari Tionghoa, Filipina, dan Malaysia. Pasukan ini akhirnya disebar ke front-front untuk membantu tentara Indonesia. Mereka juga ikut bertempur selama agresi militer Belanda II dari hutan-hutan secara gerilya.
BACA JUGA: Nggak Nyangka 5 Orang Belanda ini Justru Berjuang Untuk Kemerdekaan Indonesia
Sebagai saudara seiman, pantang bagi para tentara asing di atas untuk menyerang pejuang republik yang notabene sesama muslim di medan juang. Aksi mereka pun tercatat dalam sejarah, dengan banyaknya pembelotan dan akhirnya memihak perjuangan Indonesia melawan tentara kolonial. Meski telah menjadi kepingan sejarah, peristiwa di atas patut dikenang dan bisa direfleksikan pada kehidupan Indonesia saat ini. Di mana persatuan adalah salah satu kunci bagi kemenangan demi kedaulatan sebuah negara.