Masa muda yang penuh perjuangan dan kerja keras, rupa-rupanya sempat dirasakan oleh Jenderal Polisi (Purn.) Drs. H. Sutarman S.I.K. Dilantik sebagai Kapolri di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 25 Oktober 2013 silam, siapa sangka jika dirinya dulu sempat menjalani profesi sebagai kuli bangunan.

Tak menyerah, Sutarman muda tetap berusaha menjadi memperoleh yang terbaik di tengah keterbatasan ia dimiliki. Meski sempat gagal saat pertama kali mendaftarkan diri di AKABRI (Akmil saat ini), ia tetap maju berkat dukungan sang ayah. Lika-liku perjuangan dan keberhasilannya menjadi orang nomor satu di tubuh Polri, sangat menarik untuk disimak.

Melewati masa muda dengan penuh kesederhanaan dan perjuangan

Pidato Jenderal Sutarman dalam sebuah acara [sumber gambar]
Masa muda Sutarman dilaluinya dengan penuh perjuangan. Berdasarkan kisah yang diunggah oleh akun Instagram @polisi_indonesia, pria kelahiran Sukoharjo 5 Oktober 1957 itu terlahir dari keluarga petani sederhana. Sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sutarman kerap membantu orang tuanya dengan berjualan bambu, bekerja di sawah sampai menggembala kerbau.

Sosok cerdas yang sempat menjadi kuli bangunan dan berjualan bambu keliling

Sosok Jenderal yang pernah menjadi kuli bangunan di masa mudanya [sumber gambar]
Setelah menamatkan sekolahnya di jenjang STM, ia sempat mendaftarkan diri ke AKABRI namun tidak lolos karena usianya belum mencukupi. Tak larut dalam kesedihan, Sutarman yang cekatan kemudian memilih profesi sebagai kuli bangunan. Tak hanya itu, sulung dari lima bersaudara itu juga kembali berjualan bambu keliling. Sejak kegagalan pertamanya masuk Akabri, Sutarman tak lagi berpikir untuk kembali mendaftar.

Sukses masuk Akabri berkat kerja keras dan dukungan sang ayah

Ilustrasi Akpol Semarang [sumber gambar]
Sang ayah, Pawiro Miharjo yang merupakan seorang petani sederhana, kemudian menasehati Sutarman agar dirinya tetap mencoba mendaftar masuk Akabri Kepolisian. Dorongan agar tidak putus asa, rupa-rupanya berhasil masuk ke dalam benaknya. Ia pun kembali bersemangat dan mendaftar untuk kedua kalinya. Beruntung Sutarman memiliki figur ayah yang perhatian pada dirinya. Sang ibu sendiri yang bernama Samiyem, telah meninggal dunia akibat kanker payudara.

Menjabat berbagai posisi strategis di tubuh Polri

Jenderal Sutarman dalam sebuah kesempatan [sumber gambar]
Usai lulus dari Akabri Kepolisian pada 1981, karir Sutarman di kepolisian sangat cemerlang. sejak 6 Juli 2011 hingga 24 Oktober 2013, dirinya menjadi Kabareskrim Mabes Polri dan didapuk sebagai orang nomor satu di Bareskrim. Tak hanya itu, Jenderal Sutarman pernah menjadi Ajudan Presiden RI pemerintahan Abdurrahman Wahid pada tahun 2000. Kemudian akhir 2004, dia menjabat sebagai Kapolwiltabes Surabaya, Kapolda Kepri, Kaselapa Lemdiklat Polri, Kapolda Jabar dan Kapolda Metro Jaya.

Menjadi calon tunggal dan berhasil diangkat sebagai Kapolri

Sosok Jenderal Sutarman juga menjadi calon tunggal sebagai Kapolri, menggantikan Jenderal Polisi (Purn.) Drs. Timur Pradopo, S.I.K. Dirinya diajukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada DPR-RI yang saat itu diterima langsung oleh Wakil Ketua DPR, Priyo Budi Santoso. Hingga pada 25 Oktober 2013, Jenderal Sutarman dilantik menjadi Kapolri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara, Jakarta.

BACA JUGA: Kisah Tito Karnavian, Sosok Jenderal Berprestasi yang Sukses Hingga Menjadi Kapolri

Meski waktu pensiun tinggal sembilan bulan, Jenderal Sutarman akhirnya diberhentikan secara terhormat dan digantikan oleh Plt. Badrodin Haiti pada tanggal 16 Januari 2015. Rekam jejak dan perjuangannya di masa muda, bisa menjadi inspirasi bagi kita semua bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk meraih cita-cita.