Indonesia memiliki banyak sumber daya manusia yang tak kalah cerdas dibandingkan dengan negara lain. Namun sayangnya, banyak dari mereka yang tak mendapatkan pendidikan karena biaya yang terlampau mahal. Itulah yang terjadi pada seorang anak penjual abu gosok di Mandailing Natal (Madina), Sumatra Utara.
Ia berhasil diterima di salah satu universitas terkemuka di dunia. Tapi impiannya tersebut terhalang oleh kondisi ekonomi keluarganya yang memprihatikan. Akibatnya, ia tak memiliki uang untuk daftar ulang. Meski demikian, dirinya masih memiliki harapan untuk melanjutkan pendidikannya. Berikut kisah selengkapnya.
Khoirunnisah merupakan seorang siswa berprestasi yang mampu masuk ke Universitas Al-Azhar, Mesir. Namun gadis asal Sumatra Utara ini belum bisa daftar ulang lantaran tak memiliki uang. Nisah menuturkan dirinya harus membayar biaya daftar ulang sekitar Rp7 juta sebelum waktu daftar ulang ditutup pada Jumat, 11 Juni 2021.
Ternyata nama Nisah menjadi salah satu penerima beasiswa di Universitas Al-Azhar. Ia berhasil menyingkirkan sekitar 400 peserta lainnya yang mengikuti seleksi beasiswa di Sumatra Utara. Tak hanya itu, di usianya yang masih muda, Nisah sudah hafal 30 juz Al-Qur’an. Pesantren Darul Ikhlash, tempat Nisah mengenyam pendidikan menuliskan dirinya tak hanya punya prestasi bidang akademik, tapi juga akhlak yang baik. Sederet piagam penghargaan pernah ia raih semasa menjadi santri. Salah satunya adalah juara 1 golongan 20 juz putri hafidz Qur’an pada MTQ Madina tahun 2020.
Nisah adalah anak terakhir dan memiliki 4 kakak. Gadis kelahiran 29 Agustus 2002 ini merupakan putri dari pasangan Amastua Nasution dan Ummi Rangkuti. Pasca sang ayah meninggal pada 2008, sebuah rumah sederhana di Panyabungan III dikontrak, Nisah dan ibunya tinggal di rumah tersebut. Kondisi ekonomi keluarga Nisah memang memprihatinkan. Ibunya hanya berjualan sayur dan abu gosok di Pasar Baru dengan penghasilan Rp500 ribu per bulan yang tentu saja jauh dari kata cukup.
Meski mendapat beasiswa, Nisah masih harus memikirkan ongkos daftar ulang dan biaya hidup di Mesir, lantaran beasiswa tersebut hanya membebaskan biaya kuliah. Biaya hidup di Mesir yang ditaksir mencapai Rp1,5 juta per bulan harus ditanggung sendiri oleh para siswa. Sang ibu sendiri tak sanggup mencari uang sebanyak itu karena penghasilannya selama ini saja tak cukup untuk makan sehari-hari.
Melihat kondisi Nisah, sejumlah masyarakat dan beberapa organisasi terpanggil untuk mengumpulkan dana demi membantu Nisah melanjutkan pendidikannya di Al-Azhar. Akhirnya dalam tiga hari, Nisah mendapat bantuan dana dari berbagai pihak. Wakil Gubernur Sumatra Utara Musa Rajekshah turut menyumbang sebesar Rp15.575.000. Ditambah dengan masyarakat yang tergabung dalam grup WhatsApp StarNews dan donatur lain, total dana yang terkumpul untuk Nisah sejumlah Rp92 juta.
BACA JUGA: Kisah Anak Penjual Gorengan Asal Boyolali yang Prestasinya Dikenal Hingga ke Luar Negeri
Semangat Nisah dalam menimba ilmu memang menjadi inspirasi bagi banyak orang. Nisah membuktikan, kondisi ekonomi tak menghalangi dirinya menjadi siswa berprestasi. Semoga bantuan tersebut mampu mewujudkan impian Nisah untuk menimba ilmu di salah satu universitas Islam terbaik di dunia.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…