Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia masih ditinggali oleh suku-suku yang memegang kental budaya mereka. Ya, sebut saja Suku Dani di Papua, Anak Dalam di Jambi, Dayak di Kalimantan, serta banyak lagi yang masih hidup di pedalaman dan berbaur dengan alam. Mereka kadang dengan tegas menolak gaya hidup modern seperti yang dilakukan orang kebanyakan.
Sekian suku di atas ada Suku Baduy yang tinggalnya di Banten. Masyarakat adat yang tinggal di wilayah tersebut sekarang sedang menjadi pembicaraan banyak orang. Bagaimana tidak, mereka menolak dana 2,5 M yang hendak pemerintah gelontorkan demi meningkatkan infrastruktur. Kalau uang sejumlah itu saja ditolak, kira-kira bagaimana ya kondisi kehidupan mereka? Pensaran? Simak deh ulasan berikut.
Dana 2,5 M ditolak demi lestarinya adat mereka
Usut punya usut, dana yang diberikan dengan maksud membangun infrastruktur untuk menunjang pertumbuhan ekonomi ditolak atas kesepakatan beberapa pemangku adat dan masyarakat. Mereka khawatir dengan dibangunnya infrastruktur baru nilai adat perlahan akan tergerus dan hilang. Para sesepuh Baduy berpendapat bahwa bangunan modern bisa saja merusak alam di mana mereka tinggal.
Rumah yang sederhana namun tahan guncangan bencana
Jika kamu mencari di google ‘rumah masyarakat Baduy’, maka kamu akan menemukan bangunan dengan atap dari rumbia dan dinding dari rotan. Rumah yang disebut sebagai Sulah Nyanda ini sekilas memang terlihat rapuh, namun sebenarnya mereka tahan terhadap gempa loh, faktanya saja, saat Banten dilanda gempa yang merobohkan bangunan beton, tempat tinggal masyarakat Baduy ini seolah tak terjadi apapun.
Hidup dengan bahan yang berasal dari alam
Selain rumah yang masih tradisional, kehidupan Suku Baduy pun nyaris tidak tersentuh nuansa modern. Mereka pergi dengan bertelanjang kaki alias tanpa alas. Hal inilah yang membuat orang-orang Baduy kuat melakukan perjalanan dalam waktu yang lama. Selain itu, mereka sering menggunakan busana yang hanya terdiri dari warna hitam atau putih, baju tersebut ditenun sendiri. Masyarakat Baduy sangat melarang mabuk-mabukan dan merokok.
Pengunjung yang datang pantang menggunakan teknologi
Baduy adalah salah satu tempat yang biasa didatangi oleh pengunjung yang ingin tau adat mereka. Uniknya, siapapun yang datang ke sana, haram hukumnya membawa segala macam jenis teknologi seperti seperti handphone, kamera, dan lain-lain.
BACA JUGA: Mengulik Ramalan Suku Baduy Soal Sepak Bola Indonesia yang Akan Membuatmu Nganga Tak Percaya
Begitulah ketatnya peraturan adat yang ada di sana. Jika ada yang masih nekat melanggar, maka kepala suku/pu’un tak segan mengeluarkan mereka dari kampung tersebut. Singkatnya, segala aktivitas sehari-hari mereka diatur oleh budaya suku yang kental. Jadi, ingat-ingat lagi apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat mau berkunjung ke daerah Baduy ya.