in

Menurut Para Ahli, Inilah Hal yang Akan Terjadi Saat Kiamat Menghancurkan Bumi

Letusan Big Bang [Sumber gambar]

Siapapun ditanya tentang kiamat niscaya tidak akan bisa memberikan jawaban yang pasti. Ya, karena kehancuran alam semesta ini masih menjadi rahasia meskipun semu orang yakin bahwa hal tersebut akan tiba. Sebagian juga pasti pernah memikirkan bagaimana bentuknya saat bumi beserta isinya hancur berantakan?

Apakah akan sama dengan kejadian-kejadian dan bencana yang telah merusak bumi, hanya saja mungkin kekuatannya berkali lipat lebih besar. Nah, terkait hal ini ternyata para ilmuwan juga memikirkan hal yang sama. Menurut mereka, beginilah kurang lebih bentuk bumi saat kiamat benar-benar terjadi.

Tanda-tanda kiamat yang semakin bermunculan

Sebelum kita memasuki hal yang mungkin terjadi saat kiamat, lebih baiknya melihat dulu beberapa hal yang menandakan bahwa bumi kita ini sudah tua dan rapuh. Jika kita tilik dari segi ajaran agama, menjamurnya kejahatan, banyaknya kasus yang bertentangan dengan kemanusiaan, serta manusia yang semakin tersesat (keluar koridor kebenaran) sudah bisa ditemukan di mana-mana.

Gurun yang berbunga dan bersalju [Sumber gambar]
Sedangkan berdasar ilmu pengetahuan, mencairnya gunung es Antartika yang kokoh pada 2017 lalu, turunnya salju di Arab Makkah yang panas dan Gurun Sahara, serta munculnya kebun bunga di Gurun Atacama rasanya cukup menjadi fenomena yang sangat langka terjadi. Apa benar mereka adalah tanda-tanda kiamat?

Keadaan alam menjelang detik dunia berakhir

Kita lupakan sejenak Dajjal, Ya’juj Ma’juj, Imam Mahdi, serta sosok Nabi Isa yang akan muncul menjelang kiamat. Kita beralih kepada keadaan alam menjelang dunia berakhir. Hal ini adalah kemungkinan yang paling bisa dirasakan oleh manusia, di mana posisi matahari dikatakan semakin mendekat, sehingga makhluk merasakan panas yang sangat. Hal ini sendiri dijelaskan dalam sebuah hadis Rosulullah SAW yang berbunyi “Manusia pada hari itu tergantung amalnya masing-masing.

Matahari semakin panas [Sumber gambar]

Ada yang keringatnya mencapai lutut, ada yang mencapai pundak. Bahkan ada yang ‘dikekang’ oleh keringatnya” Rasulullah SAW menunjukkan tangannya ke mulutnya (keringatnya mencapai mulut) [HR. Muslim]. Setelahnya mungkin manusia akan menyaksikan matahari terbit dari arah barat, gunung mulai dihancurkan dan bumi digulung.

Kiamat berdasarkan penelitian astrofsikawan dalam jurnal Physical Review D

Melansir Kompas.com, dalam sebuah studi yang terbit Rabu (25/7/2018) di jurnal Physical Review D, dua ahli astrofsikawan (Sergey Odintsov dan Vasilis Oikonomou) mengatakan bahwa kiamat akan terjadi dengan cara yang sama seperti saat alam semesta terbentuk, yakni dengan ledakan atau Big Bang. Namun, prediksi mereka mengatakan lagi bahwa sebelum semesta benar-benar berakhir, kehidupan di atas muka bumi ini sudah berhenti 30 hingga 60 juta tahun sebelumnya.

Letusan Big Bang [Sumber gambar]
Hal ini dikarenakan adanya tarikan gravitasi dari singularitas, sehingga semesta tak lagi punya konsep ruang dan waktu. Sementara itu, tim peneliti Harvard mengatakan bahwa alam akan binasa dalam sekian triliunan tahun lagi. Kehancurannya diawali dengan bintang-bintang yang mati sehingga terjadi pembekuan raksasa salam semesta.

Bagaimana kondisi manusia saat kiamat benar-benar terjadi?

Mari sejenak kita merenung dan berandai-andai, jika kiamat terjadi sedangkan kita masih menjadi satu di antara ribuan orang yang hidup, apa yang akan dilakukan? Untuk ukuran bencana seperti tsunami atau gempa saja, kita tak peduli siapapun dan berusaha menyelamatkan diri sendiri, apalagi jika itu kehancuran seluruh semesta bukan? Ketakutan pasti dialami oleh semua orang, masing-masing ingin mempertahankan eksistensinya, bagaimana caranya agar tetap hidup dan bertahan, mencari perlindungan yang paling aman untuk menghindari bumi yang mulai hancur.

Manusia sibuk mengurus dirinya sendiri [Sumber gambar]
Namun, kembali lagi, jika saat kiamat tiba tak ada satu orang pun yang bisa selamat, tak ada satu tempat pun untuk dijadikan perlindungan, bungker canggih anti nuklir sekalipun. Al-Quran pun telah menjelaskan tentang kejadian tersebut, jika ‘saat kiamat manusia akan bertebaran seperti laron’. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menunggu giliran masing-masing untuk menyambut bencana paling besar tersebut.

Meskipun sudah diprediksi oleh para ilmuwan, dibuatkan film mengenai bagaimana fenomena itu terjadi, tetap tidak ada seorang pun yang tahu persisnya bagaimana proses saat alam semesta hancur. Tugas kita saat ini adalah mempersiapkan diri dan bekal takwa kepada Tuhan, agar kelak bisa ditempatkan di posisi paling nikmat setelah kehidupan dunia berakhir.

Written by Ayu

Ayu Lestari, bergabung di Boombastis.com sejak 2017. Seorang ambivert yang jatuh cinta pada tulisan, karena menurutnya dalam menulis tak akan ada puisi yang sumbang dan akan membuat seseorang abadi dalam ingatan. Selain menulis, perempuan kelahiran Palembang ini juga gemar menyanyi, walaupun suaranya tak bisa disetarakan dengan Siti Nurhalizah. Bermimpi bisa melihat setiap pelosok indah Indonesia. Penyuka hujan, senja, puisi dan ungu.

Leave a Reply

Denada Curhat di Instagram, Emilia Contessa Sebut Ada Hal ‘Aneh’ Usai Shakira Jalani Kemoterapi

Balada Asian Para Games 2018, Event Besar Olahraga Asia yang Berjalan Sepi