Meski zaman sekarang ini sudah maju, namun tak bisa dipungkiri kalau orang Indonesia masih percaya hal klenik. Mulai dari penampakan misterius, santet, guna-guna dan berbagai hal tak masuk nalar lainnya. Mungkin semua tak terlepas dari budaya orang Indonesia sejak dari dulu sendiri yang tak pernah lepas dari tahayul.
Bicara soal klenik yang masih dipercaya, disunat jin adalah salah satu fenomena yang masih dipercaya. Bagaimana tidak pasalnya seorang anak tiba-tiba kelaminnya berubah seperti disunat padahal tak ada dokter atau mantri yang mengkhitannya. Namun ternyata ada penjelasan medis mengenai fenomena itu loh. Tidak percaya? Simak ulasan berikut.
Fenomena disunat Jin yang sering terjadi di masyarakat Indonesia
Jika umumnya sunat selalu dilakukan oleh mantri atau dokter, namun ada pula yang mengalaminya secara ghaib. Ya tanpa angin tanpa badai, tiba-tiba bentuk kelamin seorang anak sudah berubah layaknya sudah di sunat. Bahkan uniknya lagi, sebagian dari mereka mengatakan kalau bertemu dengan sosok misterius sebelum kejadian tersebut.

Atau kalau tidak bermimpi dengan sosok yang tidak dikenal. Tahu-tahu setelah bangun tidur, keadaan kelaminnya layaknya sudah dilakukan penyunatan. Bahkan tak ada luka atau sakit sedikit pun, sehingga banyak yang menganggap Jin lah yang melakukannya. Kejadian seperti ini terus berulang bahkan terjadi hingga sekarang.
Dapat dijelaskan secara ilmiah, sehingga bukan lagi mitos belaka
Disisi lain, ternyata kejadian disunat Jin itu dapat dijelaskan secara ilmiah. Ya, para ahli sudah mengetahui kelainan ini yang diberi nama parafimosis. Bukan dilakukan oleh makhluk gaib atau sosok tak dikenal lainnya, namun berubahnya bentuk kelamin itu lantaran proses tertariknya kulit di areal kelamin.
Bukan tanpa resiko, ‘sunat Jin’ ternyata juga bisa berbahaya
Mungkin sebagian orang menganggap parafimosis berkah lantaran tak mengeluarkan biaya buat khitan, namun siapa sangka ada bahayanya juga. Jika anak yang mengalami kelainan ini tak mendapatkan bengkak atau sakit sama sekali, mereka tinggal dibawa ke mantri untuk menyelesaikan ‘sisa’nya.
Alasan terjadi dan penangan pertama pada kelainan ini
Ada berbagai faktor mengapa kelainan ini terjadi, salah satunya kegiatan aktif si anak sendiri. Selain itu, khitan yang tidak sempurna yang dilakukan oleh mantri atau dokter pun juga jadi salah satu alasannya. Apalagi kelainan ini menyerang tak memandang umur, entah itu anak-anak atau lansia, yang pasti mereka yang belum sunat.
Kembali lagi pada pembaca mau percaya yang mitos atau ilmiah, pada dasarnya semua ada pada keputusan pribadi. Namun demikian adanya parafimosis ini menjadi warning buat kita. Jika keadaan tubuh mengalami hal yang kurang normal, kesampingkan dulu mitos dan segeralah pada para ahli.