Menurut sebagian orang, konten-konten dewasa adalah sebuah hal yang sama tuanya dengan usia makhluk bernama manusia. Sehingga mau dibatasi seperti bagaimanapun, konten dewasa ini gak bakalan bisa dikekang. Masih banyak perdebatan mengenai apa dan bagaimana hal-hal yang disebut ‘pornografi’ itu sebenarnya. Batasan agama dan budaya sering berbeda-beda sehingga manusia bingung memilih yang mana sebagai penentunya.
Ambil contoh dalam Islam, pornografi adalah bagian dari aurat. Tetapi di pedalaman Papua, orang hampir bertelanjang dan tak ada seorang pun yang menuduh ini sebagai hal yang tabu. Naaaah, redaksi Boombastis kali ini tidak ingin turut dalam polemik pornografi, tetapi hanya akan memberikan fakta-fakta seputar konten ‘esek-esek’ dalam kehidupan manusia yang menarik untuk kita ketahui.
Ketika internet pertama kali mulai booming di tahun 2000, situs khusus orang dewasa mungkin (hanya) sekitar kurang dari 50.000 situs. Sekarang, dari sekitar 850 juta situs yang ada di internet, 10-30% adalah konten berbau esek-esek.
Ketika beberapa ilmuwan di Kanada ingin mengadakan sebuah penelitian tentang pengaruh pornografi pada manusia, mereka ingin melakukan percobaan kepada lelaki yang sudah pernah melihat konten dewasa, dan lelaki yang belum pernah melihatnya.
Berdasarkan riset yang dilakukan beberapa orang, industri ‘esek-esek’ ternyata sangat menentukan format dari sebuah teknologi. Di jaman dulu, lahirnya kaset VHS dan Betamax adalah karena pengaruh permintaan pasar film biru yang meluas.
Pada sebuah percobaan ilmiah, sekelompok ilmuwan menunjukkan berbagai jenis video vulgar kepada lelaki dan perempuan, lalu memperhatikan aktivitas otak mereka saat terangsang. Untuk kelompok laki-laki ternyata sederhana saja, yang “straight” akan terangsang pada perempuan, dan yang gay akan terangsang pada laki-laki.
Jika kamu cowok, dan berharap dapat uang banyak dengan menjadi artis bokep, maka ketahuilah bayaran artis bokep untuk film “Straight” hanya $40.000 setahun. Beda dengan pemain film dewasa cewek yang “straight” yang bayarannya bisa sampai $250.000 per tahun.
Peran negara dalam menyikapi pornografi memang masih menemui perdebatan. Ada pihak yang mengatakan negara nggak perlu ngurusi masalah moral, ada yang bilang negara harus turut aktif dalam hal ini.
Ada sebuah ‘hukum’ di Internet yang dikenal dengan nama Rule 34 yang mengatakan bahwa, “Apapun yang bisa Anda bayangkan, selalu ada versi pornonya untuk itu.” Terdengar seperti lelucon tapi ini bener kenyataan loh.
Semua fakta yang kami ungkapkan diatas tujuannya cuma pengen membuka wawasan kamu semua bahwa pornografi ternyata bukanlah permasalahan sepele seperti yang kita bayangkan. Pengaruhnya pada kejiwaan juga sangat besar loh. Dengan pengetahuan ini, kita bisa menentukan sikap bagaimana harusnya kita menghadapi gempuran konten esek-esek ini.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…