Wajah tokoh pemberontak asal Cuba ini sudah sangat terkenal di seluruh penjuru dunia. Mulai dari kaos, tembok-tembok bahkan di minuman keras. Hampir seluruh orang telah mengenal wajah ini, tetapi jarang yang paham siapa dia sebenarnya.
Che Guevara dilahirkan dengan nama Ernesto Guevara Lynch de la Serna di Argentina pada tanggal 14 Juni 1928. Ia lahir secara prematur dari sebuah keluarga yang cukup berada. Sejak kecil Ernesto menderita penyakit asma yang membuatnya sangat menderita. Keluarganya terpaksa harus pindah ke beberapa tempat di Argentina agar Ernesto bisa hidup di daerah yang hangat agar asmanya tidak kambuh. Tetapi meskipun asmanya sering kambuh ia adalah anak atletis yang menyukai olah raga dan aktivitas fisik.
The Motorcycle Diary
Setelah lulus sekolah, Ernesto memasuki universitas dan mengambil jurusan kedokteran di University of Buenos Aires. Jiwa petualangnya membuat Ernesto sering cuti kuliah dan mengunjungi tempat-tempat yang indah di Amerika selatan. Ia kemudian melakukan sebuah perjalanan panjang selama 9 bulan mengelilingi negara-negara Amerika Selatan bersama sahabatnya, Alberto Granada, dengan menaiki sebuah sepeda motor. Petualangan itu diabadikannya dalam sebuah catatan harian, yang kemudian dicetak dalam bentuk buku berjudul “The Motorcycle Diary” dan sempat difilmkan juga.
Perlawanan Nasib Buruk Terhadap Rakyat Jelata
Tetapi hasrat membara dalam jiwanya saat melihat ketidakadilan membuatnya meninggalkan cita-citanya sebagai seorang dokter. Ia kemudian lebih tertarik pada pergerakan sosial, dan bahkan berpikir untuk melakukan perlawanan bersenjata. Ia kembali melanjutkan petualangannya mengelilingi negara-negara Amerika Selatan. Berharap untuk dapat melakukan sesuatu untuk mengubah nasib rakyat jelata.
Mulai Angkat Senjata
Che kemudian bergabung dengan sebuah gerakan pemberontakan di Kuba yang direncanakan di Meksiko. Saat itu Fidel Castro yang merupakan seorang pemberontak asal Kuba, membuat kamp latihan di Meksiko bagi para pemberontak asal Kuba. Che kemudian berkenalan dengan Fidel dan mengagumi pemikiran-pemikrannya. Mereka semakin dekat dan kemudian berjuang bersama dan pergi ke Kuba untuk berperang. Saat itu Che mendapat posisi sebagai juru medis.
Dua puluh dua orang yang selamat ini kemudian masuk ke hutan dan membentuk pasukan pemberontakan gerilya di sana. Sikap mereka yang simpatik, membuat banyak penduduk Kuba simpatik dan secara diam-diam membantu perjuangan mereka. Bahkan banyak pula penduduk yang bergabung dalam pasukan pemberontakan itu.
Sempat Bertemu Soekarno
Usaha pemberontakan akhirnya berhasil dan akhirnya pemerintahan Batitsa dapat dijatuhkan. Fidel naik sebagai presiden dan Che mendapat jabatan sebagai menteri. Tetapi hatinya selalu tertarik dengan petualangan dan baginya Kuba bukanlah akhir dari perjuangan. Masih banyak tempat di Amerika Selatan yang masih tertindas. Dengan memanfaatkan posisinya, Che pergi mengelilingi dunia untuk menggalang kesatuan melawan negara-negara kapitalis. Ia bahkan sempat ke Indonesia dan bertemu presiden Soekarno.
Matipun Che Disegani
Saat itu CIA menganggapnya sangat berbahaya dan mengerahkan seluruh tenaga untuk bisa menangkapnya. Che tertangkap dan dikurung dalam sebuah kelas di sekolah terpencil, di situ ia dieksekusi dan kedua tangannya dipotong. Bahkan saat ia matipun, orang masih takut kepadanya sehingga tangannya harus dipotong. Kata-kata terakhir saat ia akan ditembak adalah “Tembaklah, kau hanya membunuh seorang laki-laki.” Ketika selesai dieksekusi, jenazah Che dikubur di sebuah tempat rahasia, dan baru pada tahun 1997 kuburannya dibongkar dan dipindahkan ke Kuba.
Bahkan setiap pagi, anak-anak sekolah di Kuba mengucapkan kata-kata “Kami akan seperti Che” di dalam kelas. Kuba pun menjadi negara yang nomer satu dalam hal pelayanan kesehatan dan pendidikan.