Nama dari Tirto Adhi Soerjo (TAS) mungkin masih sangat asin di telinga banyak orang di Indonesia. Meski demikian, beliau adalah orang besar yang membawa kemajuan pada negeri ini. Dia memulai gebrakan-gebrakan baru di dunia pers nasional yang saat itu dikuasai oleh Belanda. Dengan keberaniannya dalam melawan penjajahan, TAS selalu mampu menunjukkan taringnya dari tulisan-tulisannya yang berani.
Selama hidup, TAS selalu menyuarakan keinginan rakyat Indonesia. Dia merintis sebuah surat kabar di Indonesia saat zaman kolonial Belanda. Dia seorang jurnalis kelas kakap yang melakukan banyak sekali propaganda agar rakyat Indonesia mau bangkit dan ikut berjuang dalam melawan para penjajah yang sudah menjadikan negeri ini sebagai miliknya. Oh ya, inilah jasa TAS selengkapnya.
Mendirikan Koran Nasional Pertama Indonesia
Di era modern seperti sekarang, kita mungkin akan mudah mendapatkan koran dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan koran online pun bisa kita baca saat melalui perangkat yang kita miliki. Keadaan ini berbeda ketika Belanda masih menguasai Indonesia. Penduduk di negeri ini dibatasi untuk bersuara, pers pun hanya muncul di sekitaran Belanda dan kalau pun bisa dibaca masyarakat isinya hanya propaganda.
Dari tiga koran yang akhirnya dibuat oleh TAS, Medan Prijaji dianggap sebagai koran paling berhasil. Bahkan koran ini dianggap sebagai media nasional pertama di Indonesia karena menjangkau banyak kalangan. Penggunaan Bahasa Melayu pada koran ini juga memudahkan banyak orang memahami berita yang awalnya hanya ditulis dalam Bahasa Belanda saja.
Menyebarkan Propaganda Melalui Pena
Melalui tulisan-tulisannya TAS menyuarakan banyak sekali permasalahan rakyat. Dia akan melakukan kritik habis-habiskan kepada pihak tertentu yang membuat rakyat jadi menderita. Dia akan langsung menyebutkan nama dan melakukan kritikan melalui media yang dibaca oleh banyak orang di kawasan Bandung kala itu. Akibatnya percekcokan kerap terjadi dan sempat membuat TAS dibuang ke 2 bulan ke Lampung.
Seorang Organisatoris yang Andal
Bersamaan dengan berdirinya Medan Prijaji yang menjadi koran nasional pertama Indonesia. TAS juga mendirikan sebuah organisasi Sarekat Dagang Islam di Surakarta dengan Haji Samanhudi. Organisasi ini bergerak di biang perdagangan terutama pedagang-pedagang muslim yang ada di Indonesia untuk mampu bersaing dengan pedagang yang berasal dari kaum Tionghoa.
Jurnalis Paling Dibenci oleh Belanda
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, tulisan-tulisan yang dibuat oleh TAS selalu membuat Belanda jadi tersulut. Kritik-kritik yang dilakukan olehnya membuat Belanda jadi berang. Bahkan ada tahun 1912 Medan Prijaji yang dijalankan oleh TAS mendapatkan delik pers dan dianggap sebagai penghina Residen Ravenswaii dan Residen Boissavain yang dituduh menghalangi Suami Kartini untuk menggantikan ayahnya.
Demikianlah sekelumit kisah tentang Tirto Adhi Soerjo yang merupakan Bapak Pers Indonesia. Tanpa hadirnya beliau mungkin pers Indonesia tidak akan semaju sekarang.