Sejak dulu menjadi atlet sepertinya merupakan pilihan yang tak banyak diambil oleh masyarakat Indonesia. Hal itu tak lepas dari tak adanya jaminan hari tua yang akan didapatkan setelah pensiun nanti. Para orang tua pun jadi khawatir dan mungkin banyak yang kurang mendukung jika anak-anak mereka memiliki cita-cita sebagai atlet.
Tak heran, karena memang begitu banyak cerita tragis dari para mantan atlet yang menghabiskan masa tuanya dengan bekerja keras. Sebut saja Leni Haini, atlet perahu naga yang kini bekerja sebagai buruh cuci, Suharto atlet balap sepeda yang menjadi tukang becak dan juga Marina, atlet silat yang jadi sopir taksi.
Kali ini, yang akan kita bahas adalah kisah Denny Thios. Beliau adalah salah satu atlet yang membanggakan pada tahun 80 hingga 90an. Namun di masa tuanya, Denny harus bekerja keras menjadi tukang las. Berikut ini adalah cerita Denny selengkapnya.
Meneruskan usaha orang tua
Lima kali ikut kejuaraan dunia, tiga kali mendapat medali emas
Pernah pecahkan rekor
Sudah meninggal dunia
Pada tahun 2018 silam, Deddy Corbuzier sebagai pembawa acara Hitam Putih pernah berniat untuk mengundang Denny Thios dalam acara yang ia pandu. Di momen tersebut, Deddy mengenalkan dan membahas jasa-jasa besar Denny yang sudah sering membawa pulang medali emas tingkat internasional untuk Indonesia. Yang aneh, Denny tak datang langsung dalam acara tersebut, hingga akhirnya Deddy Corbuzier menjelaskan jika beliau ternyata telah meninggal dunia pada tanggal 29 Mei 2018 di usia 49 tahun. Yang miris, meninggalnya Denny Thios tak banyak diketahui. Hal ini tentu begitu miris, karena sosoknya seolah dilupakan begitu saja setelah pensiun menjadi atlet.
BACA JUGA: Nasib Soeharto, Atlet Tunanetra Legendaris Indonesia yang Terlupakan Zaman
Jika membahas soal atlet, rasanya memang cukup bikin miris. Terlebih jika mereka menjalani hidup yang sangat berat di masa tuanya. Perjuangan untuk mengharumkan nama bangsa di masa lalu seolah terlupakan. Semoga ke depannya Indonesia lebih memerhatikan para atletnya, hingga tak ada lagi keraguan orang tua jika anak-anak mereka memiliki bakat dan minat dalam cabang olahraga.