in

Nasib Soeharto, Atlet Tunanetra Legendaris Indonesia yang Terlupakan Zaman

Di zaman sekarang menjadi atlet berprestasi di Indonesia itu enak. Nggak hanya bakal punya nama karena tenar di sosmed, tapi juga bejibun bonus. Tak peduli apa pun latar belakangnya, asal punya cerita pernah bikin bangga Indonesia, maka jaminannya adalah kenyamanan hidup. Sayangnya, hal seperti ini agaknya jarang dirasakan oleh para atlet-atlet zaman dulu.

Ya, banyak atlet berprestasi di masa lalu kini nasibnya memprihatinkan. Salah satu contohnya adalah Soeharto. Atlet tunanetra ini pernah bikin bangga Indonesia di kancah internasional. Berkat jasanya, bangsa di luar sana memandang kagum terhadap prestasi olahraga Indonesia, khususnya para atlet disabilitas. Sayang, di masa tuanya, sang atlet emas ini mengalami nasib tidak beruntung. Soeharto berujung menjadi tukang pijat, yang mana profesi itu adalah usahanya untuk bisa tetap hidup.

Atlet disabilitas yang berprestasi sejak muda

Ukir prestasi skala internasional [sumber gambar]
Sedari muda, Soeharto telah menunjukan bakatnya sebagai atlet olahraga. ia mulai membangun karirnya sebagai olahragawan sejak usia 26 tahun. Karena mengalami kebutaan pada umur 19 tahun, Soeharto masuk kategori atlet disabilitas. Meski demikian, ia sanggup meraih prestasi yang gemilang di tengah keterbatasannya. Sejumlah medali yang disimpannya hingga kini, menjadi bukti bahwa dirinya bukanlah atlet biasa.

Kerap ukir prestasi nasional dan internasional

Atlet berprestasi sejak muda [sumber gambar]

Pada tahun 1976, Soeharto mendapatkan dua perunggu dari lari cepat dan tolak peluru, dalam ajang Far East and South Pacific (FESPIC) Games di Jakarta. Setahun berikutnya di tahun 1977, ia berhasil meraih dua medali perunggu untuk panca lomba, dan emas untuk lempar lembing di ajang FESPIC Games di Australia. Untuk tahun yang sama pula, Soeharto membawa pulang medali perak untuk lempar lembing dalam International Sports Organisation for the Disabled (ISOD) Games di Inggris. Ia juga mendapatkan penghargaan dari Presiden Soeharto pada 1980-an atas jasanya di bidang olahraga.

Bekerja di yayasan sosial

Bekerja di sebuah yayasan [sumber gambar]
Setelah tak aktif lagi di dunia olahraga, Soeharto memilih mengabdikan dirinya di sekolah Yayasan Pendidikan Anak-anak Buta (YPAB) Tegalsari, Surabaya. Selain itu, ia juga ternyata kerap mengikuti donor darah hingga mendapatkan piagam penghargaan. Tercatat, ia telah menjadi pendonor darah hingga 30 kali di tahun 1986, saat usianya 36 tahun. “Saya pekerja sosial di YPAB Tegalsari, saya menyalin buku latin menjadi huruf Braille. Sudah 40 tahunan, kerja sosial, karena saya senang sosial.” kata Soeharto.

Merawat istri sembari menekuni profesi tukang pijat

Menghabiskan waktu dengan merawat istrinya [sumber gambar]
Di samping bekerja pada yayasan, Soeharto mengisi masa tuannya dengan menjadi tukang urut dan menjaga istrinya yang tengah menderita tumor otak dan infeksi di bagian pantat. Selama 3,5 tahun, ia setia merawat belahan jiwanya tersebut. Soeharto sebenarnya mendapatkan pemasukan tambahan dengan menyewakan rumah yang dulu diberi oleh Menteri Pemuda dan Olahraga, Adhyaksa Dault, pada 2008. Karena masih kosong, Soeharto pun tak memperoleh uang tambahan. Alhasil, ia pun kerap meminta tolong tetangga untuk sekedar mengganjal perut.

Dikunjungi oleh Menpora Imam Nahrawi

Bagai menanti hujan di musim kemarau, penantian Soeharto akan bantuan pemerintah akhirnya datang. Bahkan Menpora sendiri yang mendatanginya. Pak Imam mengatakan akan membantu kehidupan Soeharto menjadi lebih baik, serta menyampaikan permintaan sang atlet kepada Presiden. Pertemuan itu sendiri memang sangat melegakan dirinya yang butuh bantuan. Tak ayal ketika ketemu Menpora Soeharto sampai mencucurkan air mata.

BACA JUGA: Dibuang Negara, Cerita Pedih Atlet Berprestasi yang Jadi Tukang Becak Ini Menguras Emosi

Apa yang dialami Soeharto besar kemungkinan terjadi pada banyak atlet uzur lain. Berprestasi di masa muda, tapi diacuhkan ketika tua. Hal yang bisa kita lakukan tentu saja adalah membantu mereka. Paling tidak beritahukan kepada pihak terkait ketika menemukan para atlet berjasa yang hidupnya tak layak. Hal seperti ini mungkin tidak serta merta membuat olahraga Indonesia melejit, tapi paling tidak apresiasi pemerintah yang bagus akan membawa semangat baru bagi para atlet di masa mendatang.

Written by Dany

Menyukai dunia teknologi dan fenomena kultur digital pada masyarakat modern. Seorang SEO enthusiast, mendalami dunia blogging dan digital marketing. Hobi di bidang desain grafis dan membaca buku.

Leave a Reply

Mengenal Leanna Leonardo, Hakim Cantik Viral yang Dikira Member JKT48

Jadi Tameng Hidup Sampai Jago Silat, Ini Lho Syarat-syaratnya Kalau Mau Jadi Paspampres