Dibandingkan SMA, SMK atau dulunya familiar dengan sebutan STM lebih sedikit peminatnya. Ada banyak alasannya, misalnya orangtua takut anaknya jadi preman, hilang sopan santun dan sebagainya. Meskipun memang ada sih anak-anak STM yang seperti ini, tapi tentu tak semuanya seperti itu. Belum lagi anggapan anak STM yang identik dengan tawuran dan sebagainya. Makin memperburuk image mereka.
Alhasil, sekolah STM akhirnya dipandang sebelah mata saja. Para orangtua pun sebisa mungkin menyekolahkan anaknya hanya di SMA. Kalau tak punya uang dan kebetulan di STM lebih murah maka dengan terpaksa disekolahkan ke sana. Padahal, sekali lagi STM tidak selalu seperti ini. Ya, namun anggapan buruk remaja-remaja STM sudah terlanjut melekat di masyarakat. Misalnya saja seperti ini.
1. Tukang Bolos
Bolos merupakan aktivitas yang lekat sekali dengan anak-anak STM. Memang terkesan menghakimi dan menuduh sih namun realitanya kadang seperti ini. Cukup banyak anak-anak STM yang berangkatnya pamit sekolah namun belok ke warung-warung. Tak hanya di sana, kadang mereka juga ada di rental-rental PS atau warnet-warnet.
2. Kampungan dan Tidak Elit
Ya, anggapan satu ini juga sering dilontarkan masyarakat ketika ditanya tentang kesannya terhadap anak STM. Hal ini biasanya cukup bisa dilihat dari seragam mereka. Yup, kemeja tak dimasukkan, pakai kaos kaki yang warnanya menyolok hingga sepatu bermerek tapi KW. Kadang mereka juga melakukan modifikasi celana mengikuti tren. Dulu sempat muncul tren celana komprang yang lebar, anak-anak STM pun ramai-ramai permak celana. Begitu pula ketika tren celana model pensil. Karena budget yang seadanya, alhasil celananya kadang tak sesuai dengan bentuk tubuh.
3. Suka Tawuran dan Pergaulan Bebas
Membicarakan tentang anak STM maka tawuran adalah hal pertama yang diingat sebagian besar orang. Ya, memang beginilah mayoritas dan buktinya sudah ada bahkan sejak zaman orde baru. Meskipun masih bocah, tapi anak STM bertingkah layaknya geng. Artinya ada ketua dan anggota serta wilayah kekuasaan. Tawuran biasanya terjadi ketika geng STM yang lain ingin menguasai daerah lawannya. Atau bahkan bisa berangkat dari sekedar ejekan satu orang saja.
4. Modif Motor Seadanya Asal Kenalpot Kencang
Anak STM juga identik dengan modif motor. Namun seperti yang kita tahu, mereka melakukan hal ini seenaknya sendiri tanpa memperdulikan aturan yang ada soal kendaraan. Salah satunya adalah memasang kenalpot yang luar biasa berisik itu. Kalau motornya sport sih tidak masalah meskipun tetap mengganggu, namun anak-anak STM lebih sering menggunakan matic atau motor bebek. Jadinya tak karuan deh.
5. Minus Kerapian dan Sopan Santun
STM sangat tidak identik dengan sopan santun. Seperti image yang lekat di masyarakat, mereka anarkis, tak tahu adat dan sopan santun. Tak hanya di rumah tapi juga di sekolah. Mana ada sih anak STM yang pakai topi abu-abu, baju dimasukkan rapi, menggunakan dasi dan kelengkapan lainnya? Mereka cenderung berkebalikan. Dan hanya ketika dihukum mereka akan merapikan baju.
BACA JUGA: STM Nggak Cuma Soal Tawuran, Mereka juga Bisa Memperjuangkan Keadilan
Meskipun cenderung negatif, tak semua remaja STM seperti 5 poin di atas. Ada pula yang sangat berprestasi sampai bisa bikin mobil. Masih ingat Esemka yang sempat digaungkan Jokowi ketika masih jadi walikota dulu? Yup, itu lah sedikit dari kemampuan yang bisa dilakukan anak STM. Kini image anak STM yang urakan dan anarkis pun perlahan sirna, walaupun masih saja ada yang seperti itu. Masuk STM tak masalah kok, asal jeli dengan lingkungan serta ketahui dulu kompetensinya.