Ketika Soeharto berkuasa, banyak yang mengatakan penguasa Orde Baru itu memperlakukan dirinya bak Raja Jawa. Benedict Anderson, peneliti politik dari Amerika Serikat adalah salah satunya yang menganggap Soeharto tak lebih sebagai raja Jawa. Kyai Abdurrahman Wahid atau Gus Dur juga berpendapat sama. Saat diwawancarai di sebuah acara talk show di salah satu stasiun televisi, Gus Dur sempat melontarkan penilaiannya tentang sosok Soeharto. Menurut Gus Dur, Soeharto memang memperlakukan dirinya seperti Raja Jawa.

Soeharto berkuasa cukup lama, 32 tahun lamanya. Selama berkuasa, Soeharto dianggap menjalankan kekuasaannya dengan cara-cara diktator. Tak boleh ada kritik. Haram adanya pembangkangan. Pers dibungkam. Demokrasi diberangus. Meski ada pemilu, tak lebih itu dipakai Soeharto hanya sebagai alat legitimasi.

Saat Soeharto berkuasa, orang-orang dekatnya ikut kecipratan ‘tuah’ kekuasaan. Terutama anak-anaknya. Mereka, putra-putri Soeharto dapat konsesi bisnis dengan segala fasilitas kemudahaannya. Dan, negara yang memberikan itu. Tidak heran kemudian jika bisnis anak-anak Soeharto cepat menggurita. Saat Soeharto masih kuat bercokol, siapa yang berani bersaing dengan anak-anaknya di medan bisnis.

Tidak hanya menguasai bisnis dari hulu ke hilir, anak-anak Soeharto juga kerap ikut cawe-cawe dalam masalah politik. Bahkan kabarnya ikut pula ‘menentukan’ siapa yang bakal bantu ayahnya di kabinet. Kabar itu tentu dulu masih desas desus alias kabar burung. Tapi ternyata kabar itu benar adanya. Soeharto sendiri lengser pada 21 Mei 1998.

Anak Pak Harto Telponin Calon Menteri

Ada sebuah cerita menarik saat Soeharto akan membentuk kabinetnya. Cerita ini terjadi pada tahun 1988. Kisah tentang anak Soeharto yang ikut nelponin calon menteri yang akan membantu bapaknya di kabinet. Adalah Azwar Anas yang menceritakan itu dalam bukunya, ” Azwar Anas : Teladan dari Ranah Minang.” Dalam salah satu bab bukunya, Azwar Anas bercerita, usai tak jadi Gubernur Sumatera Barat, dia kembali ke Jakarta. Suatu hari, saat ia sudah di Jakarta, dirinya dapat telepon.

Bambang Triatmojo dan Azwar Anas

Si penelpon ternyata bukan orang sembarangan. Dia, adalah Bambang Trihatmodjo, salah satu putra Soeharto. Di telpon anak Presiden tentu adalah hal yang istimewa. Lewat telepon, Bambang Tri menyampaikan agar Azwar bersiap-siap. Kata Bambang, Azwar jadi salah satu calon menteri. Hanya saja, Bambang dalam pembicaraan lewat telepon itu, tak menyebutkan Azwar akan ditempatkan di pos kementerian mana.

Tentu saja bagi Azwar, telepon dari Bambang adalah kejutan. Ia pun merasa yakin dirinya bakal masuk jajaran kabinet Soeharto. Ia pun langsung meminta sekretarisnya, M.N. Chani, menyiapkan bahan-bahan. Bahan-bahan yang diminta terkait dengan tugas-tugas seorang Mendagri dan Menteri PU.

Azwar Anas yang Salah Kira Posisi

Azwar ketika itu mengira dirinya bakal dapat posisi sebagai Mendagri atau Menteri PU. Maka kepada sekretarisnya ia meminta bahan-bahan yang terkait dengan tugas dua kementerian itu. Azwar mengira bakal jadi Mendagri, karena berkaca pada kelaziman yang berlaku saat itu. Seorang mantan Gubernur biasanya akan diangkat jadi Mendagri. Soepardjo Roestam adalah Gubernur yang diangkat Soeharto jadi Mendagri.

Azwar Anas [Image Source]
Sampai akhirnya, Presiden Soeharto mengumumkan susunan kabinetnya. Dan benar saja, nama Azwar masuk dalam jajaran kabinet yang diumumkan Presiden. Tapi Azwar yang ketika itu sudah menyandang bintang dipundak, bukan jadi Mendagri atau Menteri PU. Namun mantan Gubernur Sumatera Barat itu diangkat Soeharto jadi Menteri Perhubungan.