Bagi sebuah negara menjadi ajang olah raga merupakan sebuah kehormatan besar. Ya, dengan datangnya para kontingen yang berasal dari luar negeri dapat menarik minat orang asing yang ingin berkunjung ke negaranya. Selain itu juga bisa membuktikan kalau negara itu rupanya juga punya pamor di mata dunia.
Namun di balik semua itu, rupanya kadang ada cerita miris yang mengikuti. Ya, sempat heboh beberapa waktu yang lalu mengenai nasib miris para migran yang dikirim ke Qatar untuk dijadikan buruh stadion piala dunia. Alih-alih kemakmuran, yang ada malah perlakukan yang tidak manusiawi. Berikut adalah nasib miris para buruh itu.
Banyak buruh yang diangkut hanya di iming-imingi janji palsu
Bisa dibilang janji manis yang pernah dilontarkan Qatar pada setiap pekerja buruh yang datang ke negaranya hanya sebuah kebohongan semata. Alih-alih mendapatkan kekayaan dan kemakmuran seperti yang dijanjikan, para buruh ini malah diperlakukan dengan tidak karuan.
Sebuah neraka dunia yang berkedok surga
Sebagai seorang pekerja yang sengaja didatangkan dari luar negeri, rupanya kehidupan yang mereka jalani di sana tak ubahnya seperti sebuah neraka. Ya, bayangkan, para migran ini setiap harinya harus bekerja tidak tahu waktu.
Tempat tinggal tidak lebih dari sebuah jeruji penjara
Pernah berkunjung ke penjara? Atau mungkin melihatnya di film-film hollywood? Ya, rupanya keadaan para buruh ini sudah sangat mirip dengan sebuah gambaran penjara. Alih-alih dapat fasilitas, yang ada malah mereka ditelantarkan layaknya para tahanan. Tanpa jendela dan kamar yang sempit, di sanalah para migran ini harus menghabiskan malam mereka.
Sudah ada lebih dari seribu nyawa yang melayang
Asal kalian tahu faktanya, berdasarkan perhitungan dari ITUC, sebuah konfederasi perdagangan internasional sudah ada seribu orang yang meninggal sejak Qatar sedang semangat-semangatnya membangun stadion piala dunia hingga 2015. Mungkin saja jumlahnya bertambah setiap tahunnya.
Kalau seperti ini jadi bingung siapa yang harus disalahkan. Sudah banyak yang melakukan protes, namun masih saja terjadi hal serupa. Ini pelajaran buat Indonesia ke depannya tidak hanya mengedepankan pamor negara tapi juga nasib para pekerjanya.