Makin hari, pasukan militan ISIS malah kian tumbuh subur. Ya, itu semua tidak terlepas dari propaganda mereka yang sangat menggiurkan. Mulai dari iming-iming kekayaan, pemuas syahwat hingga mendapatkan surga pernah mereka ucapkan. Padahal hal itu hanyalah sebuah kebohongan semata. Alhasil banyak orang tertipu ketika bergabung dengannya, salah satunya adalah orang-orang Indonesia.
Ya, seperti dijelaskan sebelumnya, rupanya banyak orang Indonesia yang juga bergabung dengan ISIS. Namun bukannya sebuah kemakmuran yang mereka dapat, malah penderitaan pahit yang diterima. Bahkan tak jarang yang juga harus meregang nyawa. Berikut adalah kisah para WNI yang bernasib tragis setelah bergabung dengan ISIS.
Seorang martir muda yang harus meregang nyawa
Sebuah nasib miris terjadi oleh bocah yang satu ini. Pasalnya seorang anak lelaki bernama Hatf Saiful Rasul akhir-akhir ini jadi perbincangan oleh para netizen. Bagaimana tidak, bocah belia ini diketahui telah tewas akibat terkena serangan rudal saat membela pasukan militan ISIS. Memang tidak bisa dibayangkan, kalau anak berumur 11 tahun bisa pergi ke Suriah menjadi seorang militan.
Gabung ISIS karena ingin tajir, nyatanya hanya digaji 600 ribu
Siapa sangka propaganda yang diumumkan oleh ISIS melalui berbagai media seperti youtube dan lain-lain itu ternyata hanyalah bualan semata. Ya, hal itu benar-benar dibuktikan oleh salah satu mantan penjual bakso asal kota Malang yang sempat bergabung dengan pasukan militan. Alih-alih digaji dengan uang luar biasa, mereka yang jadi relawan hanya diberi uang Rp 600 ribu selama sebulan.
Hanya diperalat oleh janji manis ISIS
Cerita lain dikemukakan oleh WNI lain asal Indonesia di Suriah. Nurshardrina Khairadhania, gadis berumur 19 tahun ini mengaku telah ditipu mentah-mentah oleh pasukan ISIS yang ada di Suriah. Ya, awalnya perempuan ini bergabung bersama ISIS dengan keluarganya karena ingin belajar lebih dalam mengenai agama Islam. Yang terjadi di sana, sama sekali berbeda dengan apa yang ia bayangkan.
Karir hilang dan malah jadi buronan gara-gara ISIS
Nasib serupa ternyata juga terjadi pada salah seorang calon pilot dari salah satu sekolah penerbangan di Indonesia. Ya, Yoki Pratama Windyaryo, lebih memilih untuk bergabung dengan militan ISIS Filipina di Mawari ketimbang meneruskan jenjang karirnya.
Dari sekian kisah itu kita sadar bahwa apa yang selama ini digembar-gemborkan oleh ISIS itu hanyalah sebuah kebohongan semata, yang ada hanya kemalangan yang bakal didapatkan. Sekali lagi, ISIS sama sekali tidak mencerminkan sebuah organisasi agama, justru yang ada malah sebaliknya.