Kita mungkin sudah tak asing lagi dengan Hollywood atau pun Bollywood. Bagaimana tidak, dua tempat produksi film tersebut sudah terkenal di seantero jagat. Hollywood terkenal dengan berbagai bintang ternamanya serta visual efek yang luar biasa. Sebaliknya, Bollywood juga tenar melalui film bertabur nyanyian dan joget khas India. Bisa dibilang keduanya jadi raja film dunia.
Namun siapa sanga di Uganda juga berkembang produksi film yang siap bersaing dengan keduanya. Meski sekarang masih tahap sederhana namun, banyak orang yang mengaku optimis dengan Wakaliwood ini. Lalu seperti apa sih produksi film khas Uganda ini sebenarnya? Simak ulasan berikut.
Nabwana Isaac Godfrey, si jenius di balik terciptanya Wakaliwood
Salah satu daerah di Uganda bernama Wakaliga, ternyata diam-diam menjadi sebuah industri film yang diakui dunia. Ya, terlepas dari status negara yang dianggap sedang mengalami kemiskinan ini, siapa sangka kalau daerah ini aktif tiap tahunnya memproduksi sebuah film. Dialah Nabwana Isaac Godfrey pria yang secara otodidak membangun Wakaliwood dengan jerih payahnya.

Semua tidak terlepas dari masa lalunya yang gemar dengan film laga, namun bedanya Nabwana Isaac Godfrey tidak melihatnya secara langsung, namuan hanya mendengar kakaknya bercerita. Bermodal uang yang dikumpulkan dari kuli dan ilmu otodidak mengenai perfilman, dirinya sukses membuat tontonan serupa Rambo dan film laga lainnya.
Kru kebanyakan adalah keluarga. teman dan tentangga, alatnnya pun dibuat sendiri
Jangan bayangkan kalau film dari Wakaliwood ini memiliki efek serupa dengan Hollywood. Sebaliknya, dengan efek menggelitik dan alat film buatan tangan menjadi ciri khas dari film ini. Kalau dilihat mungkin efek yang ada tak jauh beda dengan sinetron laga atau film Indonesia zaman dulu. Namun jika melihat aksi laga yang Wakaliwood tampilkan, dijamin tak akan kalah dengan film kungfu China hingga Hollywood.

Itu bukan hal yang aneh mengingat bahkan di Wakaliga ada sekolah kungfu yang mempersiapkan aktor sejak dini. Belum lagi di sana juga ada ahli pembuat senjata, bukan dalam artian sebenarnya namun replikanya saja. Jadi jangan kaget kalau ada pluru dari kayu namun sangat mirip dengan aslinya.
Bikin salah satu produser asal Amerika kepincut
Alan Hofmanis adalah salah satu produser berpengalaman asal Amerika. Namun siapa sangka kalau dirinya rela menjual semua harta yang dimiliki hanya untuk pergi ke Wakaliga. Ya, itu semua berawal saat Hofmanis melihat film garapan Nabwana yang memiliki ciri khas tersendiri. Meskipun efeknya masih sangat sederhana dan acak-acakan, namun tak menampik fakta kalau Nabwana adalah sutradara jenius.
Bukan ditayangkan di bioskop, namun dijual ke rumah-rumah warga
Ada yang berbeda dengan film-film di Wakaliwood ini, alih-alih diputar di bioskop yang ada malah dijual diwarga layaknya loper koran. Tak sampai di situ, uniknya film-film dari Ramon Production (rumah produksi milik Nabwana) ini punya jenjang waktu dalam menjual film. Ya, dalam beberapa minggu CD film dari Nabwana harus terjual habis. Bukan karena apa, pasalnya jika lebih lama dari itu bisa dipastikan bakal banyak pembajakan yang ditemui.
Sederhana mungkin, namun kita lihat bagaimana keseriusan Wakaliwood untuk membuat sebuah film. Semangat dan pantang menyerah dari Nabwana dan para kru lainnya inilah yang membuat banyak orang salut. Tak menutup kemungkinan industri film Uganda ini kelak bisa berkembang bersaing dengan yang lainnya.