Wafer merupakan jajanan yang mudah ditemui di mana saja. Selain renyah, wafer juga merupakan panganan yang digemari berbagai usia. Sayangnya, baru-baru ini muncul sebuah wafer coklat yang berisi silet dan staples.
Tentu saja hal ini sangat membahayakan, apalagi jika dikonsumsi anak kecil. Kasus yang baru-baru ini terjadi di Indonesia tentu membuat banyak orang khawatir. Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa pelaku tega melakukan hal tersebut? Berikut ulasan selengkapnya.
Kronologi kejadian
Sebuah teror wafer berisi silet dan staples tengah membuat warga Jember gelisah. Teror bermula dari seorang pria tak dikenal yang membagikan wafer pada Sabtu (31/7/2021) pukul 10.30 WIB. Aksinya tersebut dilakukan di kawasan Jember, tepatnya di Jalan Manggis dan Jalan Cempedak. Kejadian tersebut disaksikan oleh anak berusia 6 tahun yang merupakan anak seorang warga bernama Pak Yasin.
Sosok dan motif pelaku
Setelah mendapat laporan, polisi bergegas mencari pelaku. AKP Heri Supadmo mengaku jika pihak kepolisian sempat kesulitan mengidentifikasi pelaku, karena aksinya menggunakan jaket bertudung. Polisi akhirnya berhasil menangkap pelaku bernama AG (43), merupakan seorang pria yang hidup sebatang kara dan tidak memiliki pekerjaan. Ia ditangkap di kediamannya, di Jalan Manggis pada Selasa (3/8/2021).
Hukuman yang akan didapatkan
Saat diperiksa, AG terlihat menggunakan peci berwarna hitam putih dan mengenakan baju batik. AG ternyata melakukan aksi tersebut lebih dari 10 kali. Namun, ia tidak menjelaskan secara detail lokasi tempat ia beraksi sebelumnya.
Mayora menuntut pelaku
Dilansir melalui laman TvOne News, PT Mayora Indah Tbk tengah mengajukan laporan ke Mapolres Jember. Pihaknya merasa dirugikan dengan kasus teror tersebut. Mereka khawatir jika masyarakat akan enggan membeli produk Mayora. Pasalnya, kasus teror tersebut menggunakan wafer Superstar milik Mayora.
BACA JUGA: 4 Fakta Takjil Sate Maut yang Tewaskan Anak Driver Ojol, Sakit Hati Berujung Hukuman Mati!
Sudah semestinya sebagai warga yang baik kita tak perlu takut atau khawatir hingga membuat aksi-aksi yang justru membahayakan masyarakat. Lebih baik bekerja sama dengan menaati aturan pemerintah dan menjaga diri serta keluarga.