Categories: Tips

Ulama Besar Ini, Ternyata ‘Mentor’ Jurnalistik Jempolan  

Mohammad Natsir, selain dianggap sebagai politisi negarawan, dia juga adalah ulama besar. Pengetahuannya tentang Islam, tak diragukan lagi. Bahkan, banyak aktivis dan cendekiawan yang berguru padanya. Mendiang cendekiawan muslim Noercholis Madjid sering dianggap sebagai murid terbaik Pak Natsir. Tokoh lain yang sering disebut muridnya Pak Natsir adalah Yusril Ihza Mahendra. Bahkan Yusril, kerap disebut sebagai ‘Natsir muda’.

Nah, ada sebuah kisah menarik tentang Pak Natsir. Kisah menarik ini tentang Pak Natsir saat mengajari seorang wartawan bernama Marthias Dusky Pandoe. Marthias, adalah salah satu wartawan yang pernah malang melintang di negeri ini. Dia, pernah jadi reporter Ken Po, koran tua yang pernah eksis pada tahun 50-an.

Mohammad Natsir dan Muridnya Yusril Ihza Mahenda [Image Source]
Marthias juga, pernah tercatat sebagai wartawan Abadi, koran yang kelahirannya dibidani Pak Natsir. Terakhir, Marthias berkarir di Kompas, koran terbesar di Indonesia saat ini. Di Kompas, Marthias bekerja sampai 20 tahun lamanya. Sampai kemudian ia pensiun tahun 1998. Kini dia telah meninggal.Pengalamannya diajari Pak Natsir, ia tuangkan dalam buku biografinya berjudul,”  Jernih Melihat, Cermat Mencatat : Antologi Karya Jurnalistik Wartawan Senior Kompas.” Pak Natsir sendiri memang senang dengan anak muda yang kritis. Anak muda yang berani berpikir progresif. Ia kerap mendidik langsung anak muda yang menurutnya ecerdas dan punya talenta.

Pak Natsir menyukai anak muda yang kritis [Image Source]
Pak Natsir juga senang menulis. Dunia jurnalistik salah satu yang sukainya. Bahkan Pak Natsir punya pemahaman mendalam tentang segala hal yang terkait dengan jurnalistik. Tentang itu, Marthias punya kenangan tersendiri. Dalam bukunya, Marthias menceritakan kedekatannya dengan Pak Natsir. Ia mulai kenal Pak Natsir, ketika dikenalkan oleh Rasjidin Rasjid, salah satu kerabat pendiri Masyumi tersebut.Sejak itu ia dekat. Bahkan Pak Natsir kerap mengajaknya pergi bareng. Marthias sering diajak Pak Natsir​ naik mobil pribadinya. Pak Natsir pula yang menyuruh Marthias ikut kursus​ steno, teknik menulis cepat. Pak Natsir yang membayarinya. Pak Natsir pula yang membayari biaya les bahasa Inggris.

Kedekatan Pak Natsir dengan Marthias [Image Source]
Nah, setiap bepergian bareng, di atas mobil, Pak Natsir​ kerap memberi Marthias pelajaran jurnalistik. Dengan telaten, Pak Natsir mengajari, mulai dari soal 5 W dan 1 H, hingga bagaimana membuat tulisan dengan teknik piramida terbalik. Menurut Pak Natsir salah satu yang harus dipegang teguh wartawan adalah chek and richek. Pak Natsir​ juga selalu mewanti-wanti​, agar jangan buat berita karena pesanan sponsor.Marthias juga masih ingat, Pak Natsir mengajari bagaimana tulisan yang baik. Kata Pak Natsir, tulisan​ yang baik, kalimatnya pendek-pendek. Kalimat panjang hanya membosankan pembaca. Bahkan Pak Natsir juga mencontohkan bagaimana​ buat lead yang baik. Lead yang baik, menurut Pak Natsir, paling banter memuat 30 kata. Sebisa mungkin lead itu memuat unsur 5 W dan 1 H.

Pak Natsir memberikan semua ilmu jurnalistiknya kepada Marthias [Image Source]
Dalam bukunya, Marthias juga mengenang, bagaimana​ Pak Natsir mengajarinya tentang letak tanda baca, seperti titik, koma, tanda tanya, tanda seru. Bahkan Pak Natsir​ juga mengajarinya cara membuat tanda kutip yang benar.Wejangan lain dari Pak Natsir yang terus diingat Marthias, adalah tentang penggunaan bahasa Indonesia. Pak Natsir selalu mewanti-wanti jangan sok menggunakan bahasa asing, sepanjang masih ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Banyak pelajaran jurnalistik yang diberikan Pak Natsir, mulai dari cara membuat spotnews, feature, investigative reporting sampai depth news.

Potret Pak Natsir muda [Image Source]
Bahkan Pak Natsir tak segan merogoh uang dari koceknya sendiri untuk membiayai Marthias menambah pengetahuan. Pada tahun 70-an, Marthias pernah akan dikirim ke Hongkong ikut training jurnalistik. Semua biaya ditanggung Pak Natsir. Sayang, training itu batal. Ketika dia memutuskan masuk Kompas, Pak Natsir sempat kaget. Saat itu, Kompas dikenal sebagai media yang didirikan oleh orang katolik. Tapi, setelah dijelaskan alasannya, Pak Natsir memahaminya.Saat itu, Pak Nastir hanya berpesan, boleh terus mengembangkan karir jurnalistik dimana saja, tapi sekali-kali jangan terjual akidah.  Pak Natsir, ulama besar itu telah lama wafat. Muridnya, Marthias Dusky Pandoe juga telah meninggal. Tinggal jejak mereka yang abadi dalam sebuah buku. Jejak yang bisa dibaca oleh generasi berikutnya. Jejak yang bisa jadi bahan pelajaran.

Share
Published by
Agus Supriyatna

Recent Posts

Statemen Arra Bocah Viral Dianggap Menyinggung Pekerja Pabrik, Ortu Dikritik Netizen dan Psikolog

Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…

1 week ago

Profil Fedi Nuril, Sang Aktor yang Gencar Kritik Pemerintah dan Pejabat Publik

Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…

2 weeks ago

Kontroversi RUU TNI yang Mendapat Penolakan Masyarakat

Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…

2 weeks ago

Indonesia Airlines, Maskapai Indo tapi Memilih Berpusat di Singapura

Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…

2 weeks ago

Kasus Pencabulan oleh Kapolres Ngada, Akhirnya Pelaku Dimutasi

Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…

3 weeks ago

Terkuaknya Skandal Aktor Termahal Korea Selatan, Netizen: Hindari Pria Korea

Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…

3 weeks ago