Dua Belas tahun menempuh pendidikan dasar memang tak lagi cukup untuk membawa pelajar melenggang mudah memasuki dunia kerja. Kini diperlukan tambahan ijazah perguruan tinggi untuk bisa ikut berlomba mencari pekerjaan yang bergaji ‘cukup’ di dunia nyata. Bahkan sembarang perguruan tinggi pun bukan jaminan bagi pelajar untuk bisa memasukan lamaran pekerjaan nantinya. Akreditasi dan prestise perguruan tinggi ikut dicari! Karenanya, kesempatan untuk masuk dan berhasil menjadi mahasiswa di Perguruan Tinggi Negeri menjadi buruan setiap lulusan SMA dan SMK di Indonesia.
Di tahun 2018 ada lima jalur masuk perguruan tinggi yang telah disediakan pemerintah. Dimulai pada awal tahun, melalui jalur SNMPTN telah berhasil menjaring lebih dari 100 ribu lulusan SMA dan sederajat. Dan pada hari ini (08/5), terdapat 860.001 peserta yang telah mendaftar untuk kembali mencoba peruntungannya di SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Bukan hanya sebuah kompetisi yang berat, namun kali ini disebut ujian SBMPTN berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Disebut lebih sulit, benarkah?
Kalau orang bilang, sulit dan mudah itu relatif. Namun disebutkan oleh ketua panitia Pusat Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru PTN, bahwa untuk soal SBMPTN tahun ini akan lebih susah dari soal UNBK! (dilansir dari CNN, 18/4). Wah, tentu ini menjadi satu peringatan bagi peserta ujian untuk meningkatkan kemampuan belajar mereka. Jangan sampai kesempatan emas untuk bisa menjadi mahasiswa di kampus impian kandas karena kurang siapnya menghadapi soal SBMPTN yang lebih ganas ketimbang UNBK.
Memakai sistem penilaian yang lebih rumit
Jika sebelumnya penilaian soal ujian SBMPTN menggunakan skor total dari jawaban, maka lain dengan cara penilaian untuk tahun ini. Di tahun 2017, peserta akan mendapat skor 4 jika menjawab dengan benar, mendapat skor -1 jika jawaban salah dan skor nol jika tidak menjawab soal. Namun di tahun 2018, konsep penilaian akan dibuat dengan mengkategorikan nilai soal sesuai tingkat kesulitannya. Konsep ini disebut dengan Teori Tes Modern atau dikenal dengan Teori Respons Butir (Item Response Theory/IRT).
Tak ada celah untuk joki ujian
Berharap bisa lolos dengan bantuan pihak luar? Sepertinya akan sulit untuk tahun ini. Pasalnya selain sistem pengaman soal yang sudah diperketat dengan sistem informatika canggih, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi pun telah menjamin akan menindak tegas kecurangan-kecurangan di ujian SBMPTN kali ini. Sanksi berat akan dijatuhkan kepada siapapun yang kedapatan menjadi ataupun memakai jasa joki. Mulai dari hukuman dikeluarkan dari perguruan tinggi jika masih menjadi mahasiswa aktif di kampusnya, hingga sanksi pemecatan bagi panitia yang terbukti membantu peserta ujian. Dan bagi pengguna jasa joki pun akan langsung dinyatakan gugur jika ketahuan melakukan kecurangan saat ujian!
Ciptakan generasi berdaya saing dunia
Pemerintah memang sedang berupaya untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih baik di Indonesia. Terlebih dengan menengok kualitas pelajar Indonesia yang masih berada di bawah rata-rata global. Menurut hasil PISA (Programme for International Student Assessment) di tahun 2015, Indonesia masih menduduki peringkat ke 62 dari 72 negara yang terlibat, dilansir dari Youth Corp Indonesia (21/5). Hal ini tentu menjadi pecutan bagi pemerintah untuk terus bergerak aktif dalam usaha memajukan pendidikan di tanah air.
Belajar memang tak selalu dari bangku sekolah, namun dengan bersekolah akan ada jaminan bagi manusia untuk tetap ‘berdaya’ hingga tua. Meski bukan hal mudah untuk dapat ‘tiket’ dari kampus impian, namun dengan usaha dan doa tidak ada hal yang tidak mungkin! Semoga ujian SBMPTN ini bisa jadi gerbang kesuksesan dan pembelajaran bagi kalian muda-mudi penerus bangsa! Tetep semangat!