in

Peristiwa Turki Membantu Demak Memenangkan Perang Jawa yang Tak Banyak Diketahui

Perang dan persekutuan tampaknya tidak bisa dipisahkan. Keduanya sudah saling terikat sejak beratus-ratus tahun lalu hingga sekarang. Tak terkecuali kerajaan-kerajaan yang berada di Indonesia. Mereka selalu menyempatkan mencari sekutu untuk membantu mereka berperang. Lihat saja kerajaan Demak yang pernah meminta bantuan Turki untuk menyerang Majapahit. Tak peduli sekutumu berada di belahan dunia lain, asalkan mereka bisa membantu memenangkan pertarungan!

Kisah keterlibatan pihak asing dalam perang Jawa ini memang tidak banyak diceritakan. Sekitar 600 tahun lalu, Indonesia telah banyak berinteraksi dengan dunia internasional, khususnya di bidang perdagangan. Orang Tionghoa, India, Arab, hingga Eropa pernah berkunjung ke Negara yang kaya akan rempah-rempah ini. Saat itu Majapahit masih berkuasa dan menjadi Negara yang sangat kaya berkat perdagangan rempah-rempah dan tambang emas. Namun rupanya kejayaan itu tidak berlangsung lama. Kekayaan Majapahit membuat orang bernafsu untuk menguasainya. Hingga akhirnya perang pun tidak dapat dihindari.

Awal Mula Perang

Brawijaya [Image Source]
Brawijaya merupakan raja terakhir Majapahit sebelum kerajaan ini kehilangan pengaruhnya di Nusantara. Ia bukanlah raja yang disukai rakyatnya karena kebijakan-kebijakannya dan memiliki terlalu banyak selir. Bahkan ia memiliki beberapa selir dari Tionghoa dan beragama Islam. Kekuasaannya pun didapat dengan melakukan kudeta pada raja sebelumnya, yaitu Singhawikramawardhana yang kemudian mengasingkan diri ke Daha.

Sepeninggal Singhawikramawardhana, putranya yang bernama Ranawijaya berusaha merebut kembali kekuasaan Majapahit. Ia pun menyerang ibu kota dan membunuh Brawijaya. Ia mendapatkan kekuasaan dan memindahkan ibu kota Majapahit ke Daha.

Dendam Raden Patah

Raden Patah [Image Source]

Seperti yang disebutkan sebelumnya, Brawijaya memiliki banyak selir dan anak. Salah satunya adalah Raden Patah, raja Demak. Ia mendengar serangan Ranawijaya yang menewaskan ayahnya. Amarahnya pun tersulut. Dengan tekad untuk membalaskan dendam Brawijaya, Raden Patah menyusun serangan pada Ranawijaya.

Bantuan dari Turki

Ilustrasi pasukan Majapahit [Image Source]
Kerajaan Aceh memiliki hubungan yang erat dengan Turki Ottoman. Itulah yang menyebabkan Belanda tidak bisa menjajah Aceh hingga runtuhnya Turki Ottoman. Mendengar Kerajaan Demak membutuhkan bala bantuan untuk menyerang Majapahit yang saat itu dikuasai Patih Udara, Kerajaan Aceh mengirimkan bantuan dari Turki Ottoman. Tentunya ini tidak lepas dari solidaritas mereka sebagai sesama Muslim.

Patih Udara pun tidak mau kalah. Ia mencari bala bantuan ke Singapura, tempat para pedagang asing berkumpul. Ia meminta bantuin Portugis yang kala itu adalah negara terkuat di dunia. Sayangnya Portugis tidak melihat adanya keuntungan dengan membantu Majapahit yang ibu kotanya tidak strategis. Saat Kerajaan Demak menyerang, Majapahit yang tidak memiliki kekuatan apapun akhirnya berakhir. Para pendukung Ranawijaya dan Patih Udara mengungsi ke Bali dan Kerajaan Demak menjadi penguasa Pulau Jawa.

Pada akhirnya, perang ini pun bukan hanya pembalasan dendam dan perebutan tahta, tetapi juga perang agama. Kerajaan Turki Ottoman menganggap perang ini akan menjadi awal bagi Islam untuk menyebar lebih jauh hingga ke seluruh Pulau Jawa. Itu salah satu alasan mengapa mereka setuju untuk membantu Demak di samping mereka menginginkan hubungan perdagangan yang lebih erat.

Jika kita dalami lagi sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia, banyak sekali pihak asing yang bersekutu dengan raja-raja untuk berperang melawan satu sama lain. Inilah yang kemudian menciptakan devide et impera.

Written by Aisyah Putri

Leave a Reply

Canis Majoris, Bintang Raksasa yang Mampu Menelan Separuh Tata Surya

SEAL Team Six

SEAL Team Six, Pasukan Khusus Amerika yang Paling Ditakuti Dunia