Pijat merupakan salah satu alternatif favorit banyak masyarakat yang tak lekang oleh waktu. Kalau dulu kakek dan nenek kita menggunakan jasa pijat di kala tubuh sudah mulai merasa tak enak, saat ini sepertinya pijat sudah naik kelas. Profesi yang erat kaitannya dengan aneka minyak berbau menyengat dengan khasiat manjur untuk berbagai penyakit ini sekarang sudah mulai bisa ditemukan di salon-salon berbau wangi.
Fungsi pijat sekarang memang sudah semakin kaya saja, mulai dari menghindarkan penyakit, membuang jauh rasa pegal-pegal, relaksasi, sampai membenarkan tulang-tulang bermasalah. Dan bila kita berbicara mengenai tukang pijat, belum pas rasanya bila tidak membahas sosok pria asli Banyuwangi bernama Ahmad Jumali. Pria 62 tahun ini kabarnya adalah salah satu tukang pijat di Indonesia yang jasanya sudah dikenal sampai Eropa.
Tukang pijat adalah profesi keluarga turun temurun
Sepertinya memang benar ya kalau kemampuan pijat orang-orang di daerah-daerah di Indonesia itu dari hasil turun temurun keluarga. Contohnya saja Pak Jumali ini yang sudah berprofesi sebagai tukang pijat sejak tahun 1983. Pria asal Desa Gintangan, Banyuwangi ini mengaku bahwa ilmu pijatnya diperoleh secara turun-temurun sejak zaman buyutnya yang entah sudah berapa tahun lalu dilewati.
Nama Ahmad Jumali terkenal di seantero Indonesia dan mancanegara
Ahmad Jumali bisa dibilang adalah salah satu tukang pijat tanah air yang sangat populer. Pasalnya menurut sang istri, pria ini sudah mulai memijat sejak usianya masih muda. Dan dulunya hampir setiap minggu Jumali selalu mendapat panggilan untuk memijat di luar kota dan provinsi. Tak peduli seberapa jauh jarak yang harus ditempuh, Jumali tetap akan berangkat. Baik itu menuju daerah Jakarta, Balikpapan, Tarakan, bahkan Kendari.
Saat ini gantian para pasien yang bertandang ke rumah Jumali
Saat usianya masih muda tentu saja sang pemijat masih kuat bila harus bertandang ke luar kota maupun luar negeri demi pasien. Namun karena sekarang Ahmad Jumali sudah tak lagi muda dan lebih mudah merasa lelah, maka pasien lah yang bertandang ke rumahnya di Banyuwangi. Bahkan di rumah dia dan istri sudah menyediakan kamar khusus untuk pasien yang mau menginap karena mayoritas memang berasal dari kota lain seperti Malang, Surabaya, dan Bali.
Pasien bebas membayar seikhlasnya
Nama Jumali sebagai tukang pijat memang bisa dibilang sudah sangat populer. Meski demikian, pria 62 tahun ini tidak pernah menetapkan tarif untuk semua pasiennya. Jumali bercerita bahwa sebelumnya sang ayah sudah menasihati pria ini untuk menggunakan keahliannya guna menolong orang. Oleh karena itu tidak diperkenankan untuk Jumali meminta imbalan maupun menentukan tarif.
Ada banyak hal yang sudah sepantasnya kita pelajari dari sosok Ahmad Jumali ini, yang salah satunya adalah rasa ikhlas untuk menolong sesama. Meskipun keahlian memijatnya sudah dikenal di hampir seluruh Indonesia bahkan Eropa, tapi pria ini tetap menunjukkan kerendahan hatinya. Andai saja ada banyak orang yang memiliki sikap seperti Ahmad Jumali, mungkin saja lingkungan kita akan terasa semakin adem ayem ya dan tidak ada lagi yang namanya pegel hati apalagi fisik.