Melakukan pendakian merupakan hal yang menyenangkan. Selain dapat berbaur dengan alam secara nyata, mereka juga dapat melihat berbagai keindahan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Namun dibalik semua hal yang menyenangkan, kegiatan ini juga memiliki risiko besar, mulai dari cidera hingga kematian.
Hal inilah yang terjadi beberapa tahun silam. Santri sebuah pondok pesantren nekat naik ke Gunung Lawu dengan perbekalan seadanya. Alhasil, bukannya berbahagia melihat pemandangan justru kabar duka yang mereka dengar. Bagaimana kisah tersebut terjadi? Berikut informasinya.
109 santri naik ke Gunung Lawu
Pada liburan akhir tahun 1987 silam, Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngurki, Sukoharjo, merencanakan untuk berkemah di Lereng Gunung Lawu, Magetan, Jawa Timur. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengenalkan para santri dengan alam terbuka. Mereka berencana untuk melakukan kegiatan alam selama 4 hari, yang dimulai pada hari Senin, 14 Desember 1987 dan kembali pada hari Kamis, 17 Desember 1987. Sebelum berangkat, mereka juga telah mempersiapkan banyak perbekalan.
Minimnya persiapan dan perbekalan
Sebelum santri melakukan kegiatan, mereka sempat mendirikan tenda besar sejumlah 7 buah yang cukup untuk menampung mereka semua. Namun, cuaca pada hari itu tidak begitu mendukung. Para santri yang bersiap untuk kegiatan, hanya membawa perbekalan makanan untuk satu hari saja. Mereka juga menggunakan kaos sehari-hari dan sarung untuk menghangatkan tubuh mereka. Karena pada tahun itu, perlengkapan naik gunung belum sepopuler sekarang.
Meninggal akibat hipotermia dan kelaparan
Suasana semakin mencekam lantaran mendung dan hujan lebat turun sejak siang hari. Beberapa regu sudah mulai kembali ke perkemahan, regu 1, disusul regu 6, dan regu 5. Namun nahasnya, regu 2 dan regu 3 belum juga kembali hingga keesokan paginya. Regu 2 harus bermalam lantaran semalam hujan turun cukup deras dan jalanan yang licin. Perbekalan sudah habis, beruntungnya mereka berhasil turun ke perkemahan dengan mengikuti pipa selang air.
Terdapat satu saksi hidup
Akhirnya, tim SAR melakukan penyisiran dan mengevakuasi santri yang tersisa. Sedangkan jenazah santri yang meniggal dunia dikumpulkan di aula pondok untuk didintifikasi oleh orang tua masing-masing. Korban meninggal dunia sejumlah 16 orang, termasuk 15 santri yang rata-rata berusia 13 sampai 22 tahun, dan ustaz Abdul Wahab. Terdapat salah seorang yang selamat dari tragedi ini, yaitu Khumaidi yang merupakan seorang pembimbing di regu 3.
BACA JUGA: Tragedi Terowongan Paledang, Peristiwa Berdarah 20 Pelajar yang Naik di Atap Gerbong Kereta
Kisah tersebut menjadi sebuah pelajaran betapa pentingnya sebuah persiapan untuk mendaki gunung. Karena risiko yang ditanggung tak hanya sebatas cedera saja, namun dapat menghilangkan nyawa juga bila mengabaikan hal-hal ini. Tragedi ini dapat menjadi contoh bagi para pendaki untuk selalu mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum mendaki gunung.