Bulan Mei akan selalu diingat sebagai bulan kelam bagi bangsa ini. Sebelum memasuki era reformasi, negara ini mengalami peristiwa berdarah yang meninggalkan luka dalam bagi banyak orang. Peristiwa itu akan selalu dikenang sebagai salah satu titik terendah bangsa ini.
Hingga saat ini, masih banyak simpang siur berita tentang apa dan bagaimana kerusuhan tersebut terpecah. Indonesia kala itu mengalami masa-masa darurat. Untuk mengenang peristiwa menyayat hati, berikut Boombastis menyajikan beberapa fakta tentang kerusuhan Mei 98.
Krisis Asia dimulai di Thailand pada Juli 1997. Kala itu mata uang, bursa saham dan harga aset lainnya di Asia anjlok. Peristiwa ini kemudian dikenal rakyat Indonesia sebagai “krismon” alias krisis moneter. Harga-harga kebutuhan pokok melambung. PHK terjadi dimana-mana.
Mahasiswa merasa tidak bisa lagi diam. Mereka berpikir, jika tidak ada lagi yang bisa menyuarakan rakyat, maka mereka harus bergerak. Seperti aksi mahasiswa yang turun ke jalan pada tahun 1965, maka mahasiswa kembali turun ke jalan dengan reformasi sebagai tuntutan utamanya.
Kepanikan warga dan semakin sulitnya pemenuhan kebutuhan hidup membuat suasana makin kacau. Terjadi aksi penjarahan besar-besaran di kota-kota besar di Indonesia. Kerusakan terparah terjadi di Jakarta dan Medan. Pusat-pusat perbelanjaan dan toko-toko elektronik dibakar dan dijarah massa.
Warga keturunan Tionghoa memang menjadi sasaran utama pada serangan yang tidak berprikemanusiaan tersebut. Para wanita diculik dari jalan-jalan dan diperkosa beramai-ramai. Tidak sedikit dari mereka yang dibakar atau diarak keliling jalan dalam keadaan tanpa busana. Mayat mereka ditulisi dengan kata-kata penuh kebencian.
Puncaknya, penguasa Indonesia kala itu mengundurkan diri. Setelah 32 tahun memimpin Indonesia, Soeharto akhirnya mengumumkan pengunduran dirinya. Hal ini disambut sorak-sorai para mahasiswa yang telah berhari-hari menduduki gedung MPR. Sebelum pengunduran dirinya, Indonesia telah berada di krisis moneter sepanjang 6 hingga 12 bulan.
Kita berdoa dan berusaha semoga peristiwa pahit ini tidak akan pernah menimpa bangsa kita lagi. Semoga hati kita dilembutkan agar sesulit apapun keadaan kita, meski kita berada dalam pendapat dan pandangan yang berbeda, semoga kita tidak terpancing untuk melakukan kekerasan. Sudah cukup bangsa ini melakukan saling bantai dan bunuh di antara sesama anak bangsa.
Sebagai generasi yang hidup di jaman ini kita juga dituntut untuk “melek” sejarah. Agar peristiwa hitam itu tidak terulang lagi di generasi kita. Apapun yang kita hadapi, betapa berbedanya pun kita, semoga kita tetap bisa menjaga persatuan. (HLH)
Senin (17/2/2025), situasi di Indonesia tiba-tiba mencekam bersamaan dengan munculnya aksi-aksi demo yang digelar oleh…
Sedang heboh tagar #KaburAjaDulu di berbagai media sosial. Sebuah ajakan untuk meninggalkan Tanah Air demi…
Nama Abidzar Al-Ghifari kembali menjadi sorotan setelah pernyataannya tentang drama Korea dalam sebuah podcast menuai…
Ketika wajib pajak susah bayar pajak, siapa yang dirugikan? Bukan hanya pemerintah tetapi juga masyarakat…
Nama Iris Wullur mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah ia membongkar dugaan perselingkuhan…
Sudah saatnya untuk selalu waspada terhadap tawaran kerja yang menggiurkan. Seperti kisah tentang 100 wanita…