in

6 Budaya Sastra Lisan Asli Indonesia Serta Nasibnya Sekarang, Ada yang di Ambang Kepunahan

Batombe [Sumber gambar]

Persaingan ketat era digital yang katanya mengglobalisasi kian menyudutkan berbagi sendi kehidupan tata nilai yang berlaku dalam masyarakat, tak ketinggalan bidang seni budaya. Segala macam kesenian milik nenek moyang kita seolah digeser dan digantikan dengan aplikasi. Akhirnya, masyarakat pelosok yang notabenenya hidup di desa juga ikut tergerus modernitas.

Salah satu budaya yang ada di tiap wilayah yaitu berpantun, bercerita, serta puisi dengan Bahasa daerah. Tetapi, pelestarian yang tidak sepenuh hati dari pemerintah dan masyarakat tentu membuat tradisi ini di ambang kematian. Di antaranya adalah 6 jenis budaya pantun dan bercerita yang akan dibahas berikut.

Bakunun, mendongeng ala orang Kerinci yang hampir punah

Dongeng adalah hal yang tak nyata atau kisah fiktif belaka. Di daerah Kerinci, Jambi juga ada tradisi mendongeng yang disebut dengan Bakunun, yaitu bercerita (lebih ke fable atau cerita bintang) yang diikuti alat musik. Bakunun sudah ada dari zaman nenek moyang dan menjadi tradisi turun temurun yang diwariskan kepada generasi setelahnya. Ada dua jenis bakunun, yaitu Bakunun Jugei ( yang diikuti gerakan teater) serta Bakunun Tupai Jenjang (diiringi alat musik yang disebut Dap).

Bakunun [Sumber gambar]
Sayang, tradisi mendongeng Bakunun ini sudah mulai lenyap dan hampir punah karena sudah tidak ada lagi penutur yang mahir bercerita. Penduduk pun lebih menggemari cerita-cerita yang berbentuk audio-visual (televisi, radio, Youtube dll) dan melupakan budaya ini.

Batombe, berbalas pantun setelah mendirikan rumah baru adat Padang

Batombe adalah adat berbalas pantun yang dilagukan yang berasal dari Nagari Abai, Kecamatan Sangir Batang Hari, Sumatra Barat. Batombe ini dilakukan oleh sekelompok lelaki dan perempuan, lengkap dengan nyanyian, pakaian adat khusus yang mirip Sandai, serta diiringi oleh alat musik gendang dan talempong. Ada yang unik dari Batombe ini, biasanya dilakukan oleh masyarakat sebagai bentuk syukuran rumah yang baru jadi.

Batombe [Sumber gambar]

Sebelum memulai Batombe, harus ada syarat penyembelihan hewan seperti Kerbau, Sapi, atau Kambing. Akan menjadi hutang adat jika penyembelihan hewan tidak dilakukan. Batombe ini masih sering dilakukan oleh penduduk Nagari Abai, karena menurut mereka Batombe tidak hanya sekedar adat saja tetapi juga bentuk rasa bersyukur kepada Tuhan.

Pantun nyanyian Barbar, Maluku

Salah satu hal paling berharga yang dilestarikan oleh penduduk Maluku adalah bahasa daerahnya. Tradisi lisan masih menjadi identitas jati diri sebagai pewaris budaya nenek moyang tersebut. Selain puisi, dongeng, legenda, mantra, pantun nyanyian Barbar adalah hal yang terus mereka pelihara. Pantun ini sangat populer khususnya di daerah Letwurung, pulau Barbar Besar.

Contoh pantun syair Barbar [Sumber gambar]
Dikemas dalam Bahasa daerah, pantun Barbar akan disuguhkan ketika acara-acara adat khusus lengkap dengan diikuti nyanyian bersyair dalam Bahasa Yamdena atau Fordata serta tari-tari adat. Untuk penyampaian, berpantun bisa disampaikan sendiri, berbalasan, atau lengkap dengan iringan musik. Jenisnya pun beragam, mulai dari pantun percintaan, orang tua, nasihat, serta pantun anak-anak.

Senjang, berbalas puisi yang dilagukan dari Musi Banyuasin

Senjang atau Besenjang adalah sastra lisan yang biasanya ditemukan di kabupaten Musi Banyuasin, Sumatra Selatan. Senjang ini merupakan puisi berbalas yang dilagukan oleh sepasang lelaki dan perempuan. Ada hal unik dari penyajiannya, yaitu antara Senjang dan musik tidak saling bertemu, artinya pada saat bersenjang musik berhenti, kalau musik berbunyi orang yang bersenjang diam sehingga keduanya tidak pernah bertemu.

Kesenian senjang ini umumnya berisi nasihat, kritik (sindiran) atau perasaan bahagia yang bisa disampaikan kepada guru, orangtua, teman seperjuangan, bahkan juga pemerintah. Hingga saat ini, di beberapa daerah Musi Banyusin Senjang masih bisa dilestarikan mengingat sering adanya pementasan saat perpisahan sekolah, inagurasi, acara-acara olimpiade yang digelar pemerintah setempat, atau bahkan dalam pernikahan.

Karungut, pantun berlagu dari adat Suku Dayak

Tak hanya perempuan cantik dan adat kental saja yang menjadikan Dayak sebagai salah satu suku paling dikenal. Lebih dari itu, sastra lisan dalam Suku Dayak juga patut diapresiasi dan dilestarikan. Salah satunya adalah Karungut. Karungut ini merupakan pertunjukan sastra besar klasik dalam bentuk pantun yang berisi syair-syair bijak yang diambil dari legenda hidup, nasihat, teguran dan peringatan tentang kehidupan sehari-hari dalam masyarakat.

Karungut [Sumber gambar]
Selain itu, Karungut juga dapat dijadikan sebagai sebuah ungkapan kegembiraan dan kebahagiaan masyarakat. Karungut ini biasanya dilantunkan dalam bentuk lagu yang diiringi beberapa alat musik seperti kecapi, bahkan bisa juga diiringi dengan band dan organ (Karungut modern). Hingga saat ini, jika kebetulan berkunjung ke Kalimantan, kamu masih bisa menyaksikan Karungut loh Saboom.

Madihin, tradisi bercerita dari Banjar

Sama seperti kelima tradisi sebelumnya, Madihin juga sastra lisan atau tulisan yang hanya ada di Banjar dan Kalimantan Selatan saja, tidak akan ditemukan di daerah lain. Diambil dari kata ‘madah’ yang dalam Bahasa Arab artinya bisa nasihat atau juga pujian. Madihin ini dituturkan dalam Bahasa Banjar, dipentaskan di depan publik dan tidak boleh melihat teks (harus dihafalkan) oleh 2-4 orang yang disebut Pamadihinan.

Hingga sekarang, Madihin masih sangat bisa kamu temukan karena sering sekali dipentaskan, baik ketika menyambut kelahiran anak, upacara tolak bala, menghibur tamu agung, hingga acara kedaerahan. Madihin ini juga sudah ada dalam bentuk modern, yaitu pementasan lengkap dengan berbagai alat musik sebagai pengiringnya.

Nah, itulah 6 jenis sastra lisan yang ada di beberapa daerah di Indonesia. Sebenarnya, tugas melestarikan budaya ini tidak sepenuhnya menjadi urusan pemerintah loh Saboom, kitalah yang harus menjaga budaya kita agar tetap hidup dan tidak punah. Bagaimana? Apakah kamu juga punya tradisi sastra lisan di daerahmu, boleh berikan komentar di bawah ya.

 

Written by Ayu

Ayu Lestari, bergabung di Boombastis.com sejak 2017. Seorang ambivert yang jatuh cinta pada tulisan, karena menurutnya dalam menulis tak akan ada puisi yang sumbang dan akan membuat seseorang abadi dalam ingatan. Selain menulis, perempuan kelahiran Palembang ini juga gemar menyanyi, walaupun suaranya tak bisa disetarakan dengan Siti Nurhalizah. Bermimpi bisa melihat setiap pelosok indah Indonesia. Penyuka hujan, senja, puisi dan ungu.

Leave a Reply

Mengharukan, Pemain Asing Persebaya Ini Rela Sisihkan Gaji Demi Bantu Orang Indonesia

Mengenal Marina City, ‘Markas Perjudian’ di Batam yang Sekarang Malah Menjadi Kota Mati