in

Mengenal Awuwukha, Si ‘Pemburu Kepala Manusia’ dari Suku Nias yang Terkenal Keperkasaannya

Sang Awuwukha [Sumber gambar]

Dari ribuan pulau yang ada di Indonesia, Nias adalah salah satu kawasan dengan pantai yang cantik dan pemandangan alam yang luar biasa indah. Namun, kurang lengkap rasanya jika hanya membahas keindahan pulau kecil di Sumatra Utara ini tanpa mengetahui seluk beluk keunikannya. Dalam tradisi para pendahulu, Nias memiliki kebiasaan berburu kepala manusia atau dikenal dengan Mangu Binu.

Sosok yang bisa melakukan Mangu Binu sendiri disebut sebagai Emali. Salah satu sosok paling perkasa pencetus dari tradisi ini adalah Awuwukha yang kemudian lekat dalam budaya Nias dan terkenal dengan keperkasaannya. Penasaran seperti apa kehebatan Awuwukha ini? Mari simak uraian Boombastis berikut.

Asal usul Awuwukha dalam suku Nias

Sang Awuwukha [Sumber gambar]
Awuwukha adalah sosok yang lekat dan tak bisa dipisahkan  dari sejarah Nias. Ia adalah manusia perkasa dari masa lalu sebelum agama menyentuh pulau ini. Awuwukha selalu disebut pimpinan Emali, si tukang penggal kepala manusia dengan keperkasaan luar biasa. Awuwukha menjadi sangat beringas karena dalam sejarah, keluarga besarnya di Boronadu dibakar hidup-hidup tanpa ampun oleh sekelompok orang dari desa lain. Karena berjanji untuk balas dendam tersebutlah Awuwukha menjadi penjagal nomer wahid di Nias.

Awuwukha yang menjadi gelar kehormatan

Upacara pelantikan Owasa [Sumber gambar]

Sejak saat itu, Awuwukha membunuh semua musuh-musuhnya dengan cara memenggal kepala mereka. Karena semakin banyak korban yang berjatuhan namun dirinya tak juga terkalahkan, Awuwukha dijadikan sebagai gelar kehormatan untuk orang-orang yang mempraktikkan Mangu Binu seperti dirinya. Gelar itu sendiri disematkan ketika dilaksanakannya upacara Owasa (upacara besar untuk menaikkan status sosial seseorang) dengan menobatkan ia sebagai makhluk perkasa dalam suku.

Semakin banyak kepala yang diburu maka semakin dihormati

Kepala yang dipenggal [Sumber gambar]
Menurut kepercayaan mereka, tradisi penggal kepala ini tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang, hanya mereka yang punya kedudukan tinggilah yang boleh melakukannya. Semakin banyak jumlah kepala yang dipenggal maka posisi dalam suku akan semakin diakui. Para korban penggal pun adalah orang yang dipilih dan rela berkorban. Pernah dalam sebuah cerita, sebuah keluarga bangsawan membuat rumah yang dikerjakan oleh seorang tukang. Setelah rumah tersebut bisa ditempati, sebagai wujud syukur, kepala tukang tersebut dipenggal dan dijadikan persembahan.

Penggal kepala sebagai mahar dan pemenuhan wasiat

Kepala sebagai mahar [Sumber gambar]
Praktik yang diawali oleh Awuwukha ini kemudian menjadi tradisi turun temurun yang terus berkembang. Tak hanya sebagai balas dendam, penggal kepala bisa menjadi mahar (permintaan dari pengantin wanita) Nias kepada lelaki yang akan menikahi mereka. Harga lelaki yang akan meminang ditentukan oleh jumlah kepala yang diberi untuk pihak perempuan. Selain itu, para Awuwukha yang meninggal akan meminta jasad mereka dikuburkan bersama beberapa kepala manusia (sesuai permintaan sebelum meninggal) dan harus dipenuhi oleh anak keturunan mereka. Seram juga kan?

Tradisi yang ditinggalkan sejak masuknya Kristen tahun 1900-an

Tradisi penggal kepala yang berganti lompat batu [Sumber gambar]
Kristen masuk ke Pulau Nias pada abad 20-an, dibawa oleh orang Belanda dan Jerman. Para pembawa agama ini dengan mudah diterima karena mereka tidak menunjukkan kekerasan dan pemaksaan kepada penduduk setempat. Dalam ajaran Kristen, membunuh sesama manusia  adalah hal yang tidak dibenarkan. Oleh karena itu, tradisi Emali diganti dengan menanam bunga. Namun, walaupun sudah ditinggalkan, pemenggalan kepala masih kerap terjadi dan menghantui kehidupan masyarakat di Nias.

Karena masuknya Kristen ke Nias, Awuwukha perlahan tergerus. Tingkat kehebatan tak lagi ditentukan dengan banyaknya kepala yang dipenggal, tapi tergantikan dengan loncat batu (Fahombo). Semakin tinggi batu yang berhasil dilompati, maka mereka akan dianggap dewasa dan siap membela kampungnya.

Written by Ayu

Ayu Lestari, bergabung di Boombastis.com sejak 2017. Seorang ambivert yang jatuh cinta pada tulisan, karena menurutnya dalam menulis tak akan ada puisi yang sumbang dan akan membuat seseorang abadi dalam ingatan. Selain menulis, perempuan kelahiran Palembang ini juga gemar menyanyi, walaupun suaranya tak bisa disetarakan dengan Siti Nurhalizah. Bermimpi bisa melihat setiap pelosok indah Indonesia. Penyuka hujan, senja, puisi dan ungu.

Leave a Reply

Digugat Cerai Istri Pertama dan yang Kedua Meninggal Dunia, Bagaimana Nasib Opick Sekarang?

Dilarang Melayat, Kisah Tahanan yang Ditinggal Mati Sang Anak Ini Bikin Air Mata Berderai