Peristiwa pemberontakan 30 September atau lebih dikenal sebagai G30S/PKI, telah menorehkan luka yang begitu dalam pada bangsa ini. Bagaimana tidak, tujuh orang perwira Angkatan Darat harus gugur dengan kondisi mengenaskan karena ulah mereka. Alhasil, PKI sebagai pelaku akhirnya mendapatkan hukuman seumur hidup berupa buramnya nama mereka pada sejarah Indonesia.

Tak hanya partainya, mereka yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung juga kena getahnya. Alhasil, aksi ‘pembersihan’ pun segera dilakukan agar tidak menimbulkan duri dalam daging yang kedua kalinya dalam tubuh republik ini. Tak heran jika mereka yang akhirnya tersisih, menyimpan cerita pedih yang tercatat dalam sejarah. Siapa sajakah mereka?

Sukarno yang terdongkel dari posisinya sebagai Presiden RI

Setelah meletus peristiwa G30S/PKI, posisi Sukarno sebagai presiden semakin lemah. Dilansir dari Tirto, Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) kemudian mengajukan pelaksanaan sidang MPRS untuk memberhentikan Sukarno. Sebagaimana diceritakan O.G. Roeder dalam Anak Desa: Biografi Presiden Soeharto (1984), Sukarno tidak memiliki pilihan selain mengundurkan diri. Sang penyambung lidah rakyat pun menyerahkan kekuasaan eksekutif kepada pengemban Supersemar, Soeharto di tanggal 22 Februari 1967.

DN Aidit yang harus meregang nyawa dengan cara yang mengenaskan

Aidit yang akhirnya tertangkap oleh satuan yang dipimpin Koloner Jasir [sumber gambar]
Posisi Dipa Nusantars atau D.N. Aidit lebih gawat lagi. Sebagai Ketua CC Partai Komunis Indonesia (PKI), ia gagal mengonsolidasi kekuatan organisasi yang dipimpinnyasetelah G30S meletus. Alhasil, pria kelahiran 30 Juli 1923 itu menjadi target buruan pemerintah yang dipimpin oleh Soeharto. Setelah berhasil ditangkap oleh Kolonel Jasir, ia dieksekusi di daerah Boyolali, Jawa Tengah, tanpa diketahui di mana jasadnya hingga kini.

Tiga sekawan Cakrabirawa yang terbuang: Bongkoes, Doel Arif, dan Djahurup

Ilustrasi Resimen Cakrabirawa [sumber gambar]
Persahabatan tigas serangkai: Dul Arif, Djahurup dan Bongkoes, sejatinya telah terjalin sejak zaman revolusi yang tergabung dalam Batalion Anjing Laut 448. Berkat prestasinya dalam bertugas, ketiganya ditarik menjadi pasukan Cakrabirawa. Sayang, peristiwa G30S membuyarkan semuanya. Operasi penculikan yang dilakukan Serma Bungkus dan Pelda Djahurup tak berjalan mulus. Keduanya kemudian ditahan di asrama CPM Guntur. Sementara itu, Dul Arif justru melarikan diri tanpa jejak.

Komandan Cakrabirawa yang kariernya harus tamat karena terlibat penculikan

Letkol Untung Syamsuri saat ditangkap [sumber gambar]
Senada dengan anak buahnya, Letnan Kolonel Untung yang seorang komandan Cakrabirawa juga bernasib serupa. Menjadi pelaku utama penculikan dan pembunuhan perwira tinggi Angkatan Darat, ia akhirnya diadili dan dicopot dari jabatannya sebagai komandan pasukan khusus pengawal presiden, Cakrabirawa. Tak berapa lama, Soeharto yang memegang kendali pemerintahan, menjatuhkan hukuman mati pada dirinya.

Orang-orang cerdas yang terbuang karena dianggap terlibat golongan kiri

Ibrahim Isa yang dianggap sebagai agen Gestapu [sumber gambar]
Stigma negatif sebagai bagian ‘kelompok kiri’, rupa-rupanya juga dirasakan oleh mereka yang tengah berada di luar negeri. Salah satunya adalah Ibrahim Isa yang merupakan perwakilan Afro-Asian People’s Solidarity Organization (AAPSO). Dilansir dari Tirto, kewarganegaraan Ibrahim Isa dicabut pemerintah Indonesia dan dianggap sebagai agen Gestapu. Memang, saat itu Isa berbicara mewakili Indonesia dalam konferensi Trikontinental di Kuba yang notabene negara komunis. Dari Kuba, Isa kemudian mengungsi ke Cina dan kemudian pindah ke Belanda pada 1987.

BACA JUGA: Jadi Buronan, Inilah Detik-detik Menegangkan Saat Memburu DN Aidit yang Melarikan Diri

Sejarah telah mencatat, peristiwa G30S/PKI di atas tak hanya meruntuhkan kekuasaan seseorang dari posisinya, tapi juga memakan korban di kalangan rakyat sipil, dan menjadi sejarah paling kelam dari bangsa ini. Semoga, kejadian yang telah lalu bisa menjadi pelajaran agar tak terulang kembali di masa depan.