18 tahun sudah Timor Leste berdiri menjadi negara berdaulat sejak memutuskan untuk merdeka dari Indonesia. Wilayah yang berbatasan dengan Nusa Tenggara Timur (NTT) itu pernah menjadi provinsi ke-27 di era pemerintahan Presiden Soeharto. Pada 2002 setelah referendum, Timor-Timur resmi memisahkan diri dan kini dikenal sebagai Timor Leste.

Berdiri sendiri sebagai negara yang berdaulat tampaknya tak mudah bagi Timor Leste. Ada banyak tantangan dan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintahannya. Salah satunya adalah soal perekonomian yang berhubungan dengan pertumbuhan negaranya. Kabarnya negara ini sekarang adalah salah satu wilayah paling miskin di dunia.

Peringkat 152 sebagai negara termiskin di dunia

Ilustrasi masyarakat Timor Leste [sumber gambar]
Lambatnya pertumbuhan ekonomi negara dengan nama resmi Republica Democratica de Timor Leste ini, menjadi salah satu penyebab kemiskinan di wilayahnya. Dikutip dari laporan United Nations Development Programme (UNDP), Timor Leste berada di peringkat 152 sebagai daerah termiskin di dunia dari 162 negara.

Barang impor yang masih tergantung dengan Indonesia

Ilustrasi pengiriman logistik dari Indonesia ke Timor Leste [sumber gambar]
Meskipun sudah bukan jadi bagian dari Indonesia, nampaknya Timor Leste masih cukup bergantung kepada NKRI. Salah satunya bisa dilihat dari bagaimana negara ini bergantung kepada Indonesia untuk barang-barang pokok. Diketahui, Indonesia menyalurkan beberapa macam barang seperti pakaian, elektronik, dan kebutuhan penting lain.

Mengandalkan pemasukan dari minyak yang bekerjasama dengan Australia

Ilustrasi proyek pengolahan migas Timor Leste [sumber gambar]
Sebagai negara yang memiliki cadangan minyak bumi dan gas alam (migas), Timor Leste amat bergantung pada komoditas tersebut untuk menghidupi rakyatnya. Tak sendiri, pengelolaan potensi tersebut juga dikerjasamakan dengan Australia. Seperti di ladang minyak Greater Sunrise misalnya, Timor Leste harus berbagi hasil dengan Australia selaku pengelola dan penyedia teknologi. Terlebih, posisi ladang migas itu juga berada di antara kedua negara.

Bekerjasama dengan Cina untuk membangun infrastruktur

Ilustrasi proyek pembangunan di Timor Leste [sumber gambar]
Bergabungnya Kementerian Keuangan Timor Leste dengan Asian Infrastructure Investment Bank, menjadi jalan bagi Cina untuk masuk ke Timor Leste. Selain memperkuat hubungan diplomatik, negeri Tirai Bambu juga diketahui banyak membangun gedung pemerintahan, berbagi teknologi pertanian, pariwisata, hingga perencanaan kota. Dilansir dari The Diplomat (19/11/2016), Cina mengucurkan dana sebesar $50 juta sebagai pinjaman lunak.

Tantangan semakin berat karena pandemi Covid-19

Ilustrasi bantuan kesehatan pada Timor Leste dari PMI Indonesia [sumber gambar]
Pandemi Covid-19 yang terjadi di Timor Leste juga menjadi tantangan bagi pemerintah setempat untuk menyelamatkan warganya. Permasalahan yang dihadapi selain penularan adalah bahaya kerawanan pangan yang memengaruhi hingga 75% populasi. Terutama yang terjadi akibat kebijakan lockdown yang membuat distribusi pangan terhenti. Bahkan, Menteri Perencanaan dan Investasi Timor Leste Xanana Gusmao sempat meminta bantuan RI agar warganya yang baru pulang dari Cina dikarantina di tanah air.

BACA JUGA: Beginilah Potret Penduduk Timor Leste yang Memilih Bertumpah Darah Indonesia, Miris!

Kondisi yang demikian membuat Timor Leste harus melakukan strategi demi meningkatkan pertumbuhan perekonomiannya. Karena tergantung dengan minyak bumi dan gas alam (migas), Bumi Loro Sae masih memiliki peluang dengan mengelola ladang migas Greater Sunrise, walaupun ada sedikit sengketa dengan Australia.