in

Mematahkan ‘Cocoklogi’ Swab Test Hidung Bisa Merusak Otak, Ini Faktanya!

Swab test atau juga uji usap, saat ini bukan hanya diperlukan untuk mendeteksi saat ada gejala, tapi juga untuk tindakan medis lainnya seperti operasi medis, keperluan bepergian, hingga dinas.

Indonesia ini jarkom media sosialnya cukup kencang. Dengan status Covid yang masih kerap dianggap hoax, banyak sekali beredar isu mengenai virus corona itu sendiri, pengobatannya, hingga vaksinnya.

Salah satu yang belakangan ini marak adalah kabar bahwa PCR test bisa menyebabkan kerusakan otak. Terutama yang prosedurnya dilakukan melalui hidung.

Tak dipungkiri kalau swab test terlihat kurang nyaman bagi beberapa orang. Namun, pada dasarnya prosedur medis ini sudah dilakukan berpuluh tahun dan disesuaikan dengan standar keamanan serta kesehatan.

Dipicu dengan surutnya kondisi psikologis publik belakangan ini, serta tekanan ekonomi, membuat narasi-narasi berbau cocoklogi terasa mudah diterima dengan logika, meski sebenarnya hal ini salah kaprah.

Alat tes memiliki kandungan berbahaya dan membahayakan membran pelindung otak?

Hoax yang marak belakangan ini ialah bahwa alat PCR test terkontaminasi dengan zat berbahaya. Seperti kandungan virus atau sesuatu yang tak dipahami orang awam. Selain itu, karena pengaplikasian swab test adalah pada rongga dalam belakang rongga hidung, dianggap membahayakan bagian bernama Sawar Darah Otak.

[Sumber Gambar]
Bagian ini merupakan membran yang pemisahan sirkulasi darah dengan cairan ekstraselular otak dalam sistem saraf pusat. Istilah medis seperti ini akan mudah diterjemahkan oleh orang awam sebagai sesuatu yang membahayakan. Belum lagi harga PCR Test Jakarta hingga seluruh wilayah Indonesia yang cukup beragam, membuat orang mungkin semakin ragu dengan tindakan ini.

Dipatahkan oleh pakar dari UGM

Dr. Anton Sony Wibowo dari UGM yang mendalami bidang THT, menjelaskan bahwa swab test tidak berbahaya. Ia menjelaskan bahwa uji usap ini aman karena dilakukan hanya sampai nasofaring. Kondisi khusus yang menyebabkan kerusakan hanya mungkin terjadi bila memang dinding dasar otak pecah akibat trauma maupun adanya tumor.

dr. Anton Sony Wibowo bantah swab merusak otak [Sumber Gambar]

Sedangkan mengenai rumor yang beredar, dr. Anton menegaskan bahwa hal tersebut tidak ada dasar ilmiahnya. Proses swab sendiri relatif cepat dan hanya mengambil sampel lendir dari orang tersebut. Beragam isu yang meresahkan seputar swab test bisa diabaikan.

BACA JUGA: Angin Segar Jamaah Umrah saat Pintu Tanah Suci Dibuka Kembali: Ibadah Lebih Khusyuk

Jika mengalami kondisi yang mirip gejala Covid, maupun untuk kebutuhan dinas dan administratif lainnya, jangan ragu menghubungi jasa Swab Test Jakarta, atau lokasi terdekat dengan lingkungan tempat tinggal. Jangan mudah termakan isu, karena taruhannya adalah keselamatan ya.

Written by Orchid

Leave a Reply

5 Tokoh Wanita Penting di Penjuru Dunia yang Namanya Melejit di 2020

Jangan Ngaku Pencinta Kucing Sampai Kamu Bisa Melakukan Hal Unik Ini