Di saat yang lain sembunyi-sembunyi menentang Belanda, ia sebaliknya. Terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya dengan berbagai aksi frontal. Dialah Suryopranato, ningrat satu ini terkenal sebagai pemimpin gerakan buruh paling disegani saat penjajahan Belanda.
Di antara aksi nekatnya, ia dengan brutal menempeleng seorang Belanda karena menghina kaum pribumi. Tidak hanya itu, Belanda dibuat kelimpungan saat ia memelopori aksi mogok umum di semua pabrik milik Belanda. Akibat perbuatannya, ia sempat dibuang bahkan dipenjarakan berkali-kali.
Sejak Kecil Membenci Belanda dan Status Ningrat
Suryopranoto kecil biasa dipanggil Iskandar, anak sulung dari Pangeran Suryaningrat yang merupakan keturunan Paku Alam III. Meski darah ningrat kental mengalir, ia dan adiknya (Ki Hajar Dewantoro) lebih suka bergaul dengan rakyat jelata di pedesaan. Di sekolah, ia sering membantah guru-guru Belanda yang mengajarnya karena merendahkan pribumi. Tidak hanya itu, Iskandar juga sering berkelahi dengan anak-anak berkulit putih di sekolah.
Dibuang Ke Tuban dan Bogor
Suryopranoto sempat menjadi pegawai Belanda di Yogjayakarta. Namun karena sering membuat masalah, ia dibuang oleh asisten residen ke Tuban dan dipaksa bekerja di kantor kontrolir. Rupanya, dibuang ke Tuban tidak membuatnya kapok. Malahan ia lebih beringas dengan nekat menempeleng atasannya, seorang Belanda yang kedapatan menghina pribumi. Namun alasan ini tidak cukup untuk membuat si meneer menghukum Suryopranoto.
Dijuluki Raja Pemogokan
Setelah lulus dari sekolah pertanian di Bogor, Suryopranoto dipekerjakan sebagai Kepala Dinas Pertanian Wonosobo sekaligus memimpin sekolah pertanian. Meski memiliki jabatan tinggi, tahun 1914 Suryopranoto resmi berhenti bekerja. Ia tidak tahan melihat teman sejawatnya diberhentikan karena mengikuti organisasi Sarekat Islam.
Suryopranoto menjadi tokoh yang amat disegani Belanda sejak aksi pemogokan besar-besaran yang didalanginya. Waktu itu, 20 Agustus 1920 adalah kali pertama diadakannya pemogokan buruh. Pemogokan ini diikuti begitu banyak buruh dan berdampak luas pada kerugian Belanda. Sejak saat itu, dirinya mendapat julukan sebagai raja pemogokan (De Staking Koning).
Akhir Perjalanan Si Raja Pemogokan
Pamornya sebagai Raja Pemogokan mulai menurun saat banyak ancaman PHK, serikat buruh pun mulai pecah. Saat menjabat di SI, ia pun sering tersandung perkara pelanggaran berbicara (spreek-delict). Akibatnya tiga kali ia harus dipenjarakan. Pertama selama 3 bulan di Malang (1923). Kedua, di Semarang selama 6 bulan (1926). Dan ketiga, ia harus menikmati penjara Bandung selama 16 bulan (1933).
Hingga pada 15 Oktober 1959, ia meninggal dunia setelah banyak berjasa pada negeri ini. Negara pun memberinya gelar Pahlawan Nasional Indonesia. Mengenal lebih banyak sejarah negeri ini, membuat kita ingat untuk menjaga jerih payah perjuangan mereka. Mestinya, di tangan generasi muda negeri ini bisa jadi lebih baik.