Seperti yang diketahui, peristiwa Gerhana Bulan Superblood Moon menjadi salah satu kejadian yang mendapatkan antusiasme tinggi di Indonesia. Beragam cara pun dilakukan untuk melihat momen langka yang terjadi 100 tahun sekali ini. Salah satunya dengan menggunakan teropong bintang. Sayangnya, selain harga yang mahal, teropong bintang tergolong barang eksklusif yang tidak dimiiki oleh setiap orang.
Namun hal tersebut nampaknya tidak berlaku pada sosok Sunardi. Berbekal kreativitas dan hobinya akan dunia antariksa, pria asal Cirebon, Jawa Barat tersebut, sanggup membuat sebuah teropong bintang sendiri. Alih-alih menggunakan bahan yang mahal, dirinya justru membuat teropong tersebut dari bahan-bahan murah dan gampang ditemui. Seperti apa kisahnya, simak ulasan berikut ini.
Tertarik dengan dunia Astronomi sejak kecil
Keahliannya membuat sebuh teropong bintang bukan tanpa sebab. Semenjak usia SD, dirinya mengaku sangat tertarik dengan segala hal yang berbau tentang luar angkasa. Bahkan saking cintanya, ia sering keluar rumah di malam hari maupun pada saat subuh untuk melihat keindahan alam ciptaan Tuhan tersebut.
Mantan penjaga warnet yang belajar otodidak dari internet
Kebiasaanya mencari informasi di Internet ternyata sangat menguntungkan dirinya. Sunardi yang merupakan lulusan SMK N 1 Kota Cirebon tersebut, ternyata pernah menjadi seorang penjaga Warnet di Cirebon. Hal ini dilakukannya setelah pulang merantau dari Jakarta pada 2006 silam. Dari kebiasaanya berselancar didunia maya itulah yang pengetahuannya terus bertambah.
Gunakan bahan bekas seadanya
Jika dilihat sekilas, teropong buatan Sunardi tersebut mirip dengan teropong profesional yang berharga puluhan juta. Tapi jangan salah, Sunardi justru membuat benda tersebut menggunakan barang-barang bekas yang justru bisa didapatkan dengan mudah. Tak hanya itu, dirinya juga mengolah berbagai bahan tersebut dengan peralatan sederhana seperti gergaji, gunting dan amplas. Tak jarang ia mengkombinasikan beberapa benda diluar bahan-bahan utama untuk membuat teleskop.
Sempat kesulitan dalam proses pembuatan
Dalam proses pengerjaan, Sunardi mengakui bahwa membuat sebuah teropong bintang dari bahan yang sederhana cukup membuatnya kerepotan. Selain membutuhkan dimensi yang pas serta ukuran presisi, bahan-bahan tersebut juga harus memenuhi syarat agar bisa menjadi sebuah teropong bintang yang layak guna. Sempat mencoba diproses dengan bahan bekas, namun ternyata berpengaruh pada kemampuanya saat digunakan untuk mengamati sebuah obyek.
Teleskop yang mampu intip Galaksi tetangga
Meski hanya dirakit dengan barang bekas dan kreativitas, kualitas teleskop buatan Sunardi ternyata tak kalah dengan buatan pabrikan professional. Hal ini dibuktikannya dengan beberapa gambar yang dihasilkan oleh teleskop buatannya. Tercatat ada Gugus Bintang Bola, Bulan, Matahari, dan Galaksi Andromeda. Saat itu, dirinya menggunakan teleskop dengan spesifikasi lensa okuler ukuran 20mm, finderscoop ukuran 4X, dan lensa objective yang dilengkapi dengan pembesaran hingga 25 kali.
Tetap berkarya dengan membuat teropong berkualitas
Hingga saat ini, total Sunardi telah menghasilkan tujuh buah teleskop hasil rakitannya sendiri. Teropong bintang tersebut bahkan telah dikirimkan ke Sumedang dan berbagai kota lainnya. Untuk mewadahi kegiatan dan hobinya tersebut, dirinya juga mendirikan sebuah klub pecinta anstronomi yaitu Cirebon Astronomi Club (CAC).
Sosok Sunardi yang kreatif, menjadi bukti nyata seorang pemuda yang tak menyerah pada keterbatasan yang dimiliki. Berbekal kemauan sekaligus kecintaanya pada hobi, Sunardi yang pernah menjadi penjaga warnet tersebut, mampu membuat teleskop yang kualitasnya tak kalah dengan buatan pabrik. Kreativitasnya dalam mengembangkan sudut pandang dan sikapnya yang pantang menyerah, bisa menjadi inspirasi yang berharga bagi siapa saja diluar sana yang juga ingin berhasil meraih cita-citanya.