Sultan Hamid II [Image Source]
Jika ditanya siapakah sosok yang merancang lambang negara Indonesia, mungkin tidak banyak orang Indonesia yang bisa menjawabnya. Sosok di balik lambang Garuda Pancasila yang menjadi lambang negara kita adalah Sultan Hamid II.
Ia adalah seorang Sultan Pontianak ke-7 yang memiliki jasa besar dalam sejarah Indonesia. Namun juga karena peran besarnya dalam sejarah tersebut namanya seolah dilupakan.
Saat Indonesia masih berbentuk Republik Indonesia Serikat, Sultan Hamid II pernah menjabat sebagai menteri negara tapi tanpa adanya portofolio. Kabinet ini dipimpin oleh Perdana Menteri Mohammad Hatta. 11 orang anggota berhaluan Republik, sementara lima anggota lainnya berhaluan Federal.
Keinginannya sebenarnya sederhana, yaitu ingin adanya daerah istimewa seperti Kesultanan Yogyakarta. Perjuangannya ini bukan tanpa alasan. Apalagi karena provinsi tersebut juga memiliki banyak kesultanan yang cukup terkenal seperti Kerajaan Pontianak, Mempawah, Sambas, Ngabang, Tayang, Sanggau, Semitau, Sintang, dan Tanjungpura. Namun justru niat baik ini yang akhirnya membuatnya dianggap sebagai dalang pemberontakan.
Saat masih menjabat sebagai menteri negara, ia mendapatkan tugas dari Presiden Soekarno untuk merancang lambang negara. Maka selanjutnya ia membentuk sebuah panitia teknis yang diberi nama Panitia Lencana Negara dengan panitia teknis terdiri dari Muhammad Yamin, Ki Hajar Dewantoro, M. A. Pellaupessy, Mohammad Natsir, dan R.M. Ngabehi Poerbatjaraka.
Rancangan pertama tersebut burung Garudanya masih tidak berjambul, bertangan dan bahu manusia, serta dengan cengkeraman pita yang masih terbalik. Setelah mendapatkan berbagai saran dan pertimbangan, Sultan Hamid II kemudian kembali mengajukan rancangan Garuda Pancasila seperti yang dipakai hingga sekarang ini.
Pada 22 Januari 1950, kurang lebih 800 orang pasukan KNIL yang dipimpin Westerling menghabisi 60 orang tentara RIS dan menduduki beberapa tempat penting di Bandung. Pemberontakan ini dilakukan karena mereka ingin menggulingkan Republik. Mereka akhirnya berhasil diusir dari Bandung oleh pasukan RIS.
Dalam peristiwa itu, Sultan Hamid II dianggap sebagai dalang pemberontakan dan berkonspirasi dengan kapten KNIL, Raymond Westerling. Ia membantah terlibat dalam pemberontakan, tapi pengadilan tetap menyatakan dirinya bersalah sehingga dihukum penjara sepuluh tahun. Sementara Raymond Westerling sendiri yang memimpin pemberontakan sudah kabur dan keluar dari Indonesia tanpa hukuman.
Pada 5 April 1950, Sultan Hamid II diberhentikan dan ditangkap di Hotel Des Indes dengan tuduhan niatan makar. Meski begitu, ia tidak langsung dibawa ke pengadilan dengan alasan pemerintah sulit menemukan undang-undang untuk mendakwa Sultan Hamid II. Barulah pada 25 Februari 1953 kasus tersebut diperiksa MA.
Hasil penelitian yang dilakukan Anshari Dimyati, ketua Yayasan Sultan Hamid II, menyebutkan bahwa pemberontakan tersebut tidak dimotori oleh Sultan Hamid II. Ia berpendapat bahwa peradilan saat itu tidak dapat membuktikan dugaan keterlibatan Sultan Hamid, namun ia didakwa bersalah karena opini media massa yang memberitakan tentang kasus tersebut. Akibatnya, ia harus menjalani hukuman penjara 10 tahun.
Tahun 1958, Sultan Hamid akhirnya dibebaskan dan tidak lagi terlibat dalam politik. Namun, baru empat tahun bebas, ia kembali ditangkap dan ditahan di Rumah Tahanan Militer (RTM) Madiun pada Maret 1962. Penangkapannya dilakukan atas tuduhan melakukan kegiatan makar dan membentuk organisasi ilegal Vrijwillige Ondergrondsche Corps (VOC).
Hidup pada masa-masa pergolakan politik memang bukan hal yang mudah, apalagi bagi mereka yang memiliki semangat besar untuk memajukan Indonesia. Tentu saja berbagai kelompok dengan persepsinya masing-masing tentang Indonesia muncul. Namun sayang sekali jika tokoh yang berjasa harus dikecilkan peranannya karena dianggap bersalah atau berseberangan dengan mereka yang memimpin.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…