Anda pernah dengar Suku Dayak? Jikalau pernah, pastilah yang terbayang adalah Suku Dayak yang berada di pedalaman Kalimantan yang umum diketahui khalayak umum. Namun tak disangka, di Pulau Jawa pun ada sebuah Komunitas Suku Dayak yang ternyata tidak ada hubungannya sama sekali dengan Suku Dayak yang berada di pedalaman Kalimantan. Kalau konon Suku Dayak di pedalaman Kalimantan agak membatasi pergaulan dengan masyarakat umum, sebaliknya komunitas Suku Dayak di Indramayu yang justru suka berbaur dengan masyarakat sekitar.
Komunitas Suku Dayak di Indramayu ini biasa disebut Suku Dayak Losarang atau Suku Dayak Hindu Bumi Segandu Indramayu. Digagas dan dipimpin oleh Paheran Takmad Diningrat Gusti Alam, komunitas ini memiliki cara hidup yang cukup unik dan tidak biasa. Meski begitu, keseharian mereka bisa selaras dengan masyarakat umum yang ada di sekitarnya. Nah, berikut keseharian yang tidak biasa dari Komunitas Suku Dayak Indramayu.
1. Tidak Mau Terikat Aturan
Mempunyai aturan tersendiri dalam komunitasnya, anggota Suku Dayak Indramayu menolak terikat pada aturan di luar komunitasnya. Baik itu sesuatu yang diatur oleh agama maupu ketentuan yang berkaitan dengan hak dan kewajiban sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Keyakinan mereka dalam menjalani kehidupan sehari-hari adalah bahwa manusia berhak berkehendak sendiri.
2. Sangat Mengagungkan Kaum Perempuan
Layaknya memperlakukan putri dengan kemanjaan seperti di negeri dongeng, maka begitulah gambaran perempuan-perempuan di tengah Komunitas Suku Dayak Indramayu. Bagi kaum laki-kali komunitas ini, perempuan menempati posisi yang amat tinggi. Sehingga para lelakilah yang mengurus semua hal terkait kebutuhan rumah tangga. Mulai dari mencari nafkah, melakukan pekerjaan rumah seperti menyapu, memasak, dan memandikan anak , semuanya laki-laki yang mengerjakan. Perempuan hanya tahu beres saja. Intinya, mereka menganggap bahwa kaum laki-laki diharuskan mengabdikan seluruh hidupnya untuk berbakti kepada ibu, istri, serta anaknya.
3. Jarang sekali mandi
Merasa badan gerah, lengket, berkeringat, serta kotor dan perasaan tidak enak lainnya akan muncul jika orang pada umumnya tidak mandi seharian saja. Nah, uniknya Komunitas Suku Dayak Indramayu ini malah mengaku terbiasa dengan hal tersebut. Mereka terbiasa tidak mandi seminggu, sebulan, bahkan lebih. Kebiasaan mandinya pun berbeda dengan tata cara mandi orang pada umumnya.
4. Ritual Mepe
Mepe merupakan Bahasa Jawa yang berarti berjemur. Ritual ini tak lain adalah acara lanjutan dari prosesi kumkum yang telah dilakukan sebekumnya. Nantinya, peserta ritual akan menjemur dirinya di atas tanah sambil berbaring membentuk lingkaran dan menghadap matahari.
5. Tidak Memakan Daging
Anggota Komunitas Suku Dayak Indramayu tidak mengonsumsi daging dan hewan hidup lainnya. Hal ini didasarkan pada ajaran mereka untuk menghormati sesama makhluk hidup yang bernyawa dan bergerak.
6. Gaya Berbusana
Cara mudah mengenali Suku Dayak Indramayu adalah dengan melihat gayanya dalam berbusana. Anggota Suku Dayak Indramayu tulen, akan selalu mengenakan celana bercorak hitam dan putih. Kedua warna ini melambangkan alam yang menghadirkan siang dan malam. Mereka juga selalu bertelanjang dada, dan tidak menganut agama apapun. Sedangkan anggota biasa, adalah mereka yang masih menganut agama dan keyakinan masing-masing, biasa menggunakan pakaian serba hitam.
7. Rute Menuju Kawasan Komunitas Dayak Indramayu
Komunitas ini berada di Kampung Segandu, Desa Krimun Kecamatan Losarang Kabupaten Indramayu Provinsi Jawa Barat. Menuju lokasi ini bisa ditempuh dengan mengambil jalur sebelah kanan jalan by pass dari arah Jakarta ke Cirebon. Tempat ini tidak jauh dari Pantai Eretan Wetan. Memiliki markas yang biasa disebut pendopo, anda bisa datang dan tak perlu khawatir. Sebab, anggota komunitas ini terkenal ramah, dan terbuka meski kepada orang asing.

Waw, tidak mengira bukan ada komunitas di tengah masyarakat modern yang masih memilih tetap hidup secara tradisional? Lokasinya pun bukan di tengah masyarakat modern dan bukan daerah pedalaman. Jadi, anda tertarik melihat langsung?