Perkembangan dunia kedirgantaraan di Indonesia, tak lepas dari nama-nama besar seperti B.J Habibie, Nurtanio dan lainnnya. Namun, tak ada yang mengenal nama Suharto sebagai salah satu tokoh yang membidani lahirnya dunia penerbangan modern Indonesia. Bisa dibilang, sosoknya seolah telah tersisih dari pusaran sejarah kedirgantaraan.

Padahal, dirinya merupakan salah satu yang berjasa di balik serangkaian desain pesawat modern Indonesia. Di mana pada masa-masa itu bangsa ini tengah giat-giatnya membangun pondasi dunia penerbangannya. Seperti apa sosoknya? Simak ulasan berikut.

Sosok cerdas yang terinspirasi dari Nurtanio

Terinspirasi dari sosok Nurtanio [sumber gambar]
Dalam merancang pesawat, Suharto banyak terinspirasi dari sosok Nurtanio. Dilansir dari cnnindonesia.com, saat ia masih berkuliah di di Institut Teknologi Bandung pada tahun 1955, kerap mengamati Nurtanio dan timnya membuat pesawat pertama karya Indonesia yang seluruhnya terbuat dari logam, Sikumbang. Dari situlah, Suharto juga terinspirasi untuk membuat pesawat sejenis dengan versi yang lain.

Membuat pesawat berkode XT-400 bersama peneliti Lapan

Sosok XT-400 buatan Suharto [sumber gambar]
Idenya kemudian dituangkan dalam pembuatan XT-400, yang merupakan pesawat terbang pertama Indonesia yang dirancang oleh para peneliti Lapan tahun 1977-1978 melalui proyek Sainkon. Moda transportasi berjenis pesawat angkut ringan tersebut, dikembangkan sebagai perintis udara dengan kemampuan operasi di landasan pendek. Untuk itu, Suharto kemudian digandeng Departemen Riset dan Teknologi dan PT Chandra Dirgantara untuk dikembangkan. Sayang, seiring pergantian Menteri di akhir 1978, proyek Sainkon akhirnya dibatalkan.

Proyek besar Suharto yang akhirnya dihentikan pemerintah

Desain XT-400 yang akhirnya dihentikan pemerintah [sumber gambar]
Pada saat proyek berjalan, Suharto bersama peneliti ahli lainnya telah memasuki tahap pembuatan maket kayu berskala penuh (full-scale wooden mock-up) pada XT-400. Apa daya, Menristek yang saat itu dijabat oleh Habibie akhirnya menghentikan program tersebut dengan alasan yang unik. “Katanya membuat pesawat terbang itu sukar, maka harus oleh orang-orang yang ahli. Ya sudah, kami mau bagaimana lagi?” kata Suharto yang dikutip dari cnnindonesia.com.

Melanjutkan proyek pesawatnya yang lain

Peswat LT-200 yang proyeknya juga dihentikan pemerintah [sumber gambar]
Sebelumnya, Suharto yang juga merupakan lulusan Universitas Teknologi Braunschweig, Jerman itu, juga mengembangkan pesawat berkode LT-200. Dilansir dari cnnindonesia.com, LT-200 dibuat dengan memodifikasi design-kit Lasdilao Pazmany asal Amerika Serikat yang dibeli seharga US$200 dan royalti US$500. Sejatinya, Suharto telah berhasil menyelesaikan pesawat tersebut sebanyak empat buah dan masuk dalam tahap uji terbang. Sayang, nasibnya harus kandas seperti XT-400 yang juga distop pemerintah.

Namanya seolah hilang dari pusaran sejarah riset penerbangan Indonesia

Suharto Terlupakan dari Panggung Sejarah penerbangan Indonesia [sumber gambar]
Meski karyanya seperti XT-400 dan LT-200 distop oleh pemerintah, nama Suharto tetap akan dikenang oleh generasi Lapan di masa lalu sebagai salah satu jenius pesawat. Sumber dari cnnindonesia.com menuliskan, pemerhati penerbangan, Willem JP, menyebut Suharto sebagai man behind the history. Di mana kiprahnya sebagai perancang pesawat terbang di masa lalu, tak disorot oleh negara hingga tersisihkan dari sejarah kedirgantaraan tanah air.

BACA JUGA: Mengenal Nurtanio, Tentara AURI yang Ciptakan Pesawat Tempur Pertama Indonesia

Sejatinya, Indonesia tak pernah kekurangan talenta-talenta besar di bidang penerbangan. Mlai dari era tiga sahabat, Nurtanio-Wiweko-Salatun, B.J Habibie hingga Suharto sendiri. Sayang, karyanya harus dihentikan oleh pemerintah karena alasan tertentu. Dari kisah ini, setidaknya kita bisa tahu bahwa ada dari mereka yang berjasa di industri kedirgantaraan Indonesia. Meski namanya tak banyak dikenal dalam sejarah.