Unik Aneh

Mengenal Sky Burial, Ritual Pemakaman Langit di Tibet yang Cukup Ekstrem

Berbagai macam proses pemakaman di Indonesia dapat kita jumpai, mulai dari tradisi mengubur jenazah, membakar, hingga berbagai tradisi unik lainnya. Di Tibet, terdapat tradisi pemakaman yang tak kalah unik dengan yang ada di Indonesia, yaitu Sky Burial atau pemakaman langit.

Berbeda dengan yang ada di Indonesia, jenazah orang yang sudah meninggal tidak dikubur, melainkan diterbangkan ke langit. Mereka membiarkan jenazah tersebut dimakan oleh burung-burung pemakan bangkai, atau burung nasar. Hal ini dipercaya masyarakat sekitar, bahwa arwah orang yang telah meninggal tersebut pasti masuk surga. Berikut kisah unik dari Sky Burial tersebut.

Faktor geografis hingga kepercayaan

Pemakaman langit ini dilakukan oleh masyarakat provinsi Qinhai, Mongolia, Tibet, dan Mongolia Dalam. Hal itu dikarenakan Tibet memilik struktur geografis yang berbatu dan berbukit-bukit.  Hingga tidak memungkinkan untuk membuat lahan kuburan. Selain itu, kelangkaan bahan bakar dan kayu membuat jenazah tidak dapat dibakar. Namun, tidak semua jenazah dapat dimakamkan dengan tradisi ini. Ada beberapa syarat, seperti berumur 18 tahun ke atas, wanita yang sedang tidak hamil, dan mereka yang meninggal karena kecelakaan atau sakit tidak dapat melakukan ritual ini.

Prosesi pemakaman langit atau sky burial di Tibet [sumber gambar]
Ritual sakral ini masih dilakukan beberapa kuil Buddha saja, hal ini dikutip lansung dari situs resmi Drikung Kagyu Foundation, Drigung Monastery di Tibet. Bagi masyarakat Tibet, ritual ini juga disebut dengan Jhator, juga dipercaya membawa arwah mereka langsung masuk surga. Ritual ini diadaptasi dari salah satu Buddha bernama Sakyamuni. Diceritakan bahwa Sakyamuni menyelamatkan seekor elang dengan mengorbankan dagingnya sendiri.

Tata cara ritual sakral ini

Dalam melakukan ritual ini, jenazah akan dibiarkan selama 3 hari sebelum ritual pemakaman langit berlangsung. Biksu akan mengelilingi jenazah sambil berdoa. Kemudian, jenazah tersebut diposisikan sama seperti saat di dalam rahim sebelum dilahirkan dan dalam keadaan telanjang. Ritual pemakaman langit ini dilakukan sebelum fajar, jenazah yang sudah diposisikan tersebut akan dibawa menuju bukit.

Seorang petugas akan memotong-motong bagian tubuh jenazah untuk diberikan kepada burung pemakan bangkai [sumber gambar]
Setelah di atas bukit, jenazah akan disayat dan dipotong-potong kemudian disebar di tanah. Para burung pemakan bangkai akan berkerumun untuk memangsa potongan-potongan tersebut. Tak jarang juga mereka akan menghancurkan sisa tulang belulang yang masih ada menjadi bagian paling kecil, hingga dapat menjadi makanan bagi hewan kecil lainnya. Beberapa orang pun terkadang mengambil sisa tempurung kepalanya untuk dibawa pulang dan dijadikan sebagai tempat minum. Sedangkan sisa tulang yang lain dikumpulkan dan dirangkai hingga menyerupai nisan kecil untuk berziarah.

Burung nasar dipercaya sebagai reinkarnasi malaikat

Masyarakat Tibet mempercayai bahwa burung pemakan bangkai yang memakan jenazah tersebut merupakan reinkarnasi dari malaikat. Mereka pun menyebut hewan tersebut dengan nama Dakini, yang dipercaya datang untuk mengambil arwah dan mengantarkannya langsung ke surga. Arwah mereka menunggu untuk reinakrnasi dan dilahirkan kembali dalam kehidupan lainnya.

Masyarakat Tibet memepercayai bahwa burung nazar atau pemakan bangkai sebagai reinkarnasi dari malaikat [sumber gambar]
Ritual sakral dan suci ini dapat dilihat oleh para pengunjung di bukit setinggi 4.150 mdpl di dekat Kuil Drigung, Lhasa, Tibet. Prosesi pemakaman tersebut tidak dapat dilakukan oleh yang bukan merupakan keluarga mendiang. Tradisi pemakaman ini akan dilaksanakan bagi pemeluk ajaran agama Buddha Vajrayana. Mereka meyakini ritual tersebut juga dapat menolong nyawa burung  pemakan bangkai.

BACA JUGA: Negeri Vrindavan Berulah Lagi, Ini 4 Fakta Ritual Membangkitkan Orang Mati India yang Bikin Heboh

Walaupaun terlihat sangat unik dan cukup ekstrem, namun tradisi pemakaman langit ini sarat akan nilai agama dan budaya bagi penganutnya. Tibet merupakan salah satu negara yang memegang tradisi pemakaman ini turun temurun sejak dahulu kala.

Share
Published by
Terry

Recent Posts

Statemen Arra Bocah Viral Dianggap Menyinggung Pekerja Pabrik, Ortu Dikritik Netizen dan Psikolog

Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…

1 week ago

Profil Fedi Nuril, Sang Aktor yang Gencar Kritik Pemerintah dan Pejabat Publik

Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…

1 week ago

Kontroversi RUU TNI yang Mendapat Penolakan Masyarakat

Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…

2 weeks ago

Indonesia Airlines, Maskapai Indo tapi Memilih Berpusat di Singapura

Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…

2 weeks ago

Kasus Pencabulan oleh Kapolres Ngada, Akhirnya Pelaku Dimutasi

Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…

3 weeks ago

Terkuaknya Skandal Aktor Termahal Korea Selatan, Netizen: Hindari Pria Korea

Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…

3 weeks ago