Negara komunis Kuba yang berada di kawasan Amerika Selatan, menjadi salah satu wilayah latin yang mayoritas rakyatnya bebas buta huruf. Hal ini bukanlah isapan jempol belaka. Meski pendapatan perkapitanya berada di bawah negara Amerika Selatan lainnya, toh hal tersebut tidak mematahkan semangat rakyat Kuba untuk berbenah diri pada sektor pendidikan.

Embargo militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat selama bertahun-tahun, membuat negeri penghasil cerutu tersebut semakin kreatif untuk mengubah masa depan negaranya. Lewat terobosan sistem pendidikan, Kuba sukses memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya melalui pendidikan yang bermutu. Selain itu, ada banyak ”inovasi” yang dilakukan pemerintah Kuba hingga menuai pujian dari PPB melalui UNESCO.

Terobosan pendidikan itu bernama “Yo Si Puedo”

Ya, saya bisa! [image source]
Jika diartikan, makna dari “Yo Si Puedo” adalah “ya, saya bisa!”. Metode sakti inilah yang digunakan pemerintah Kuba untuk memperbaiki dan memajukan sistem pendidikan di Negaranya. Hasil penelitian PBB menyatakan, orang yang berusia 17 hingga 24 tahun, dinyatakan 100% bebas buta huruf. Sedangkan untuk tingkat melek huruf orang dewasa mencapai 99,8%. Tak salah jika sistem ini kemudian diadopsi oleh lebih dari 30 Negara dunia, termasuk Australia dan Timor Leste.

Semua institusi pendidikan “Tunduk” di bawah negara

Sistem yang tunduk pada negara [image source]
Demi memberikan akses pendidikan yang merata, pada tahun 1961, Pemerintah Revolusioner Kuba melakukan gerakan “Nasionalisasi” kepada seluruh lembaga pendidikan swasta di Kuba. Langkah ini dilakukan agar sistem pendidikan yang berjalan, dapat dikontrol sepenuhnya oleh negara. Terbukti, di saat yang bersamaan, Negara langsung membebaskan semua biaya pendidikan alias gratis untuk semua jenjang pendidikan. Kalo Indonesia gimana ya?

Meningkatkan pertumbuhan jumlah guru dan universitas

Jumlah guru ditingkatkan [image source]
Sebelum meletusnya gerakan revolusi Kuba pada tahun 1959, jumlah universitas di Kuba hanya berjumlah tiga institusi. Mirisnya, ketiga universitas tersebut “dipaksa” untuk menampung 15 ribu mahasiswa. Setelah revolusi bergulir, pemerintah mulai membangun 5000 sekolah baru dan menambah jumah guru di tahun pertama. Hasilnya, ada sekitar 300 ribu anak yang bisa mengenyam pendidkan untuk pertama kalinya.

Tidak ada pendidikan swasta, semuanya ‘negeri’

Pendidikan dipegang oleh “Negara” [image source]
Salah saru rahasia sukes Kuba memajukan pendidikanya adalah, melakukan “sentralisasi” pendidikan yang langsung dibawah negara. Siswa pun digratiskan dari segala macam bentuk biaya pendidikan, Bahkan peralatan seperti buku, pensil dan pulpen, diberikan secara cuma-cuma oleh Negara. Yang menarik, jika siswa sedang sakit maupun cacat sehingga tidak mampu ke sekolah, sejumlah guru akan diutus untuk mengajar di rumah anak-anak tersebut.

Pelajar dan mahasiswa dilatih untuk berorganisasi

Organisasi jadi hal utama di sekolah [image source]
Tidak seperti Negara komunis lain yang mempersempit ruang gerak rakyatnya, Kuba justu mendorong penduduknya, terutama pelajar dan mahasiswa untuk berorganisasi. Pelajar dari tingkat 1 hingga 9, diwadahi oleh organisasi yang bernama Pioneros. Sedangkan pelajar tingkat menengah dan perguruan tinggi disebut FEMEN. Organisasi ini berperan aktif dan mempunyai andil besar bagi kemajuan pendidikan yang ada hubungannya dengan studi mereka.

Kegiatan belajar yang efektif dengan jumlah siswa sedikit

Siswa sedikit lebih konsentrasi [image source]
Sistem pendidikan di Kuba memberlakukan proporsi yang ketat mengenai jumlah siswa yang belajar pada tiap ruang kelas. Sebanyak 88% ruang di kelas, maksimal diisi oleh 20 siswa. Jika lebih, maka kelas tersebut akan diajar oleh dua orang guru. Untuk hal ini, setiap guru tersebut diharuskan mempunyai kualifikasi yang mumpuni di semua bidang mata pelajaran, kecuali ilmu seni, bahasa asing dan lainnya.

Apa pun yang terjadi, tetap konsisten di angka 6,7 persen

Tetap di angka 6,7 persen [image source]
Sejarah Kuba yang telah mengalami carut marut politik dan rangkaian aksi militer, tidak mengubah pandangannya mengenai anggaran pendidikan yang disisihkan dari anggaran GNP-nya tahun ke tahun. Meski Uni Soviet yang menjadi “induk” selama puluhan tahun telah runtuh di tahun 1990, Kuba konsisten mengucurkan 6,7 % dari GNP-nya untuk pendidikan. Meskipun terancam perang, pemerintah bahkan rela memangkas anggaran militernya untuk dialokasikan pada sektor pendidikan. Mulia banget ya pemerintah Kuba.

Siaran televisi yang jarang diisi dengan hiburan

Banyak acara pendidikan ketimbang hiburan [image source]
Keberhasilan Kuba dalam meningkatkan mutu pendidikannya ternyata tak lepas dari industri per-televisiannya. Pada tahun 2000 silam, Pemerintah Kuba menyiarkan program kerjasama televisi pendidikan dengan menggandeng sejumlah universitas. Media televisi Kuba mengalokasikan 394 jam untuk siaran pendidikan setiap minggunya. 2 dari 5 stasiun televisi di Kuba, didedikasikan untuk siaran pendidikan. Dengan Begini, Jutaan rakyat Kuba bisa belajar melalui televisi setiap harinya.

Dirikan sekolah pendidikan dokter gratis

Gratiskan sekolah kedokteran [image source]
Sejak 1999, pemerintah Kuba mendirikan sekolah dokter internasional yang bernama Sekolah Kedokteran Amerika Latin (ELAM). Sekolah ini telah memberikan fasilitas pendidikan di bidang kesehatan kepada lebih dari 24.000 siswa. Semua siswa tersebut datang dari Negara-negara seperti Afrika, Amerika Latin, Asia dan Oseania. Bahkan siswa dari Amerika Serikat sendiri bisa masuk di institusi tersebut. Semua biaya pendidikan ditanggung oleh pemerintah Kuba.

Emansipasi dan menghargai kiprah perempuan

Banyak lulusan cewek mblo [image source]
Pemerintah Kuba ternyata tidak mengesampingkan peran wanita dalam lingkup Negaranya. Sebanyak 65% pekerja profesional dan teknisi Kuba adalah perempuan, 51% peneliti ilmiah Kuba adalah perempuan. Dan 72% dokter Kuba adalah perempuan. Bahkan pada tahun 2002, 62% lulusan universitas di Kuba adalah perempuan.

Buku gratis dan sering adakan pameran buku skala internasional

Pameran buku di kuba [image source]
Buku adalah Jendela Dunia. Ungkapan sederhana ini rupanya diterapkan dengan baik oleh Kuba. Agar pendidikan tersebar merata di masyarakat, pemerintah membuat lembaga penerbitan sebanyak-banyaknya. Hal ini dilakukan untuk memenuhi ketersediaan buku dengan harga murah dan bahkan gratis. Pada 2013 silam, pemerintah Kuba mengadakan International Book Fair yang melibatkan 37 Negara, 390 Penulis dan 5 Juta buku yang beredar.

Tak Disangka, Kuba yang dulunya dikenal sebagai negara Komunis yang cukup “tertutup” dari negara lainnya, ternyata mampu mensejahterakan rakyatnya melalui “terobosan” pendidikan yang dilakukannya. Hal ini bisa menjadi sebuah contoh positif sekaligus sebagai bahan renungan, bagaimana Negara yang dulunya begitu “kecil” dan diremehkan, bisa menjelma menjadi Negara tangguh dengan sistem pendidikan yang maju.