Setiap kisah dan sejarah pasti punya dua sisi cerita, dari orang yang mengalami kecelakaan dan mereka yang menjadi saksi. Begitulah dengan cerita Tragedi Bintaro. Sebelumnya Boombastis.com sudah pernah mengulas tentang kisah ini, hanya dari sudut pandang Pak Slamet Suradio –masinis KA 225, saja. Lengkapnya bisa kalian baca di sini ya.

Nah, kali ini kita akan mengulas lebih lanjut tentang cerita dari sudut pandang Slamet Suradio dan juga saksi yang ketika itu membantu proses evakuasi korban. Cerita kita kali ini bersumber dari wawancara yang dilakukan oleh tim Kisah Tanah Jawa dan anal YouTube Prasetya Atyanto. Selamat mendengarkan.

Mengapa dua kereta bisa bertabrakan?

Ketika diwawancarai oleh tim Kisah Tanah Jawa, Pak Slamet menceritakan dengan detail tentang kejadian yang menimpa dua kereta di Senin pagi, 19 Oktober 1987 silam. Saat itu, dirinya sebagai masinis dari KA 225 rute Rangkasbitung-Tanah Abang (Jakarta Kota). Kereta tersebut dijadwalkan berangkat pukul 5.10 pagi. Di Stasiun Sudimara, kereta tersebut seharusnya bersilang (berlintasan) dengan KA 220.

Namun, dari pihak PPKA (Pengatur Perjalanan Kereta Api) membatalkan hal tersebut. Slamet diberikan PTP (Pemberitahuan Tentang Persilangan), yang awalnya persilangan di Sudimara, kini pindah ke Kebayoran. Di Sudimara ini pun Slamet tetap menunggu perintah dari PPKA untuk berangkat. Di sini Mbah Slamet mengatakan kalau kebanyakan orang mengatakan kalau dirinya berangkat sendiri tanpa perintah, hal tersebut dapat dipastikan bohong. Kereta akhirnya berangkat dari Sudimara dengan semboyan 40* dan 41* tanda kereta siap berangkat. Slamet pun memberi semboyan 35* (klakson lokomotif) dan kereta berangkat ke Kebayoran.

Tabrakan yang terjadi dan memakan ratusan korban jiwa

Setelah kereta berjalan sesaat, Slamet juga tak melihat adanya tanda-tanda sinyal dari mekanik yang menandakan adanya bahaya. Oleh karenanya, Slamet menambah kecepatan laju kereta. Tak berselang lama, dari arah yang berlawanan, KA 220 datang dari arah Kebayoran dan siap menerjang KA 225. Karena kaget, Slamet sempat menarik rem bahaya, namun karena jarak sudah terlalu dekat, rem tersebut sudah tak lagi ada fungsinya, sehingga terjadi tabrakan maut itu. Slamet sendiri mengatakan kalau KA 225 ditabrak oleh KA 220.

Tragedi Bintaro [sumber gambar]
Slamet sendiri terpental di dalam lokomotif. Wajahnya tertabrak ke kaca. Untuk keluar dari kereta itu sendiri, Slamet keluar dari jendela yang sudah pecah dengan cara menjatuhkan diri. Setelahnya, Slamet ditolong oleh seorang perempuan dengan mobil dan dibawa ke RS Pelni. Karena RS tersebut penuh akhirnya ia dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo. Menurut cerita Slamet di kanal Youtube Prasetya Atyanto, ia menjalankan perrawatan selama kurang lebih 3 bulan. Adapun dirinya retak tulang tungkai dan juga matanya yang penuh dengan serbukan kaca.

BACA JUGA: Mengenang Dahsyatnya Tragedi Bintaro, Kecelakaan Kereta Paling Tragis dalam Sejarah Indonesia

Nah, untuk cerita kali ini, Boombastis.com akan membagi menjadi 2 part ya, guys. Sebelumnya, untuk istilah-istilah yang sudah kita kasih bintang bisa kalian baca di bawah. Notes ini juga Boombastis.com ambil dari YouTube Kisah Tanah Jawa yang mengangkat cerita ini.

Istilah yang ada di dalam ulasan: 

PPKA: Pengatur Perjalanan Kereta Api, Petugas yang bertanggungjawab untuk mengatur dan melakukan segala tindakan untuk menjamin keselamatan dan ketertiban yang berkaitan dengan urusan perjalanan kereta api dan langsir di stasiunnya.

Semboyan 40: Isyarat pemberangkatan kereta api dari PPKA, Sebagai izin dari PPKA kepada kondektur, masinis, dan asisten masinis untuk memberangkatkan kereta api. (Papan bundar hijau yang di bawa PPKA dan dihadapkan ke masinis serta kondektur sebagai izin berangkat)

Semboyan 41: Isyarat Kereta api siap berangkat, Kondektur akan memberikan perintah kepada masinis, bahwa kereta api penumpang siap untuk diberangkatkan. (Suara peluit panjang dari kondektur)

Semboyan 35: Tanda minta perhatian, yaitu berupa suara dari suling/klakson lokomotif.

Untuk oart dua silakan baca di sini, ya guys.