Belakangan ini OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) dan MOS (Masa Orientasi Siswa) di Indonesia, jadi sorotan yang penuh pro dan kontra. Wajar sih, kepercayaan masyarakat menipis sejak kasus OSPEK yang makan korban mulai bermunculan. Padahal para orang tua hanya ingin anaknya sekolah tinggi dan mendapatkan bekal untuk masa depan yang lebih baik.
Tapi yakin deh, masih ada sebagian besar di antara kita, pernah melihat sisi lain OSPEK dan MOS di Indonesia yang belakangan bisa bikin parno banyak calon siswa/mahasiswa baru dan para orang tua ini. Apa saja sih? Coba intip dulu yang berikut ini sambil agak bernostalgia.
Berangkat pagi buta, dibentak-bentak karena telat, disuruh pake atribut aneh-aneh dan malu-maluin sambil dijemur di tengah lapangan panas, itulah stereotip dari masa orientasi yang sering kita alami. Beberapa tahun lalu, belum ada yang bersuara tentang MOS dan OSPEK meski harus menjalani banyak syarat yang konyol. Tapi belakangan, banyak yang bilang orientasi dengan cara seperti ini nggak berguna sama sekali.
Pernah nggak, gara-gara dihukum bareng sama peserta OSPEK lain, kita malah dapet teman baru dan akrab dengan mereka? Orientasi kita memang konyol dan malu-maluin, apalagi kalo udah ketauan salah dan dihukum di depan umum.
Dalam masa orientasi, pasti ada kakak yang baik, kakak yang galak, kakak yang religius dan sebagainya. Intinya ada kakak-kakak OSPEK yang meninggalkan kesan tersendiri di hati. Sampe-sampe ada momen untuk polling atau nulis surat buat ‘Kakak Ter-..’ di setiap kali menjelang masa orientasi berakhir. Nggak semua kakak yang judesnya setengah mati itu dibenci, karena ternyata itu hanya akting. Dan di luar itu, selepas OSPEK ternyata mereka mempesona banget.
Karena waktu OSPEK dan MOS, sepersekian harga diri kita agak ditanggalkan. Maksudnya kita nggak bisa gengsi melakukan aksi yang aneh, pakai baju yang nggak biasa, sampai menjalani hukuman yang malu-maluin.
Waktu OSPEK, kita pasti diminta bawa yang aneh-aneh. Makanan yang dikode-kodein seperti sayur yang dalam bahaya (sayur trancam), atau benda-benda yang penuh teka-teki dan ‘mendadak dangdut’ banget nyarinya.
Itulah beberapa sisi lain MOS dan OSPEK yang belakangan mulai pudar esensinya. Masa orientasi hanyalah sarana yang punya tujuan baik di awalnya. Tapi bagaimana cara-cara yang digunakan di lapangan, adalah yang menentukan kesungguhan dari masa orientasi itu sendiri. Apa hanya jadi ajang marah-marah balas dendam oleh kakak tingkat? Atau perploncoan bagi mahasiswa baru? Sesungguhnya kita juga tahu, bahwa masa orientasi juga ‘tidak sebercanda itu’.
MOS dan OSPEK sebenarnya tetap perlu. Hanya saja, masa orientasi seperti apa yang sebenarnya kita perlukan untuk benar-benar menyiapkan peserta didik yang baru? Ini yang masih menjadi PR di Indonesia.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…