Komoditas berupa minyak bumi memang banyak menjadi salah hal utama yang diperlukan banyak negara. Tak terkecuali Indonesia, tanah air bahkan harus melakukan impor guna memenuhi konsumsi dalam negeri. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menuliskan, nilai impor migas RI mencapai US$ 17,617 miliar atau Rp 246,6 triliun.

Sedemikian besarnya angka tersebut, jelas minyak menjadi salah satu komoditas yang sangat dibutuhkan. Meski demikian, ada banyak hal yang menjadi sisi lain dari benda yang dijuluki ’emas hitam’ tersebut. Mulai dari kepentingan politik negara-negara besar dunia, monopoli pasar, hingga menjadi pemicu adanya konflik bersenjata yang berujung peperangan.

Perang pecah gara-gara perebutan ladang minyak di Suriah

Mungkin bagi masyarakat awam, perang yang terjadi di Suriah dianggap sebagai konflik sektarian yang melibatkan kepercayaan tertentu. Namun di balik itu semua, ada sebuah tujuan besar yang tak lain adalah perebutan sumber daya minyak yang ada di negara tersebut. Hal ini sendiri diakui secara gamblang oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Kebijakan militer AS atas restu dari Trump itu bertujuan untuk ‘mengamankan’ ladang minyak Suriah. Bahkan menurut laporan New York Times, (27/10/2019) menuliskan, ia ingin agar penjualan minyak di Irak bisa digunakan AS untuk membiayai konflik yang ada. “Kami telah mengamankan minyak. “Saya selalu selalu, jika Anda masuk – simpan minyaknya (Irak). “Hal yang sama di sini (Suriah): Simpan minyak.” ucap Trump yang dikutip dari Dunia.tempo.co (27/10/2019).

Kenaikan harga minyak dipengaruhi oleh peristiwa di antara negara-negara besar dunia

Naik turunnya harga minyak juga dipengaruhi oleh serangkaian peristiwa besar yang terjadi antar beberapa negara besar dunia. Rata-rata mereka merupakan pemain kunci sebagai penghasil minyak dunia. Perselisihan yang sarat dengan muatan politis antara Iran dan Amerika Serikat adalah salah satu contohnya.

Petugas keamanan di instalasi minyak di Dohuq, Irak [sumber gambar]
Hal ini terjadi setelah AS membunuh Jenderal Iran Qassem Soleimani di Irak beberapa waktu lalu. Tak hanya itu, penyerangan kilang minyak mentah di Arab Saudi dengan pesawat nirawak (drone), juga membuat harga pasaran minyak dunia ikut melonjak. Meski hanya melibatkan beberapa negara, imbasnya dirasakan seluruh dunia.

Kuatnya posisi Arab Saudi yang membuat AS dan Eropa ‘tak berdaya’

Arab Saudi menjadi salah satu produsen minyak besar di kawasan Timur Tengah yang pengaruhnya membuat dunia Barat segan. Menurut data organisasi negara-negara produsen minyak (OPEC), negeri berbentuk kerajaan itu memiliki sekitar 18% cadangan minyak dunia dan merupakan eksportir minyak terbesar.

Jelas, pengaruhnya dirasakan sangat kuat oleh pihak Barat dan sekutunya di Eropa. Turki Aldakhil, manajer Al Arabiya -stasiun televisi yang dimiliki pemerintah Saudi- mengatakan, negaranya bisa dengan mudah mengurangi produksi minyak jika pihak Barat berulah. Jelas, nilai tawar ini membuat AS dan negara Eropa lainnya tak berdaya.

Siapa yang menjadi penguasa minyak dunia yang sesungguhnya

Meski menjadi salah satu pemain minyak utama di dunia, Arab Saudi bukanlah penguasa emas hitam sesungguhnya. Jika ditarik ke belakang, ada keluarga Rockefeller yang sejatinya telah menjadi pemain minyak utama secara global lewat perusahaannya, Standard Oil, yang kini telah dipecah menjadi beberapa bagian.

Robert Alan Goldberg, profesor sejarah di Universitas Utah dalam sebuah bukunya yang berjudul Enemies Within: The Culture of Conspiracy in Modern America (2001) menuliskan, bagaimana keluarga Rockefeller melakukan konspirasi yang mengontrol AS di balik layar lewat panggung politik, guna menguasai ladang minyak di Timur Tengah.

BACA JUGA: Gara-Gara Minyak Bumi, 5 Perang Besar Ini Muncul dan Memakan Jutaan Nyawa

Ada banyak hal soal minyak bumi yang mungkin tak diketahui oleh masyarakat kebanyakan. Mulai dari motif politis, birokrasi, hingga adanya oknum-oknum tertentu yang memainkan peranan besar terhadap minyak dunia, menjadi dinamika di balik naik turunnya harga komoditas berjuluk ’emas hitam’ tersebut.