Gagal juara menjadi sebuah takdir yang harus diterima Kroasia di final Piala Dunia 2018 kemarin. Hasil yang sebenarnya juga mempertegas bagaimana dominasi tim Perancis di ajang tersebut kepada mereka. Namun kegagalan itu nyatanya tidak diratapi terlalu dalam oleh Luka Modric dan kawan-kawan. Kendati tetap ada kecewa, namun mereka masih bisa tersenyum. Bandingkan saja dengan Lionel Messi yang kalah di fase yang sama lima tahun lalu, frustasi, luka, dan beban menjadi satu di dirinya.

Kembali soal Kroasia, gestur yang dipertontonkan kemarin adalah bukti apabila mereka telah memainkan sepak bola dengan maksimal. Toh, mau kalah atau menang olahraga ini adalah nyawa kedua untuk negara yang jumlah penduduknya tidak lebih dari seperempat Indonesia itu.

Sebelum berdiri sebagai sebuah negara di Benua Biru, Kroasia adalah salah satu gabungan dari banyak negara Eropa Timur bernama Yugoslavia. Namun, setelah meninggalnya pemersatu mereka yakni Josef Broz Tito perlahan percik-percik perpecahan mulai muncul.

Perang Balkan [Sumber Gambar]
Nyala api kian panas saat tahun 1987 kala Slobodon Milosevic mendukung Serbia untuk mendirikan sebuah otonom. Hak yang membuat negara tersebut berkuasa dan memiliki wewenang untuk melakukan segala sesuatu. Dan betul saja setelah berjalan waktu dengan diangkatnya Slobodon Milosevic jadi presiden Serbia. Perang pun pecah, Kroasia, Bosnia dan Kosovo dilanda sebuah pertumpahan darah. Hingga membuat sang pemimpin tadi menjadi penjahat perang paling ganas abad 20.

Kroasia di Piala Dunia 1998 [Sumber Gambar]
Kejadian memilukan dan sadis tersebut juga dirasakan oleh beberapa punggawa Kroasia di Final Piala Dunia 2018 beberapa waktu lalu. Seperti salah satunya adalah Luka Modric yang harus berjuang hidup serta merelakan kakek dan ayahnya meninggalkan lantaran perang tersebut.

Namun seperti seruan kiai yang mengatakan apabila tuhan selalu memberikan pertolongan untuk umatnya. Hal tersebut nyatanya terjadi, kala Franjo Tudjiman membawa gagasan akan sepak bola yang membawa identitas untuk negara. Dibantu Zvonir Boban mereka gunakan olahraga ini untuk bersatu padu menggulung kesewenangan.

Aksi Luka Modric [Sumber Gambar]
Setelah hal tersebut, mereka berdua seperti bekerja di dua meja yang berbeda yakni Franjo Tudjiman di luar lapangan. Sedangkan Zvonir Boban di atas rumput lapangan hijau. Puncaknya adalah kala Franjo Tudjiman menjadi seorang Presiden pertama negara Kroasia. Sepak bola seperti cahaya yang menerangi seluruh warga sana.

BACA JUGA: Seperti Semut Membunuh Gajah, 5 Timnas Negara Kecil Ini Sukses Kalahkan Tim Raksasa

Dihadapkan kedua orang itu olahraga ini dipermak hingga menjadi sebuah medium kebangkitan Kroasia dari rasa sakit Perang Balkan. Lapangan-lapangan didirikan sepak bola di revolusi sedemikian rupa supana benar-benar bisa membentuk seperti yang Tudjiman katakan. Dan terbukti kini setelah 20 kelolosan mereka ke semifinal Piala Dunia 1998, Kroasia kembali ke puncak ajang tersebut. Siapa yang menyangka, sepak bola juga bisa membawa hal-hal luar biasa seperti ini.